"Tidak ada sayang, tadi cuma cek saja, memastikan semua sudah siap untuk hari senin. Ayo kita makan malam," Yusuf mematikan handphone dan meletakkan di meja.
Mereka makan bersama, Yusuf menggantikan Yuki menggendong Ashraf. Mereka mengobrol bersama hingga malam.
Keesokan paginya Yusuf dan Yuki pergi ke rumah Intan, mereka memencet bel.
Intan yang sedang menggendong putra kecilnya, menyuruh Ella membuka pintu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Yuki tersenyum menatap Ella.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh tante, ayo masuk." Ella tersenyum menyambut tamu.
"Ayo duduk, maaf ya jadi merepotkan." Intan merasa bahagia dengan kehadiran Yuki dan yang lainnya, mereka duduk.
"Kamu ini, seperti sama siapa saja. Tante sudah mengganggap kamu seperti putri sendiri, oh iya ibu kamu kemana?" Fatimah bertanya.
"Sedang ke pasar tante, sebentar lagi pulang seharusnya." Intan menjawab dengan sopan.
"Kalau begitu, saya buatkan minum dulu ya. Permisi," Intan berdiri.
"Tidak perlu, kamu duduk saja menemani kami mengobrol." Fatimah mengatakan dengan ramah.
"Iya tante, sayang tolong ambilkan air dan cemilan ya." Intan tersenyum menatap Ella.
"Iya ma," Ella pergi ke dapur dan meletakkan air dan camilan di nampan, Ella meletakkan di meja.
"Maaf cuma ada ini, silahkan dinikmati." Intan berkata dengan sopan.
"Iya mbak, terima kasih." Yuki mengatakan dengan sopan, semua minum. Beberapa menit kemudian Siti pulang dari pasar, dia terkejut melihat banyak tamu di rumahnya.
"Assalamu'alaikum, eh ada tamu." Siti tersenyum dengan ramah.
"Iya, mumpung Yuki kemarin menginap di rumah. Jadi kami main ke sini," Fatimah menjelaskan.
"Kalau begitu, aku mau masak. Kalian tunggu, kita makan bersama." Siti pergi ke dapur.
"Aku ikut, biar aku bantu." Fatimah tersenyum membantu membawa barang belanjaan Siti.
"Oh iya suami kamu kemana?" Abimanyu bertanya.
"Mas Hamzah sedang ada urusan di desa, jadi dia pulang beberapa hari. Tapi tadi pagi telepon dan sedang perjalanan pulang kesini." Intan menjelaskan.
"Ternyata masih sering ke desa ya, saya kira sudah menetap bekerja di kota." Abimanyu berkata dengan sopan.
"Iya om, sebenarnya saya sudah diskusi sama mas Hamzah supaya bekerja disini. Tapi dia bilang, tunggu ada orang bisa menggantikan pekerjaannya." Intan menjelaskan, keluarga Yusuf masuk ke rumah Intan karena Siti belum menutup pintu.
"Tapi bagus, berarti Hamzah laki-laki yang bertanggung jawab." Abimanyu memuji Hamzah, Akbar terdiam mendengar perkataan Abimanyu.
"Iya om, alhamdulillah mas Hamzah sangat baik. Tidak pernah berubah dari dahulu." Intan tersenyum.