Mendung di Karang Jati

OmBoth
Chapter #2

Pantas Mati

Matahari pagi bersinar dengan indah. Menembus sela-sela dedaunan menciptakan garis-garis sinar memanjang di berbagai tempat. Membentuk pola-pola indah menyejukan mata. Burung-burung sibuk terbang berkicau menyambut datangnya hari baru. Ada yang terbang berputaran, ada pula yang hanya diam pada satu ranting dan menyambut kicauan dari burung yang lain. Sebuah alunan melodi alami yang menambah keindahan pagi menjadi lebih semarak.

Embun yang masih menempel di ujung-ujung daun dan rerumputan berkilauan terkena cahaya matahari. Bagaikan kilau batu permata yang tersebar dan memantulkan beraneka warna-warna indah. Angin pagi yang sejuk terkadang berhembus menggerakan embun-embun tersebut. Dan embun yang bernasib malang akan jatuh hilang terserap tanah.

Bukit itu tidak jauh berbeda dari bukit-bukit yang lain. Banyak pohon-pohon beraneka jenis tumbuh dengan subur tanpa ada campur tangan manusia. Bunga-bunga beraneka warna menghiasi punggung bukit tersebut seperti corak permadani yang sengaja dibentangkan Sang Pencipta agar bisa dinikmati oleh mereka yang lewat. Orang-orang yang tinggal di sekitar bukit menyebut bukit ini dengan sebutan Bukit Jamur. Selain ditumbuhi oleh beraneka tumbuhan besar dan kecil, bukit ini juga kaya akan tumbuh-tumbuhan jamur. Mulai dari yang bisa diambil manfaatnya sebagai makanan ataupun obat penyembuh sampai kepada jenis jamur yang sifatnya beracun. Banyak para ahli obat datang ke bukit ini sekedar untuk memetik jamur guna menambah persediaan obat-obatan mereka.Tak jarang juga ada yang datang dengan maksud sengaja mencari jenis-jenis jamur yang beracun. Entah untuk tujuan apa.

Alam memberikan segalanya.Tergantung kepada manusianya hendak memanfaatkan alam untuk tujuan baik menolong sesama atau malah sebaliknya. Tak pernah alam pilih kasih dan memikirkan siapa yang akan memetik hasilnya. Yang ia tahu hanya terus memberi, tanpa meminta balas. Tidak hanya kepada manusia yang bertujuan baik, kepada mereka yang memiliki niat buruk pun alam memberikan segalanya. Andai manusia juga memiliki sifat layaknya alam, memberi segala sesuatu tanpa mengharapkan balasan, bisa dibayangkan betapa indahnya hidup di dunia ini. Hidup tanpa ada rasa curiga, rasa iri dengki akan milik orang lain, memasrahkan segalanya kepada Yang di Atas.

Panji melihat kembali ke arah jalan menurun di belakangnya. Jalan menurun yang menuju ke arah Kali Pasir. Berharap menangkap sosok tubuh dua kakaknya berjalan ke arahnya. Membayangkan kakaknya Reja tersenyum ke arahnya dan kakaknya Praja melambaikan tangan sambil berteriak. Melontarkan canda yang kadang membuat panas mukanya karena malu. Menerima tepukan lembut kakaknya Reja di punggung seperti saat-saat ketika dia selesai berlatih di padepokan. Kemudian bertiga bersama melanjutkan perjalanan menyelesaikan amanat gurunya.

“Ah..., Guru.”

Tanpa sadar air mata Panji menetes ketika lamunannya mengingat saat-saat bersama gurunya.

Sosok yang arif dan bijaksana yang pada usia tuanya lebih banyak duduk di sanggar mengajarkan budi pekerti, memberikan tuntunan ajaran hidup dan nasehat kepada semua penghuni padepokan. Karena usia, segala urusan pelatihan fisik diserahkan kepada kakaknya Reja yang memang sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan di padepokan tersebut. Sesekali gurunya turun melihat dan memberikan bimbingan pada olah gerak yang salah dilakukan oleh para penghuni padepokan saat berlatih.

Betapa Panji teringat saat pertama dia bertemu dengan gurunya.

