Malam di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk meredam sunyi. Di dalam petak kamar kos berukuran dua kali tiga meter yang terletak di sebuah gang sempit kawasan Tanah Abang, suara deru kendaraan dari jalan raya utama terdengar bagaikan deburan ombak yang tak berujung. Bau debu jalanan, asap knalpot, dan aroma masakan warteg di lantai bawah bergesekan menembus celah ventilasi udara yang sempit. Arkan duduk termenung di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di atas lantai semen kasar.
Di hadapannya, sebuah meja kayu lipat kecil menopang ponsel pintar murah yang layarnya retak di sudut kanan bawah. Layar itu menyala remang-remang, menampilkan ikon sinyal seluler yang hanya menunjukkan satu batang lemah. Sudah hampir dua minggu Arkan menjejakkan kaki di ibu kota, dan dua minggu itu pula ia hidup dalam keterasingan emosional yang amat pekat. Kesibukan siang hari sebagai staf administrasi logistik gudang yang melelahkan seolah menguras seluruh sisa tenaganya, menyisakan kekosongan mental yang begitu nyata setiap kali malam tiba.
Arkan menarik napas panjang, mencoba menepis rasa penat yang menggelayut di pundaknya. Ia meraih ponsel tersebut dengan jemari yang masih menyisakan noda tinta cetak gudang. Jarinya bergerak ragu-ragu di atas layar sentuh, menekan deretan nomor telepon yang sudah iahafal di luar kepala—nomor rumah tetangga desanya, satu-satunya sambungan komunikasi terdekat dengan rumah orang tuanya di Desa Sukamaju, sebuah dusun terpencil di lereng bukit yang belum tersentuh jaringan internet stabil.
"Ayolah, tersambunglah malam ini," gumam Arkan pelan, suaranya tenggelam di antara bisingnya suara kipas angin plastik berkarat yang berputar lesu di sudut kamar.
Nada tunggu berdering di telinganya. Tut... tut... tut... Suara itu terasa begitu panjang dan menyiksa. Jantung Arkan berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada rasa rindu yang membuncah, namun bergesekan secara ekstrem dengan rasa bersalah yang teramat dalam karena ia belum bisa mengirimkan uang hasil kerjanya yang masih tertahan di sistem perusahaan.
"Halo? Assalamu'alaikum?" suara serak seorang wanita paruh baya terdengar dari ujung sambungan. Suara itu begitu dekat, namun terasa sangat jauh karena terhalang jarak ratusan kilometer dan gelombang udara yang buruk.
"Wa'alaikumussalam, Bu..." jawab Arkan dengan suara tercekat di tenggorokan. "Ini Arkan, Bu."
"Arkan! Ya Allah, Le!" suara Ibu Siti langsung meninggi, disusul isak tangis kecil yang tertahan di balik gagang telepon umum desa. "Kamu ke mana saja, Nduk? Kenapa baru sekarang kasih kabar ke rumah? Bapakmu setiap sore mondar-mandir di teras, bolak-balik menatap jalan dusun seolah berharap kamu tiba-tiba muncul dari balik pohon kelapa."
"Maafkan Arkan, Bu," ucap Arkan, matanya terasa panas. "Pekerjaan di gudang baru-baru ini benar-benar menyita waktu. Jadwal shift saya sering berubah-ubah, dan sinyal di sekitar tempat kos ini juga sangat susah kalau sudah malam."
"Ibu tidak peduli dengan pekerjaan itu kalau badanmu sampai sakit, Le," keluh Ibu Siti dengan nada cemas yang kental. "Kondisi badanmu bagaimana di sana? Makan teratur? Jangan mentang-mentang di kota besar terus kamu mengabaikan kesehatan perutmu. Uang saku kirimanmu bulan lalu sudah kami terima lewat Pak RT, tapi simpanlah sebagian untuk kebutuhanmu sendiri di sana. Jangan dikirim semua."
"Arkan baik-baik saja, Bu. Jangan khawatirkan Arkan," jawab Arkan, berusaha memasang nada suara seceria mungkin meski tenggorokannya terasa perih. "Arkan bisa menjaga diri dengan baik di sini."
Tiba-tiba, suara di ujung telepon mulai berderak keras. Suara desis statis yang tajam mendadak menelan separuh kalimat Ibu Siti. Garis komunikasi yang rapuh itu mulai goyah dihantam cuaca buruk di daerah pegunungan tempat asal mereka.
