Mencintaimu

Widayanti
Chapter #33

Waktu #33

Yusuf dan Yuki makan malam bersama di restoran dengan orang tua mereka, mereka mengobrol dan tertawa bersama.

"Kami pindah ke depan ya, mau mencari udara segar." Yuki mengatakan dengan sopan.

"Iya, silahkan." Umur menjawab dengan tegas, semua lanjut mengobrol.

Yuki dan Yusuf duduk di kursi dengan menggendong putra kecilnya, "kalau begini, rasanya santai ya mas."

"Iya, seperti tidak ada masalah." Yusuf tersenyum menatap istrinya.

"Tapi kalau disini, aku jauh dari orang yang aku kenal. Seperti mama, papa dan kedua sahabatku." Yuki merasa sedih.

"Kita tidak pindah ke sini sayang, pekerjaan aku di kota. Tapi kalau kamu mau liburan, kamu bilang saja. Nanti kita pergi liburan, " Yusuf tersenyum, Yuki bersandar di bahu suaminya.

"Terima kasih ya sayang, kamu sangat mencintai aku." Yuki merasa bahagia.

"Aku akan selalu mencintai kamu, aku juga akan menjaga kalian berdua." Yusuf memeluk istrinya.

"Ehem, romantis sekali, ayo kita pulang." Abimanyu tersenyum.

"Iya pa," Yusuf berdiri dan mereka pulang ke pondok pesantren.

Keesokan harinya, semua selesai sarapan. Mereka minum kopi dan teh di ruang tamu, bersantai bersama. Abimanyu melihat jam menunjukkan pukul 8 pagi.

"Kami mau izin pulang, saya dan istri sudah ada janji untuk hari ini." Abimanyu berbicara dengan sopan.

"Iya pak, kapan-kapan main ke pondok pesantren lagi. Nanti kalau ada waktu, kami yang main ke kota." Umar berbicara dengan sopan.

"Iya besan, kami tunggu kedatangannya. Kami permisi." Abimanyu dan Fatimah naik ke mobil, Abimanyu menurunkan kaca mobil dan tersenyum.

"Hati-hati di jalan pa, kalau lelah wajib istirahat ya." Yuki tersenyum menatap orang tuanya.

"Iya sayang, kamu juga hati-hati. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Semua menjawab secara bersamaan. Mobil Abimanyu pergi, semua masuk ke rumah.

Intan merasa ragu, Hamzah melihat istrinya gelisah. Hamzah meletakkan koran di meja.

"Ada apa sayang? Kenapa terlihat gelisah?" Hamzah bertanya pada istrinya, Intan duduk disamping suaminya.

"Menurut kamu, Ella akan baik-baik saja melihat keadaan ayahnya sekarang?"

"Aku tidak tahu, tapi lebih baik kita jujur padanya. Daripada kita berbohong, dan Ella tahu keadaan ayahnya dari orang lain." Hamzah menjelaskan.

"Tapi kasihan Ella masih kecil, aku takut dia sedih." Intan merasa khawatir.

"Kamu tenang saja, nanti kita jelaskan ke Ella secara perlahan. Kita juga menghibur Ella dengan memberikan keluarga yang bahagia, supaya Ella tidak sedih mengingat keadaan ayahnya." Hamzah menjelaskan.

Lihat selengkapnya