Menembus Tembok Adaptasi

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Surat Lewat Pos

Suara ketukan pintu kayu berderit nyaring di tengah kesunyian petang yang merayap di rumah petak kontrakan Arkan. Di atas meja kayu lapuk yang hanya berlapis selembar taplak plastik bermotif bunga kusam, sebuah lampu bohlam 15 watt menggantung rendah, memancarkan cahaya kuning redup yang nyaris menyerah pada pekatnya malam. Arkan baru saja meletakkan cangkir kopi hitamnya yang tersisa ampas. Ia mengusap wajahnya yang kusam dengan telapak tangan, merasakan sisa debu pabrik baja yang seharian menempel di pori-pori kulitnya.

"Siapa malam-malam begini?" gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri. Di tempat sekecil ini, setiap suara ketukan selalu membawa dua kemungkinan: kalau bukan pemilik kontrakan yang menagih sewa bulanan, ya tetangga sebelah yang ingin meminjam kompor minyak.

Arkan bangkit dari bangku plastik hijau yang patah salah satu kakinya. Dengan langkah gontai karena otot-otot kakinya masih merenggang kaku selepas jam lembur di gudang logistik, ia membuka pintu selebar bahu.

Udara malam kota yang basah oleh sisa hujan sore langsung menyergap masuk, membawa bau aspal basah dan asap kendaraan. Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jaket oranye pudar dengan logo institusi pos yang warnanya sudah mulai mengelupas di bagian dada. Di tangannya terselip sebuah buku catatan kecil dan beberapa amplop surat.

"Atas nama Arkan Kusuma?" tanya tukang pos itu dengan suara serak, napasnya sedikit terengah-engah setelah menaiki tangga beton kontrakan berlantai dua tersebut.

Arkan mengerjap beberapa kali, terkejut. Di era ketika kebanyakan orang sudah beralih menggunakan pesan singkat seluler atau telepon umum warung telekomunikasi (wartel) untuk urusan mendesak, menerima surat fisik adalah sebuah kemewahan yang langka, bahkan hampir punah bagi para perantau kelas pekerja sepertinya.

"Ya, benar, Pak. Saya sendiri Arkan," jawab Arkan cepat, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

Tukang pos itu merogoh saku jaketnya yang tebal, lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih kekuningan yang tampak agak lecek di bagian sudutnya. "Ini ada surat untukmu. Tolong tanda tangani di sini, Mas."

Arkan menerima buku catatan dan sebatang pulpen bermata tumpul yang disodorkan sang tukang pos. Tangannya menorehkan tanda tangan dengan goresan agak gemetar di atas kolom kertas yang mulai basah oleh titik-titik embun malam. Setelah mengembalikan pulpen tersebut, tukang pos itu mengangguk singkat lalu berbalik menuruni tangga tanpa banyak bicara, meninggalkan Arkan seorang diri di depan pintu yang terbuka.

Arkan menutup pintu perlahan. Ia kembali duduk di bangkunya di bawah cahaya bohlam yang temaram. Di tangannya, amplop putih itu terasa begitu berat, bukan karena bobot kertasnya, melainkan karena cap pos yang tertera di sudut kiri atasnya menunjukkan stempel kantor pos asal kampung halamannya di pedalaman perbukitan.

Jantung Arkan berdegup kencang. Selama tiga bulan merantau ke kota metropolitan ini, komunikasi dengan ibunya di kampung hanya dijembatani oleh sambungan telepon umum koin di sudut jalan yang sering kali terputus-putus dan dipenuhi suara bising kendaraan. Kehadiran secarik surat fisik ini terasa begitu kontras dengan dunia modern yang bergerak serba cepat, instan, namun rapuh. Di tengah ketidakpastian nasibnya di kota yang kejam ini, surat itu adalah sauh emosional yang menghubungkannya kembali pada akar kehidupan yang ia tinggalkan.

"Dari siapa ini? Apakah ada kabar buruk di rumah?" bisik Arkan pada udara kosong, sementara jari-jarinya yang kasar meraba pinggiran amplop, ragu-ragu untuk merobek segel kertasnya.

