Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #32

31. Kejutan yang Indah

31. KEJUTAN YANG INDAH

 

“Rinai, jangan pergi!”

“Aku tak bisa bersamamu lagi, Ibra. Aku sudah sangat sakit hati. Aku harus pergi.”

“Jangan, Rinai. Biarkan aku menjelaskan semuanya.”

“Tidak perlu, Ibra. Aku tahu bahwa sampai detik ini, di hatimu masih tersimpan nama Reysa. Kamu menganggapku hanya pelampiasan saja selama pernikahan kita.”

“Tidak, Rinai. Kamu sudah salah paham. Aku minta maaf karena membuatmu salah paham. Aku tak pernah bermaksud menyakitimu, Sayang. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi. Kembalilah padaku.”

“Sudahlah. Aku lelah, Ibra. Biarkan aku pergi. Meski aku terluka sekarang, tetapi aku tak pernah menyesali pernikahan kita. Selamanya kamu adalah kekasihku.”

“Kumohon, Rinai. Jangan begitu.”

“Selamat tinggal, Ibra. Jaga dirimu baik-baik.”

“Tidak, Rinai. TIdak ....”

“Sayang, kamu mimpi buruk?” Sebuah tangan mulus mengusap lembut tanganku begitu aku tersadar dari mimpi yang bagiku terasa begitu mengerikan. Aku mengerjap pelan saat tangan wanita itu menyentuh pelipisku yang basah karena keringat. “Kamu mimpi apa?” tanyanya penuh perhatian.

“Sayang ... ini nyata?” Aku malah balik bertanya dengan ragu.

Aku bisa melihat kalau wanita itu menarik kedua ujung bibirnya dan memberiku sebuah senyuman yang manis, tetapi disertai tetesan air hujan yang membasahi pipinya. Sungguh, senyuman itu adalah senyuman yang begitu aku rindukan selama tiga bulan ini. “Tentu. Syukurlah kamu sudah sadar,” ungkapnya jujur, “ada yang kamu rasakan? Mana yang sakit?” tanyanya lagi.

Perlahan aku mengingat kembali apa yang sudah terjadi padaku. Sebelumnya, aku tengah berlari untuk menghampiri Rinai saat aku menyusulnya karena tidak ingin dia salah paham lebih jauh. Namun, tiba-tiba sesuatu menabrak—atau mungkin menyerempet—tubuhku dari samping hingga aku terjatuh dan merasakan sakit yang cukup luar biasa.

“Badanku agak ngilu. Keadaanku bagaimana? Berapa lama aku pingsan?” jawabku sambil masih terus menatap matanya yang digenangi hujan.

“Beberapa jam. Kata dokter, tidak ada luka serius. Hanya saja, dokter tadi sudah melakukan pengecekan, hasilnya ada yang baru bisa dilihat satu dua jam lagi. Kalau memang dari hasilnya nanti semuanya oke, kamu sudah bisa pulang sore ini kalau mau,” paparnya. Lalu, kemudian terdengar isak dari bibirnya.

Tak tahan melihat wanita itu menderaikan hujan dari mata indahnya, aku menarik sedikit bahunya agar mendekat ke arahku. Ia menurut dan aku menghapus jejak gerimis di wajahnya. “Kenapa kamu menangis?” Aku menahan untuk tidak meringis menyadari bahwa di tanganku terpasang selang infus.

Rinai masih terisak. “Maafkan aku, Sayang. Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak egois, mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini.”

Lihat selengkapnya