Matahari baru saja merangkak naik dari balik cakrawala timur, menyemburkan bias jingga keemasan yang memantul di permukaan dermaga pelabuhan. Udara pagi di kawasan pesisir itu terasa basah, pekat oleh aroma garam laut, solar kapal, dan bau amis ikan segar yang berhamburan dari lambung kapal-kapal nelayan. Di antara hiruk-pikuk buruh panggul dan suara mesin diesel yang menderu rendah, Arkan berdiri terpaku. Kakinya terasa kaku di atas lantai kayu dermaga yang lembap. Hari ini adalah hari ketiga ia resmi bekerja sebagai buruh kasar di galangan kapal dan dermaga bongkar muat—sebuah dunia yang sama sekali asing bagi pria yang seumur hidupnya lebih akrab dengan aroma pendingin ruangan kantor dan deretan laporan keuangan di atas meja kayu jati.
"Hei, Arkan! Jangan melamun terus kalau tidak mau kepalamu benjol tertimpa katrol rantai!" suara serak Pak Marta, kepala pengawas lapangan yang berwajah gosong terpanggang matahari, memecah lamunan Arkan.
Arkan terperanjat. Ia buru-buru mengangguk, lalu mengangkat wajahnya yang sudah bermandi keringat meskipun hari baru beranjak pukul tujuh pagi. "Baik, Pak! Saya segera ke sana!" teriaknya balik, mencoba menyamakan volume suaranya dengan deru bising pelabuhan.
Ia melangkah mendekati tumpukan peti kemas kayu berukuran sedang yang berisi onderdil mesin kapal. Di sampingnya, seorang buruh senior bertubuh gempal bernama Roni sedang melilitkan tali tambang tebal ke sekeliling peti tersebut. Roni melirik Arkan dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengus pelan sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana, kawan? Pundakmu masih utuh rasanya?" tanya Roni dengan nada setengah mengejek, namun matanya memancarkan sedikit rasa penasaran. Roni tahu betul, pemuda di hadapannya ini bukanlah pekerja kasar tulen. Kulit tangan Arkan masih terlalu putih dan halus untuk ukuran orang pelabuhan.
Arkan tersenyum pahit, mencoba menyembunyikan rasa nyeri yang luar biasa di sekujur punggung dan bahunya. "Masih menempel di tempatnya, Bang. Hanya saja rasanya seperti ada batu gajah yang menindih sejak semalam," jawab Arkan jujur, suaranya terdengar lelah.
"Batu gajah katamu?" Roni tertawa berderai, memperlihatkan deretan giginya yang agak kekuningan. Ia menepuk bahu Arkan dengan keras—sebuah gestur keakraban buruh pelabuhan yang hampir membuat Arkan tersungkur ke depan. "Ini baru permulaan, kawan. Pekerjaan di sini tidak peduli apakah kau sarjana ekonomi atau anak kemarin sore. Yang diandalkan di sini adalah otot punggung dan ketahanan telapak tangan."
Arkan tidak menjawab. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang terbuka lebar di udara. Semalam, saat ia membasuh muka di kamar mandinya yang sempit, ia sempat menyadari ada beberapa titik kemerahan di pangkal jari-jarinya. Dan pagi ini, kemerahan itu telah berubah wujud. Kulit di telapak tangannya mulai melepuh. Beberapa gelembung kecil berisi cairan bening tampak jelas menghiasi lekukan garis tangannya, hasil dari gesekan konstan dengan tali tambang kasar dan besi dingin selama dua hari belakangan.
"Kau lihat lepuhan itu?" tanya Roni tiba-tiba, menunjuk ke arah telapak tangan Arkan dengan dagunya. "Jangan sekali-kali kau pecahkan pakai jarum atau pisau. Kalau kau pecahkan sekarang, besok tanganmu akan berdarah-darah saat mengangkat besi galangan. Biarkan saja pecah sendiri. Nanti lama-lama kulitnya akan menebal, mengeras jadi kapalan."
"Kapalan..." bisik Arkan pelan, merasakan sensasi perih yang mulai menjalar setiap kali ia mengepalkan jemarinya.
"Ya. Kapalan itu adalah tanda pengenal resmi buat kita semua di sini," kata Roni serius, suaranya sedikit melembut di balik raut wajah kasarnya. "Itu armor alamimu. Tanpa kapalan itu, tanganmu tidak akan pernah kuat bertahan di pelabuhan ini."
Arkan menelan ludah yang terasa kering. Ia teringat kembali pada kehidupannya beberapa bulan lalu. Tiga bulan yang lalu, tangannya yang kini melepuh dan bernanah kecil ini hanya menyentuh papan tik komputer, memegang cangkir kopi keramik mahal, atau menandatangani dokumen penting di ruang ber-AC sentral. Kini, tangan yang sama dipaksa bergulat dengan besi tua, minyak pelumas hitam, dan tali tambang berserat tajam. Pilihan hidup yang pahit, namun terpaksa ia ambil demi melunasi sisa tumpukan utang mendiang ayahnya yang mengancam rumah tempat tinggal ibu dan adiknya.
