Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #34

33. Mencintaimu Laksana Hujan

33. MENCINTAIMU LAKSANA HUJAN


Ilustrasi pertama.

Seorang gadis tengah duduk di depan gedung rektorat sebuah kampus dengan ramai lalu lalang orang di sekitarnya. Gadis dengan rambut panjang diikat satu yang sedang mengenakan setelan kemeja lengan pendek berwarna putih dan rok hitam sebetis itu menjadi pusat utama di dalam ilustrasi itu. Gadis itu tengah mengelap keringat di dahinya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengibas di sisi wajah.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

Kenapa kamu sendirian? Kamu membuatku ingin menemani dan menjagamu.

***

Ilustrasi kedua.

Masih dengan latar gedung rektorat kampus, lalu lalang orang, tapi kali ini gadis berambut diikat satu itu tengah menunduk sambil meraih sebuah saputangan abu-abu dari tangan seorang pemuda di sisinya. Pemuda itu mengenakan kemeja putih pendek dan celana hitam panjang dan tengah menyodorkan sebuah tumbler biru muda.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

Siapa kamu? Kenapa kamu tak mau menatapku? Lain kali, aku akan berkenalan denganmu dan menjadi temanmu.

***

Ilustrasi ketiga.

Berlatar sebuah kantin kampus, tepatnya di depan sebuah showcase berisi beragam minuman dingin. Berdiri di sana seorang pemuda dengan kemeja pendek merah marun dan celana denim hitam tengah menyodorkan satu botol minuman dingin pada seorang gadis berambut panjang digerai yang mengenakan midi dress hijau tua dengan corak polka putih. Si gadis tengah menerima sebuah botol minuman dingin dari pemuda di sampingnya.

Tulisan di halaman samping ilustrasi:

Rasanya kamu tak asing di mataku. Tapi siapa kamu yang membuatku mengalah untuk memberikan minuman terakhir itu padamu?

***

Ilustrasi kesepuluh.

Di depan sebuah gedung fakultas yang sepi, suasana senja hari yang mendung dengan rintik hujan yang menetes dari bagian atas gedung, juga di bagian depannya. Berdiri di dekat pintu gedung itu satu orang pemuda dengan kaus panjang berwarna sage dan celana panjang khaki, serta satu orang gadis dengan berambut panjang setengah diikat, setengah digerai. Gadis itu mengenakan kemeja biru tua berlengan panjang dengan celana denim biru. Keduanya saling memandang, berjabat tangan dan melemparkan senyuman.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

Percakapan dan perkenalan pertama kita.

"Kamu lihat temanku? Emh, maksudnya cewek yang selalu denganku?" Aku memulai percakapan karena untuk beberapa saat, kita hanya saling diam menyaksikan air hujan.

"Reysa?" tebakmu. Meski beda kelas, nyatanya kamu mengenalnya. Aku langsung mengangguk. Lantas, kamu menggeleng setelahnya.

"Ngomong-ngomong, kamu dari kelas 1D, kan?" Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Kamu mengangguk dan aku mengulurkan tangan sambil menatapmu dengan senyuman. "Aku Ibra. Kamu?"

Kamu meraih tanganku, menyalaminya. Dan seingatku, itu kali pertama kamu balas menatapku dan tersenyum lama setelahnya. "Aku ... Rinai." Nama yang indah, karena sungguh, nyatanya itu nama yang tak mudah dilupakan oleh ingatanku.

***

Ilustrasi kelima belas.

Seorang gadis tengah duduk sendiri di sebuah kursi di dalam kantin kampus. Di depannya ada meja dengan satu mangkuk baso dan segelas es jeruk. Dari sudut kantin, seorang pemuda tengah duduk berhadapan dengan seorang gadis lain di kursi makan dengan meja yang memisahkan keduanya. Ada satu piring nasi goreng juga es kopi dan satu mangkuk soto serta teh manis di meja mereka. Si pemuda tengah memandang ke arah gadis yang sendirian itu.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

"Kenapa kamu lebih memilih sendiri ketimbang menerima ajakan kami untuk makan bersama? Ah, aku tahu rupanya kamu sepemalu itu."

***

Ilustrasi ketiga puluh tujuh.

Seorang gadis dan pemuda tengah mengenakan toga dan keduanya berdiri berhadapan di samping sebuah gedung dengan ramai lalu lalang orang. Keduanya tengah saling menatap, tersenyum dan bersalaman.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

Untuk pertama kalinya kamu menghampiriku dan berbicara lebih dulu denganku. Namun, saat kamu mengucapkan selamat tinggal, ada satu sudut di hatiku yang ternyata mengharapkan pertemuan kita kembali di lain waktu.

***

Ilustrasi ketiga puluh delapan.

Berlatarkan gedung-gedung perkantoran di pusat kota dengan hujan di sore hari yang mendung. Di tepi jalan, ada sebuah mobil putih sedang terparkir. Lalu, di depan mobil itu ada wanita berbaju blus biru muda dengan celana kain hitam serta rambut panjang tergerai yang tengah terjatuh. Di depannya ada seorang pria berkemeja biru gelap tengah membungkuk sambil meraih lengan si wanita, hendak menolongnya.

Tulisan di halaman samping ilustrasinya:

Bukan pertemuan seperti ini yang kuharapkan terjadi. Maaf karena tak sengaja melukaimu. Aku akan bertanggung jawab penuh untuk dirimu atas kecerobohanku itu. Tapi ngomong-ngomong, setelah bertahun-tahun tak bertemu, rasanya kamu semakin cantik.

***

Ilustrasi keempat puluh.

Lihat selengkapnya