Menembus Tembok Adaptasi

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Mentari Pagi di Kota Orang

Langit Jakarta pagi itu belum sepenuhnya terang ketika suara alarm ponsel murah berdering nyaring di atas lantai semen yang dingin. Arkan terbangun dengan tubuh yang masih terasa remuk. Tulang-tulangnya seolah menolak untuk digerakkan setelah tidur di atas kasur lipat tipis yang beralaskan lantai kamar petakan sempit seluas tiga kali tiga meter di kawasan Kampung Bali, Tanah Abang. Udara pagi terasa pengap, bercampur dengan bau minyak tanah dan aroma got dari gang sempit di luar jendela kaca nako yang berdebu.

Ia bangkit perlahan, mengusap wajahnya yang masih menyisakan lebam kebiruan di sudut bibir akibat perkelahian di terminal bus beberapa malam lalu. Matanya menatap nanar ke arah kalender dinding usang yang tergantung di dekat pintu. Tanggal hari ini dilingkari dengan spidol hitam—sebuah pengingat bisu bahwa sudah hampir dua minggu ia hidup seorang diri di kota metropolitan ini, terpisah jarak ribuan kilometer dari tanah Palembang, dan yang lebih menyiksa, terpisah dari Samaira.

"Arkan, kau sudah bangun?" suara berat dari balik dinding tripleks tipis membuyarkan lamunannya. Itu suara Bang Jono, buruh pasar senior asal Padang yang menyewakan separuh petakannya untuk Arkan tumpangi selama dua minggu terakhir.

"Sudah, Bang," jawab Arkan dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering. Ia meraih handuk kecil lusuh yang menggantung di paku dinding, lalu melangkah keluar menuju kamar mandi bersama di ujung lorong petakan.

Air dingin yang membasahi wajahnya sedikit menyadarkan Arkan dari rasa penat yang menggelayut di kepala. Di depan cermin plastik yang buram dan berkerak sabun, Arkan menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan, dan lingkaran hitam tebal membingkai kedua matanya akibat kurang tidur. Pikirannya tidak pernah tenang sedetik pun sejak malam kelabu di terminal bus itu. Setiap kali ia menutup mata, bayangan tangan Samaira yang menggapai-gapai dari dalam sedan hitam selalu berkelebat, menyulut kembali rasa bersalah dan amarah yang mendalam di dadanya.

"Jangan melamun terus, Kan. Kalau kau banyak melamun, beras di kantongmu bakal habis sebelum sempat dimasak," sapa Bang Jono ramah sambil menyerahkan segelas kopi hitam panas begitu Arkan kembali ke teras depan petakannya.

Arkan menerima gelas seng itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Bang. Aku hanya sedang memikirkan hari ini. Apakah mandor di Blok C Pasar Senen itu masih butuh tenaga tambahan atau tidak."

Bang Jono terkekeh kecil, menyulut sebatang rokok kretek hingga ujungnya menyala kemerahan. "Pasti butuh. Pasar Senen itu tidak pernah tidur, kawan. Selalu ada karung beras, dus pakaian, atau peti buah yang harus diangkut setiap subuh. Yang penting kau punya tenaga dan kemauan keras untuk membanting tulang. Masalah uang, asal rajin, pasti cukup buat bayar sewa petakan dan makan nasi warteg."

"Aku tidak peduli seberapa berat pekerjaannya, Bang. Yang penting halal dan aku bisa mengumpulkan uang secepatnya," ucap Arkan tegas, matanya menatap tajam ke arah asap rokok yang membubumbung ke udara.

"Bagus kalau begitu tekadmu," Bang Jono menepuk pundak Arkan pelan. "Tapi ingat, Jakarta ini bukan Palembang. Di sini hukum rimba berlaku. Jangan cari musuh, tapi jangan pula biarkan orang menginjak-injak harga dirimu. Ayo, habiskan kopinya. Kita harus jalan sekarang sebelum macet memotong jalan kita ke stasiun."

Arkan menghabiskan sisa kopi hitamnya dalam sekali teguk. Rasa pahit yang pekat langsung melumer di lidahnya, sejalan dengan kepahitan hidup yang harus ia telan setiap pagi sejak memilih jalan pelarian ini. Ia mengenakan jaket jins kesayangannya—jaket yang sama yang ia pakai saat pertama kali menyeberangi Sungai Musi bersama Samaira—lalu mengambil topi hitam lusuh untuk menutupi lebam di wajahnya.