❖ ❖ ❖
Matahari kian meninggi, menyengat ubun-ubun tanpa ampun. Keringat mengalir deras dari pelipis Arkan, menetes melewati hidungnya, lalu jatuh ke tanah berpasir dermaga. Kaus oblong putih yang ia kenakan kini telah basah kuyup oleh keringat, berubah warna menjadi agak transparan dan menempel erat di tubuhnya yang mulai beradaptasi dengan beban kerja berat.
"Arkan! Cepat tarik kemari ujung talinya!" teriak Roni dari atas geladak kapal tongkang yang sedang bersandar di dermaga.
Arkan segera tersadar dari lamunannya. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga di kedua lengannya, menarik tali tambang berukuran sebesar lengan anak kecil dengan sekuat tenaga. Tarik, tahan, dan langkahkan kaki ke belakang, batinnya merapal instruksi yang diberikan Roni kemarin. Namun, beban peti kayu di ujung sana terasa jauh lebih berat dari perkiraannya.
Seketika, gesekan tali tambang yang ditarik dengan kecepatan tinggi itu bergesekan langsung dengan telapak tangan Arkan yang sedang melepuh.
Sreeet!
Sebuah rasa panas yang luar biasa menusuk tajam hingga ke tulang sumsum. Arkan mendesis tertahan, giginya beradu rapat menahan sakit yang mendadak meledak di tangannya. Gelembung-gelembung air di telapak tangannya pecah seketika, mengalirkan cairan bening bercampur sedikit darah segar yang langsung meresap ke dalam serat tali tambang yang kasar.
"Aduh!" rintih Arkan pelan, namun ia tidak boleh melepaskan tali itu. Jika ia melepaskannya sekarang, peti kayu seberat ratusan kilogram di atas geladak bisa meluncur tak terkendali dan menimpa kaki para pekerja di bawah.
Dengan sisa tenaga dan tekad yang hampir putus, Arkan mengeraskan rahangnya, menarik tali itu sekali lagi hingga posisinya terkunci sempurna di tiang pengaman dermaga. Begitu ikatan tersimpul dengan kuat, tubuh Arkan langsung merosot lemas. Ia terduduk di atas lantai kayu dermaga yang panas, napasnya memburu tak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat seolah kekurangan oksigen.
Roni melompat turun dari geladak kapal dengan gesit, lalu menghampiri Arkan yang sedang memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri. Wajah Roni berubah serius saat melihat bercak kemerahan di telapak tangan pemuda itu.
"Sudah kubilang tadi, jangan dipaksakan menarik dengan cara begitu," omel Roni, meskipun nada suaranya terdengar mengandung simpati. Ia berlutut di samping Arkan, lalu meraih tangan kanan pemuda tersebut untuk memeriksanya lebih dekat. "Lihat kan? Pecah sudah kantung airnya. Darahnya keluar."
Arkan mendongak, meringis kesakitan setiap kali jemarinya bergerak. "Perih sekali, Bang... Rasanya seperti disiram air cabai."
"Namanya juga proses, Kawan," ucap Roni sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan sehelai kain kain bersih yang agak kusam lalu menyerahkannya pada Arkan. "Ikat tanganmu pakai ini dulu untuk sementara. Jangan biarkan luka terbuka itu terkena air laut atau minyak kotor. Nanti bisa infeksi."
Arkan menerima kain itu dengan tangan kiri, lalu melilitkannya perlahan ke telapak tangan kanannya yang berdarah. "Apakah semua pekerja di sini mengalami hal yang sama di awal-awal, Bang?" tanyanya di sela desisan kecil karena menahan perih.
"Semua," jawab Roni mantap, bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu. Ia menatap lautan lepas di hadapan mereka. "Tidak ada pelaut atau buruh pelabuhan hebat yang lahir dengan tangan mulus. Semua berawal dari robek, melepuh, berdarah, lalu bernanah. Setelah itu kering, mengelupas, dan berganti menjadi kulit baru yang keras seperti cangkang kura-kura. Itulah kapalan pertama."
Arkan menatap balutan kain di tangannya. Kalimat Roni terngiang-ngiang di benaknya, memberikan semacam metafora yang menghujam kesadarannya. Bahwa rasa sakit fisik ini bukan sekadar penderitaan tanpa makna; ini adalah harga yang harus dibayar untuk bertransformasi menjadi sosok yang lebih kuat, sosok yang mampu melindungi keluarganya dari kejamnya himpitan ekonomi.