Matahari sore di Palembang memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan Sungai Musi yang luas, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma khas tempoyak dan udang ebi yang menguap dari dapur-dapur rumah panggung di sepanjang tepian. Di sebuah lorong perkampungan padat kawasan Seberang Ulu, sebuah becak tua berhenti tepat di depan rumah kayu berukuran sedang yang dicat hijau lumut dengan kusen jendela berwarna putih gading. Samaira turun dari becak tersebut dengan hati-hati, sementara sang tukang becak menurunkan dua koper besar berwarna hitam dan sebuah kardus mi instan yang berisi perkakas dapur dari bangku depan.
Samaira mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling lingkungan barunya. Rumah itu baru saja disewanya tiga hari lalu melalui perantara seorang kenalan jauh. Suasana kampung tampak hidup; anak-anak berlarian mengejar layangan putus sambil tertawa riang, para ibu paruh baya duduk di atas tikar pandan di teras rumah sambil merajut, dan suara alunan musik dangdut samar-samar terdengar dari salah satu rumah warga yang letaknya tidak jauh dari situ.
"Mari, Neng, saya bantu angkat kopernya masuk ke dalam," ujar Pak Amat, tukang becak paruh baya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya, menawarkan bantuan dengan senyum ramah khas wong kito galo.
"Terima kasih banyak, Pak Amat. Tolong letakkan saja di dekat ruang tamu ya, Pak," balas Samaira sambil tersenyum simpul, merogoh saku tas selempangnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang kertas sebagai ongkos.
"Wah, pas sekali uangnya, Neng. Terima kasih ya. Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil saja saya. Pangkalan becak saya ada di ujung simpang lorong sana," pesan Pak Amat ramah sebelum berbalik dan mengayuh kembali becaknya meninggalkan halaman rumah Samaira.
Samaira menarik napas dalam-dalam, merasakan atmosfer baru yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Kepindahan ini adalah keputusan besar dalam hidupnya—sebuah langkah nekat untuk menata kembali lembaran hidup yang sempat berantakan setelah perceraian dan kebangkrutan usaha kecilnya di ibu kota. Ia ingin mencari ketenangan di tanah kelahiran ibunya ini, berharap waktu dan suasana baru dapat menyembuhkan luka batin yang masih membekas.
Namun, ketenangan itu tidak serta-merta menyambutnya. Baru saja pintu depan rumah terbuka lebar, beberapa pasang mata dari rumah-rumah di sekitarnya mulai melirik penuh selidik. Dari balik tirai jendela rumah sebelah kanan, sesosok perempuan paruh baya berbadan cukup gempal dengan daster batik motif mega mendung tampak mengintip dengan teliti, memperhatikan setiap gerak-gerik Samaira.
Samaira pura-pura tidak memerhatikan tatapan penuh selidik itu. Ia mulai mengangkat koper beratnya melewati ambang pintu kayu yang berderit pelan. Debu tipis tampak melapisi lantai ubin keramik putih yang sudah tampak usang termakan usia. Rumah itu sederhana, namun memiliki pekarangan kecil yang ditumbuhi pohon belimbing wuluh di sudutnya.
"Eh, tetangga baru ya, Dek?" Tiba-tiba sebuah suara nyaring melengking memecah kesunyian di teras samping, membuat Samaira terperanjat kecil dan menghentikan langkahnya di ruang tamu.
Samaira menoleh ke sumber suara. Di dekat pagar kayu pembatas rumah, berdiri seorang perempuan berkerudung oranye menyala dengan tangan berkacak pinggang, menatapnya penuh rasa ingin tahu yang teramat besar.
"Ah, iya, Bu. Baru saja datang sore ini," jawab Samaira sopan sambil melangkah mendekati pagar pembatas.
"Oh, pendatang baru toh! Dari mana asalnya? Suaminya mana kok tidak kelihatan ikut mengangkat barang? Sendirian saja pindah ke sini? Wah, perempuan muda tinggal sendirian di rumah besar begini zaman sekarang rawan lho, Dek," cecar perempuan itu bertubi-tubi tanpa jeda, seolah sedang melakukan interogasi polisi.
Samaira mengerjap, sedikit kaget dengan gaya bicara tetangga barunya yang sangat blak-blakan. "Saya dari Jakarta, Bu. Untuk sementara memang tinggal sendiri di sini."
"Astaga, dari Jakarta rupanya! Pantesan gayanya modis banget, beda sama ibu-ibu sini dasteran terus. Kenalkan, saya Mbak Yati, rumah saya tepat di sebelah kiri rumahmu ini. Kalau ada apa-apa, teriak saja, nanti saya dengar," ujar perempuan itu memperkenalkan diri dengan suara yang masih cukup keras hingga beberapa anak tangga rumah seberang ikut menoleh ke arah mereka.
"Iya, Mbak Yati. Terima kasih banyak sambutannya. Saya Samaira," jawab Samaira dengan senyum ramah yang dipaksakan, berusaha meredam rasa canggung yang mendadak menyerang sekujur tubuhnya.
"Nah, Samaira! Nama yang cantik. Tapi ya, Dek Samaira, hati-hati lho kalau tinggal di lorong ini. Gosip di sini cepat sekali menyebar melebihi kecepatan kilat. Kalau tetangga-tetangga tahu kamu tinggal sendiri tanpa suami, pasti nanti banyak omongan miring yang tidak-tidak," ucap Mbak Yati dengan nada sok akrab namun menyiratkan peringatan tajam.
Samaira menghela napas pendek di dalam hati. Ia menyadari bahwa hidup di perkampungan padat penduduk berarti harus siap kehilangan sebagian privasi, namun ia tidak menyangka sambutan pertamanya akan langsung dibumbui oleh aroma gosip desa yang pekat.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh temaram lampu neon jalanan lorong yang berdengung pelan. Samaira baru saja selesai merapikan beberapa pakaian di dalam lemari kayu tua ketika suara ketukan pintu depan berbunyi nyaring. Tok, tok, tok!
Dengan rasa penasaran bercampur sedikit rasa waswas, Samaira melangkah menuju pintu utama dan membukanya perlahan. Di hadapannya berdiri seorang perempuan paruh baya berwajah tirus dengan rambut disanggul rapi, mengenakan baju kurung sederhana berwarna hijau lumut. Di tangannya, ia membawa sebuah piring seng beralaskan daun pisang yang berisi beberapa potong kue gandus hangat bertaburan ebi.
"Malam, Nak. Saya Bu RT setempat, nama ibu Siti. Maaf mengganggu malam-malam, tapi saya ke sini mau mengantarkan sedikit jajanan tradisional untuk tetangga baru," ucap Bu Siti dengan senyum ramah namun sorot matanya mengamati penampilan Samaira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Samaira merasa sedikit lega sekaligus canggung menyambut kedatangan ketua RT tersebut. "Oh, malam, Bu RT. Silakan masuk, Bu. Repot-repot amat malam begini datang membawakan kue."
"Tidak apa-apa, Nak Samaira. Sudah kebiasaan di kampung kita kalau ada warga baru harus disambut dengan baik supaya kenal lingkungan," ujar Bu Siti sambil melangkah masuk ke ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan duduk lebih lama. Ia langsung mengambil tempat di atas kursi kayu jati tua.
Samaira ikut duduk di hadapan Bu RT, merasa posisinya seperti seorang siswi yang sedang menghadap guru disiplin di ruang BK. "Terima kasih banyak ya, Bu. Kuenya kelihatan enak sekali."