Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #33

32. Terima Kasih, Hujan

32. TERIMA KASIH, HUJAN

 

“Hujan, apa kabar? Baik-baik di perut Bunda, ya. Ayah sayang kamu. Sehat-sehat, ya, Sayang. Ayah nggak sabar pengin kumpul sama kamu, sama bunda kamu juga.” Aku mengecup perut Rinai setelah berbicara dengan jabang bayi yang ada di rahimnya.

“Kenapa Hujan?” tanya istriku sambil mengerutkan kening.

Aku beringsut mengambil posisi di samping Rinai, memeluk tubuhnya. Apa yang aku rindukan akhirnya telah tertunaikan. Semua yang kudamba bisa kuraih dalam sekali pengarungan yang membawa kami menuju ibadah paling indah di antara sepasang kekasih halal.

Tiga hari sejak kecelakaan itu, kondisiku sudah sangat pulih. Terlebih, aku sudah pulang sejak kemarin lalu. Hanya ada sisa luka di dahi dan sikutku.

Malam ini, Rinai tak ragu mempersembahkan dirinya untukku. Meski aku khawatir kandungannya akan terganggu, tetapi ia meyakinkanku jika usia kehamilannya sudah bisa dikatakan aman untuk kami melakukannya. Aku menyambutnya dengan sejuta bahagia di dada.

“Karena hujan membawa peran penting dalam kisah kita, Sayang. Aku ingin, baik perempuan atau laki-laki, ada unsur Hujan dalam nama anak kita nanti, insya Allah. Seperti nama kamu.”

Rinai mengeratkan pelukan sambil menengadahkan kepala. Dia tersenyum, lalu mengangguk. “Aku setuju. Hujan sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan cinta kita.”

Itu benar. Berkali-kali hujan menjadi saksi pertemuan atau bahkan kebersamaan aku dan wanitaku. Nama Rinai pun ada kaitannya dengan hujan. Pun, baik aku dan Rinai belajar saling mencintai seperti hujan yang tak pernah mengharap balasan. Rela jatuh bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena dia tengah menjalankan perintah Allah untuk menebarkan cinta-Nya.

Bukankah, setiap tetes hujan adalah anugerah dari Allah dan bukti bahwa Dia menyayangi makhluk-Nya tanpa tapi, tanpa kecuali? Dan hujan, takkan pernah merasa sakit menjalankan titah-Nya itu.

Begitu pula kami yang memaknai cinta kami sekarang. Bukan hanya perkara ingin, tapi kami belajar menjadi hamba-Nya yang bertakwa dengan memelihara anugerah cinta ini dan senantiasa rela berkorban untuk yang kami cinta.

Aku tak tahu, bagaimana jadinya hidupku jika Allah tak menakdirkan Rinai menjadi istriku? Akankah aku merasakan kebahagiaan seperti ini? Akankah aku merasa utuh tanpa cintanya? Akankah aku bisa melihat bagaimana wujud keluarga yang diinginkan banyak orang yang ternyata bisa aku dapatkan karena menikahinya?

"Sayang, kamu nggak perlu repot-repot membangun rumah hanya karena aku pernah bilang lebih suka tinggal di rumah ketimbang di apartemen." Rinai bersikeras menolak awalnya ketika aku mengatakan bahwa dia bisa mulai mencari inspirasi untuk rumah impiannya.

"Nggak ada yang repot buat kamu, buat anak kita. Aku akan mengusahakan apa pun yang kamu impikan. Segala yang aku perjuangkan selama ini, aku bahagia karena ternyata kini ada yang menikmatinya selain diriku sendiri, dan juga keluargaku di desa sana. Kini, kamu dan anak kita adalah salah satu alasan dari Allah agar aku selalu semangat bekerja."

Dia akhirnya menurut dan tak lagi menolak. Wanita itu menghadiahiku ciuman bertubi-tubi selain ungkapan terima kasih yang terdengar begitu tulus.

Lihat selengkapnya