"Yusuf selama ini menderita karena kamu, hari dimana Ani meminta pertanggung jawaban dari kamu. Di hari itu juga, Yusuf melamar Yuki. Umi mendengar obrolan Yusuf dan Intan, dan umi merasa bersalah memaksa Yusuf menikahi Ani." Aisyah menjelaskan.
"Jadi pengorbanan Yusuf menikahi Ani, justru dia sedang menghancurkan cintanya sendiri." Akbar menyesal, karena dia. Semua menderita, semua sedih.
"Iya, Yusuf adalah anak yang baik. Dia menikahi Ani karena ingin mempertahankan nama baik keluarga kita, supaya tidak dihina orang." Umar menjelaskan.
"Aku akan menebus kesalahan pada Yusuf, dan meminta maaf pada Intan untuk semua rasa sakit yang dia rasakan dulu." Akbar sadar dia berubah jadi orang yang jahat, bahkan pada adiknya sendiri.
"Kalau begitu kami pamit pulang, kamu jaga diri baik-baik disini. Minggu depan, kami jemput kamu untuk pulang. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Umar mengatakan dengan tegas.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Akbar menjawab dengan sopan, semua kembali ke pesantren. Yusuf dan Yuki kembali ke kota karena besok harus bekerja, mereka duduk di sofa.
"Capek ya sayang, sini biar aku gendong. Kamu mandi saja dulu, nanti sekalian aku yang mandikan Ashraf." Yusuf tersenyum mengendong anaknya.
"Terima kasih ya mas, aku mandi dulu." Yuki tersenyum, Yuki mandi dan menemui suaminya yang duduk di ruang tamu.
"Ayo mas mandi dulu, aku masak supaya tidak telat makan malam." Yuki tersenyum.
"Aku mandi dulu sama Ashraf ya," Yusuf tersenyum.
"Baju mas dan adek sudah siap di meja ya." Yuki tersenyum.
"Iya sayang," Yusuf masuk ke kamar dan mandi, Yusuf keluar dan berjalan ke dapur. Yusuf tersenyum melihat makanan sudah tersaji di meja.
"Ayo makan mas, maaf cuma masak seadanya. Cuma ada ini saja, sini biar aku yang gendong." Yuki tersenyum.
"Tidak apa sayang, apapun yang kamu masak pasti enak." Yusuf tersenyum.
"Selamat makan sayang," Yuki mengendong anaknya, dan duduk untuk menyusui anaknya.
Beberapa menit kemudian, Ashraf tertidur. Yuki pergi ke kamar untuk meletakkan bayinya di box bayi supaya tidur. Yuki keluar dari kamar dan melihat suaminya baru selesai makan, Yuki duduk disamping suaminya.
"Kamu makan dulu sayang, nanti biar aku yang cuci piring." Yusuf tersenyum menatap istrinya.
"Terima kasih mas, kalau begitu. Aku lihat pintu dan jendela, sudah terkunci atau belum." Yuki tersenyum dan makan, Yusuf dan Yuki membawa peralatan makan yang kotor ke tempat cuci piring.
"Iya sayang, jangan lama-lama ya. Kalau sudah langsung ke kamar, dan istirahat." Yusuf tersenyum, Yuki pergi melihat semua pintu dan jendela. Memastikan semua sudah terkunci, Yuki masuk ke kamar menunggu suaminya.
TRING TRING
Yuki mendapatkan chat, Yuki melihat handphone. Ada notifikasi dari grup alumni SMA, Yuki membuka chat itu.