❖ ❖ ❖

Arkan menatap lekat-lekat tulisan tangan di bagian depan amplop tersebut. Itu bukan tulisan ibunya. Garis hurufnya terlalu tegas, lurus, dan kaku—karakter tulisan tangan seorang guru sekolah dasar pensiunan yang dulu sering mengajarinya berhitung di balai desa. Itu adalah tulisan tangan Paklik Marto, paman sekaligus orang yang dulu memberikannya rekomendasi kerja untuk berangkat ke kota.

"Kenapa harus lewat pos? Kenapa tidak menelepon saja lewat wartel seperti biasa?" Arkan bermonolog, rasa cemas mulai merambati sekujur dada. Di perantauan, surat fisik jarang sekali membawa berita yang bersifat sepele. Biasanya, surat pos dari kampung datang membawa kabar duka, utang piutang yang mendesak, atau persoalan tanah warisan keluarga yang rumit.

Dengan ujung kuku ibu jarinya yang hitam karena noda oli mesin pabrik, Arkan perlahan menyobek sisi atas amplop putih tersebut. Ia mengeluarkan selembar kertas bergaris buku tulis biasa yang dilipat rapi menjadi dua bagian. Kertas itu berbau khas lem kanji lama dan aroma lemari kayu tua di rumah kampung.

Ia membentangkan kertas tersebut di atas meja kayu di bawah sorotan lampu kuning yang berdengung halus. Matanya menyusuri setiap baris kalimat yang ditulis menggunakan tinta bolpoin biru tua.

Arkan menarik napas panjang, meredakan ketegangan di pundaknya. Setidaknya, ibunya dalam keadaan sehat. Namun, kalimat berikutnya dari surat itu langsung membuat matanya membelalak lebar.

Tanah pekarangan disita? Otak Arkan mendadak terasa kosong. Jumlah uang yang disebutkan dalam surat itu bukanlah angka yang kecil bagi ukuran keluarganya. Itu setara dengan gaji bersihnya bekerja sebagai buruh bongkar muat di pabrik selama empat bulan penuh, dengan asumsi ia tidak makan dan tidak membayar sewa kontrakan sama sekali.

"Sial..." Arkan mengumpat pelan sambil meremas ujung kertas surat tersebut tanpa sadar.

Jepitan ekonomi keluarga di kampung kini berpindah secara telak ke pundaknya yang masih muda. Kota besar ini belum sepenuhnya menerimanya dengan kemakmuran, tetapi beban masa lalu di desa sudah datang menagih pertanggungjawaban. Di tengah modernitas kota yang menawarkan sejuta ilusi kemudahan, ia sadar bahwa dirinya hanyalah sehelai daun kering yang siap diterbangkan angin kapan saja.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, deru mesin pabrik baja berputar jauh lebih bising dari biasanya. Arkan berdiri di samping ban berjalan yang mengangkut batangan-batangan besi panas dengan peluh yang mengucur deras membasahi seragam kerjanya yang kusam. Pikirannya tidak berada di tempat itu; bayangan surat dari Paklik Marto terus berkelebat di kepalanya, menari-nari di antara percikan api las dan suara benturan besi berat.

"Hei, Arkan! Jangan melamun di dekat mesin pres itu, bisa buntung tanganmu nanti!" tegur Hartono, seorang senior di bagian gudang yang berusia kepala empat, sambil menepuk bahu Arkan dengan keras hingga pemuda itu nyaris tersandung tumpukan palet kayu.

Arkan mengerjap, menarik tubuhnya menjauh dari mesin pemotong baja. "Ah, maaf, Pak Hartono. Saya kurang konsentrasi hari ini."

Hartono mematikan sejenak mesin kecil yang dipegangnya, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia melirik wajah Arkan yang tampak pucat di balik helm keselamatan putihnya. "Kelihatan sekali muka kusutmu sejak pagi. Ada masalah di kampung? Biasanya anak muda kalau murung begitu antara urusan kiriman uang atau urusan perempuan."

Arkan tersenyum pahit, merapikan sarung tangan kanvasnya yang sudah robek di bagian jempol. "Bukan urusan perempuan, Pak. Masalah keluarga di kampung. Tanah pekarangan rumah ibu terancam disita koperasi desa karena urusan utang peninggalan bapak."

Lihat selengkapnya