Saat itu usianya masih tujuh tahun dan dia ditemukan pingsan di bibir sungai yang mengalir agak jauh dari padepokan. Setelah di rawat dan kesadarannya kembali, Panji menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah dukuh yang terletak di kaki bukit di belakang padepokan tersebut. Dukuh tersebut terkena bencana banjir bandang di malam hari saat semua penghuni terlelap. Mendengar hal ini, sang guru segera memerintahkan semua penghuni padepokan untuk segera bergerak ke arah dukuh tempat tinggal Panji. Dengan membawa beberapa potong pakaian, bahan makanan, dan peralatan lain yang mungkin diperlukan, berangkatlah rombongan itu ke arah dukuh tersebut dengan Panji sebagai penunjuk jalan.

Karena dukuh tempat tinggal Panji terletak di sisi lain dari bukit, rombongan itu bergerak dengan mengambil jalan memutar. Menjelang sore, rombongan itu tiba di sana.Tidak terlihat satupun bangunan yang berdiri, rata semua dengan tanah. Tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Rombongan itu segera bergerak dan berusaha mencari kalau saja ada yang selamat dari bencana. Ketika matahari sudah hampir terbenam, rombongan itu selesai menyusuri setiap sudut dukuh. Merekatak menemukan satu pun korban yang selamat di dukuh tersebut. Jangankan manusia, mayat hewan ternaksaja tak terlihat. Agaknya seluruh penghuni dukuh tersebut habis tersapu hanyut oleh banjir bandang yang dahsyat. Yang juga membawa serta ayah, ibu dan adik perempuan Panji yang masih balita. Panji menangis meraung-raung melihat kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Suara tangisannya membuat orang-orang tergetar. Orang-orang padepokan yang memahami penderitaan Panji hanya bisa diam menunduk. Betapa anak sekecil itu harus kehilangan orang-orang yang dicintainya hanya dalam satu malam. Beberapa orang yang tak tahan mendengar jerit tangis Panji bergerak menjauh dengan kepala tertunduk berusaha kembali membongkar reruntuhan rumah-rumah sembari berharap menemukan korban yang selamat.

Tangis pilu Panji mendadak terhenti ketika tangan lembut sang guru menepuk lembut bagian belakang kepalanya. Tepukan lembut itu membuat dirinya tak sadarkan diri.

Dan sejak saat itu, Panji di bawa ke padepokan dan tumbuh bersama saudara-saudaranya yang lain.

“Dia pasti belum jauh. Kita harus segera menemukan anak itu.”

Mendadak semua lamunan Panji buyar oleh sebuah suara di ujung jalan dari arah Kali Pasir.

Segera dia meloncat ke atas sebuah pohon dan menyembuyikan dirinya dikerimbunan daun sembari terus mengamati jalan. Tak lama kemudian mucul tiga orang laki-laki membawa tombak bertangkai pendek, berjalan ke arah pohon dimana Panji bersembunyi. Dari atas pohon, Panji bisa melihat tiga orang itu bergerak dengan tergesa-gesa.

“Anak itu pasti sudah jauh, Kakang Jongkang.” Orang yang berdiri di kanan berkata.

“Kalau begitu kita lari lagi. Pasti akan tersusul.”

“Hah ...? Semalaman ini kita terus berlari tanpa beristirahat. Dan sekarang, Kakang menyuruh kami untuk berlari lagi?” Orang yang di sebelah kiri berkata sambil memijat kakinya.

“Kita bisa pulang sekarang kalau itu maumu. Kita katakan pada guru kalau kita tak menemukan anak Bayu Aji itu. Dan kau pasti bisa istirahat. Untuk selama-lamanya.”

Dua orang di kanan dan kiri Jongkang terdiam. Mereka tahu tabiat gurunya. Gurunya itu tak akan segan-segan menjatuhkan hukuman pada anak muridnya yang gagal menjalankan tugas. Dan hal ini cukup membuat mereka berdua untuk diam dan berlari menyusul Jongkang yang sudah mendahului mereka.

Panji yang bersembunyi di atas pohon sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh kakaknya Reja. Panji mengatur aliran nafasnya berusaha agar suara nafasnya tidak terdengar oleh telinga orang-orang itu. Diam mematung berusaha untuk menghilangkan keberadaan dirinya sembari terus memperhatikan.

Pada saat Jongkang tepat berada di bawah pohon di mana Panji bersembunyi, Jongkang menghentikan langkahnya.

“Kenapa sekarang kau malah berhenti, Kakang?” Orang di sebelah kiri berkata.