Langkah kaki mereka berdua mulai menyusuri gang-gang sempit padat penduduk di kawasan Tanah Abang. Suara kendaraan bermotor, klakson bus kota, dan teriakan pedagang kaki lima mulai bersahutan memecah keheningan pagi. Mentari perlahan merayap naik di balik gedung-gedung bertingkat pencakar langit Jakarta, memancarkan bias cahaya keemasan yang kontras dengan debu jalanan yang mengepul tebal. Di tengah riuhnya arus manusia yang bergegas mengejar nafkah, Arkan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jaket. Di dalam sana, cincin perak kecil milik Samaira bergesekan dengan ujung jarinya, menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang membuatnya sanggup melangkah menyongsong hari baru di tanah rantau yang kejam ini.

❖ ❖ ❖

Hiruk-pikuk Pasar Senen pada pukul enam pagi selalu menyuguhkan pemandangan yang memacu adrenalin. Ratusan buruh panggul berlalu-lalang membawa karung-karung beras seberat lima puluh kilogram di atas punggung mereka, berpapasan dengan para pembeli grosir dan pedagang kelontong yang tawar-menawar dengan suara lantang. Bau debu pasar, aroma ikan asin, dan bau keringat bercampur menjadi satu di bawah terpal-terpal plastik biru yang membentang menutupi lorong-lorong kios.

Arkan dan Bang Jono tiba di Blok C tepat saat sebuah truk fuso bermuatan ratusan karung gula pasir baru saja mematikan mesinnya. Seorang pria berbadan gempal dengan handuk kecil melingkar di leher dan tato naga samar di lengan kanannya—Mandor Anwar—tengah berdiri berkacak pinggang sambil mengawasi proses penurunan barang.

"Heh, Jono! Mana kuli tambahan yang kau bawa kemarin? Jangan bilang dia kapok karena baru kerja sehari!" bentak Mandor Anwar dengan suara menggelegar menyaingi kebisingan pasar.

"Aman, Mandor! Ini anak muda yang kubawa kemarin. Dijamin kerjanya gesit dan tidak banyak mengeluh," seru Bang Jono sambil mendorong Arkan sedikit maju ke depan.

Mandor Anwar memelototi Arkan dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. Ia melihat postur tubuh Arkan yang tidak terlalu besar, namun otot-otot di lengannya tampak keras dan padat berkat pengalaman bertahun-tahun menjadi buruh pelabuhan di Boom Baru, Palembang.

"Namamu siapa, anak muda?" tanya Mandor Anwar sambil meludah ke lantai semen.

"Arkan, Pak," jawab Arkan tegas, menatap mata sang mandor tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Dengar ya, Arkan. Di sini aku tidak peduli kau anak siapa atau dari mana asalmu. Yang aku pedulikan cuma kecepatan dan ketepatan. Satu karung gula rusak karena kecerobohanmu, upahmu hari ini potong separuh. Paham?" ancam Mandor Anwar dengan nada dingin.

"Paham, Mandor," jawab Arkan singkat.

"Bagus! Kalau begitu, jangan banyak ngobrol lagi. Angkut karung-karung itu ke kios lantai dua sekarang!" perintah Mandor Anwar sambil menunjuk ke arah tangga beton yang curam dan dipadati oleh orang-orang yang lalu-lalang.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arkan langsung naik ke bak truk fuso. Ia membungkukkan badannya, menempatkan pundaknya di bawah karung gula pasir yang beratnya luar biasa. Beban itu langsung menghantam tulang belakangnya dengan telak, membuat lututnya bergetar hebat untuk sepersekian detik. Rasa sakit sempat menjalar dari pundak hingga ke pinggangnya, namun Arkan segera mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya, mengangkat karung tersebut dengan mantap lalu melangkah menuruni bak truk menuju tangga pasar yang licin.

"Hati-hati, anak muda! Jangan sampai terpeleset!" seru Bang Jono yang sedang mengangkat dus-dus mi instan di dekatnya.

Arkan mengangguk tanpa bersuara. Napasnya mulai memburu, butiran keringat sebesar biji jagung bercucuran membasahi kening dan lehernya, menembus kaos oblong putih yang ia kenakan hingga basah kuyup. Setiap langkah menaiki tangga beton menuju lantai dua terasa begitu berat, seolah-olah beban di pundaknya bukan hanya karung gula seberat lima puluh kilogram, melainkan seluruh beban hidup, rasa bersalah, dan kerinduan yang menumpuk di dadanya selama di Jakarta.

Lihat selengkapnya