"Arkan... kamu... di sana... suara... putus-putus..." suara Ibu Siti terdengar semakin sayup, tertutup oleh dengung elektromagnetik yang memekakkan telinga.
"Bu? Ibu masih dengar suara Arkan?" seru Arkan panik, tubuhnya langsung condong ke depan, mendekatkan ponsel ke mulutnya. "Halo? Bu?"
"Suaramu... hilang... Le..." sambungan itu terputus seketika dengan bunyi bip pendek yang dingin.
Arkan terpaku menatap layar ponselnya yang kembali menampilkan sinyal satu batang yang lemah. Panggilan pertama setelah dua minggu merantau itu harus terputus begitu saja di tengah rasa rindu yang belum sempat terobati sepenuhnya.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, suasana di ruang istirahat gudang logistik terasa pengap dan dipenuhi bau keringat puluhan buruh muat. Arkan duduk di sebuah bangku plastik panjang yang catnya sudah mengelupas, memegang cangkir kopi instan murah yang mengepulkan uap tipis. Di hadapannya, Dani—senior kantor yang sudah bekerja selama tiga tahun di gudang tersebut—sedang mengunyah roti bungkus dengan santai sambil memainkan korek api gas di jarinya.
"Panggilan pertama ke kampung pasti selalu bikin mental ambruk, kan, Kan?" tanya Dani tiba-tiba, melirik sekilas ke arah Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari korek api.
Arkan menghela napas, meletakkan cangkirnya di atas meja kayu yang bernoda tumpahan kopi. "Begitulah, Dan. Baru saja mau ngobrol banyak tentang kondisi ibu di rumah, sambungannya langsung mati total gara-gara sinyal jelek. Rasanya seperti dilempar ke tengah Lautan Hindia tanpa pelampung."
"Makanya, jangan terlalu sering menelepon kalau pakai kartu perdana murah dari pinggir jalan," nasihat Dani sambil tertawa kecil, setengah mengejek namun bernada akrab. "Di Jakarta ini, komunikasi itu barang mewah kalau dompetmu tipis. Kalau mau sinyal stabil dan suara jernih, kamu harus pindah ke kamar kos yang agak di pinggiran kota, atau minimal beli ponsel yang spesifikasinya lebih bener."
"Masalahnya, jangankan ganti ponsel, untuk bayar sewa kos bulan depan saja saya harus hitung ulang pengeluaran hari ini, Dan," jawab Arkan lirih, pandangannya menerawang ke arah pintu gudang yang terbuka, memperlihatkan langit Jakarta yang kelabu tertutup polusi. "Gaji pokok saya pas-pasan, dan sebagian besar langsung saya poskan ke kampung untuk cicilan utang lama keluarga."
Dani menghentikan gerakannya, menatap Arkan dengan tatapan yang sedikit melunak. Ia tahu persis bagaimana rasanya menjadi perantau baru yang datang tanpa bekal jaringan sosial yang kuat.
"Pekerjaan pertama memang selalu jadi ujian kesabaran paling berat, Arkan," kata Dani serius, mengubah nada bicaranya menjadi lebih bijak. "Tapi yang lebih parah dari tidak punya uang adalah ketika kamu mulai menutup diri dari komunikasi. Orang tua di kampung itu tidak butuh alasan logis kenapa sinyal putus; yang mereka butuhkan cuma kepastian kalau anak laki-laki satu-satunya masih bernapas dengan baik di tanah rantau."
"Saya tahu, Dan. Tapi rasanya canggung sekali," aku Arkan jujur, meremas kedua tangannya di atas pangkuan. "Setiap kali saya menelepon, saya selalu merasa bersalah karena kondisi saya belum sukses seperti yang mereka harapkan. Saya takut mengecewakan mereka dengan suara lelah saya."
"Kecanggungan itu wajar karena kalian terbiasa hidup berdampingan setiap hari, lalu tiba-tiba dipisahkan jarak ribuan kilometer," balas Dani menepuk bahu Arkan pelan. "Tapi kalau komunikasi awal ini gagal terus, jarak itu bukan lagi soal kilometer, melainkan soal jurang pemisah yang tidak bisa disebrangi."
Arkan terdiam meresapi kata-kata seniornya itu. Perasaan canggung saat berbicara lewat telepon tadi malam bukanlah sekadar masalah teknis jaringan seluler, melainkan cerminan dari keretakan kecil yang mulai terbentuk akibat jarak dan beban hidup yang dipikulnya sendirian di ibu kota.
❖ ❖ ❖