“Kakang, ayo kita bergerak lagi. Aku masih ingin kepalaku berada pada tempatnya.”

Orang yang di sebelah kanan berkata sambil bergerak maju namun ditahan oleh Jongkang.

Jongkang tidak membalas ucapan dua orang itu, hanya tangannya bergerak menunjuk ke depan.

Panji yang sempat cemas, merasa lega keberadaannya belum diketahui. Ia pun menolehkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Jongkang.

Tampak seorang kakek berjalan bersama seorang gadis. Mereka berjalan ke arah Jongkang dan kawan-kawannya.

Rambut sang kakek berkilau keperakan ketika cahaya matahari mengenai rambutnya yang berwarna putih. Jenggot dan kumisnya yang dibiarkan tumbuh memanjang juga sudah memutih. Walaupun kakek itu berjalan dengan tongkat di tangan, namun badannya masih terlihat tegap.

Sedangkan si gadis berusia duapuluhan tahun itu memiliki rambut panjang hitam terurai sepunggung. Lembut bergerak melambai saat ada angin nakal yang bertiup. Kulit gadis itu putih bersih seakan memancarkan cahaya ketika terkena sinar matahari. Gadis itu memakai pakaian berwarna putih sewarna dengan pakaian yang dikenakan oleh si kakek. Kalau si kakek memakai pakaian berlengan panjang longgar, si gadis memakai pakaian putih tanpa lengan baju, sehingga memamerkan kulit lengannya yang putih bersih. Wajah gadis itu cantik alami tanpa polesan dengan pipi merah merona dan bibir merah basah tanpa pewarna. Sungguh bagaikan seorang bidadari yang sedang turun bermain di bumi.

Dan pada sosok gadis inilah pandangan tiga orang itu seperti terpaku. Jarang sekali mereka menemukan gadis dengan wajah dan bentuk tubuh seelok ini. Para wanita yang mereka kenal hanyalah cantik akibat dipoles oleh rias wajah yang tebal. Sedangkan gadis ini, tanpa polesan apa-apa sudah bisa membuat jantung mereka berdetak kencang.

Dua orang ini terus berjalan menuju kearah Jongkang dan kawan-kawannya menanti mereka.

Yang pertama menyadari adalah si gadis. Gadis ini melihat ada tiga orang berdiri di depan jalan yang akan mereka lalui. Panji melihat bahwa gadis ini membisikan sesuatu ke telinga si kakek dan kakek ini membalasnya dengan sebuah gelengan kepala perlahan. Melihat gelengan si kakek, gadis ini hanya terdiam menunduk dan bergerak perlahan meletakan posisinya agak di belakang tubuh si kakek.

Begitu mereka mendekati tiga orang laki-laki itu, sang kakek menghentikan langkahnya dan berkata kepada mereka.

“Maafkan kami, Kisanak sekalian. Bukannya kami ingin bertindak lancang, akan tetapi izinkan kami untuk meneruskan perjalanan kami dengan memberi sedikit ruang untuk berjalan.”

Kakek itu berkata dengan suara lembut. Tapi anehnya, walaupun suara itu lembut bahkan hampir menyerupai bisikan, Panji yang berada di atas pohon dapat menangkap dengan jelas setiap kata yang diucapkan dari kakek tersebut. Seolah-olah kakek itu berkata tepat di dekat telinganya.

“Apakah dia cucumu, Kek?” Jongkang bertanya.

“Atau mungkin anakmu?” Orang di sebelah kanan ikut bertanya.

“Atau mungkin dia istrimu?” Orang di sebelah kiri juga ikut bertanya yang disusul oleh suara tertawa mereka bertiga.

Kakek itu hanya tersenyum.

“Ah..., Kisanak semua suka bercanda rupanya. Manalah mungkin aku yang buruk rupa ini punya anak secantik ini dan suatu hal yang juga mustahil kalau dia adalah istriku. Suatu keajaiban kalau masih ada gadis cantik dan waras yang mau untuk menjadi istri dari seorang yang sebentar lagi jadi pupuk ini.”

Bertambah kencang suara tawa dari tiga orang ini. Ketika merasa puas tertawa, Jongkang maju ke depan ke arah kakek tersebut.

“Kakek, silahkan kau lanjutkan perjalananmu.”

“Ah..., terimakasih, Kisanak.”

Lihat selengkapnya