Menembus Tembok Adaptasi

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Teman Senasib di Perantauan

Suara deru mesin angkutan kota yang berlalu-lalang di luar jendela seolah menjadi alarm alami bagi Arkan setiap pukul enam pagi. Di kamar kosnya yang sempit dan berbau apek, pemuda itu sudah duduk termenung di tepi kasur tipisnya. Punggungnya terasa kaku akibat tidur di atas alas semen yang hanya dilapisi tikar tipis dan seprai murah bercorak pudar. Matanya menyisakan lingkaran hitam pekat, bukti nyata dari malam-malam panjang yang dihabiskannya dalam kegelisahan seorang perantau baru di kota besar yang kejam.

"Hari ini harus dapat balasan positif dari pabrik tekstil itu," gumam Arkan pelan, suaranya terdengar serak dan berat di dalam ruangan yang sunyi.

Ia bangkit, merapikan kemeja putihnya yang sudah disetrika seadanya menggunakan setrika arang pinjaman milik tetangga kos sebelah, lalu menyambar tas ransel lusuh yang berisi setumpuk berkas lamaran kerja. Langkah kakinya terasa berat saat menuruni tangga kayu berderit menuju lantai bawah. Udara pagi kota yang disesaki polusi kendaraan langsung menyambutnya begitu ia mendorong pintu pagar besi berkarat.

Perjalanan menuju kawasan industri tempat ia menjadwalkan wawancara kerja hari ini memakan waktu hampir satu jam menggunakan bus kota yang berdesak-desakan. Arkan berdiri di dalam bus yang penuh sesak, berpegangan pada besi gantungan atas sambil menjaga tas dokumen di dadanya agar tidak tertekan penumpang lain. Keringat dingin sudah mulai membasahi pelipisnya, bukan hanya karena suhu di dalam bus yang panas, tetapi juga karena rasa cemas yang menggelayut di dadanya. Ini sudah lamaran yang ketujuh belas dalam kurun waktu tiga minggu terakhir. Tabungannya di dompet kini hanya menyisakan lembaran seratus ribuan terakhir yang harus dihemat untuk makan tiga hari ke depan.

"Awas, Mas, jangan melamun!" bentak seorang kondektur bus bertubuh gempal yang mendesak lewat di antara kerumunan penumpang.

"Ah, maaf, Pak," jawab Arkan cepat sambil merapatkan tubuhnya ke dinding bus.

Setibanya di depan gerbang pabrik tekstil berskala menengah yang dituju, Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia merapikan kerah kemejanya, menyeka keringat di dahi dengan sehelai tisu saku, lalu melangkah pasti melewati pos satpam setelah menyerahkan kartu identitasnya.

Di ruang tunggu kantor personalia, sudah duduk beberapa pelamar lain berjas rapi dengan dasi melingkar sempurna di leher mereka. Melihat penampilan mereka yang tampak begitu percaya diri dan berasal dari universitas ternama, rasa minder seketika mencengkeram hati Arkan. Ia hanya lulusan SMA dari sebuah kota kecil di ujung provinsi, bermodal nekat dan ijazah paket C serta keterampilan mengetik cepat yang dipelajarinya secara otodidak di warnet kampung.

"Arkan Pratama?" panggil seorang wanita berhijab rapi dari balik meja resepsionis administrasi dengan suara lantang.

"Ya, saya, Mbak!" jawab Arkan spontan, langsung berdiri tegak dari kursi plastik hijau tempatnya menunggu.

"Silakan masuk ke ruang wawancara nomor tiga di sebelah ujung koridor."

"Baik, terima kasih banyak."

Arkan melangkah memasuki ruangan ber-AC dingin yang aromanya berbanding terbalik dengan kamar kosnya yang pengap. Di dalam sana, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sudah menanti di balik meja kerja kayu jati yang mengilap, memandangi berkas lamaran milik Arkan dengan tatapan tajam menyelidik.

"Silakan duduk, Arkan," ucap pria bernameetag bernama Pak Hartono itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar curriculum vitae.

"Terima kasih, Pak," kata Arkan sambil menarik kursi dan duduk dengan posisi tegap namun kaku.

Wawancara berlangsung selama kurang lebih tigapuluh menit. Pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman kerja masa lalu, kemampuan mengoperasikan komputer, hingga kesiapan menghadapi tekanan lembur dilontarkan secara bergantian. Arkan menjawab semuanya dengan jujur, sesekali terbata-bata karena gugup, namun sorot matanya memancarkan tekad kuat yang tidak bisa disembunyikan.

"Baiklah, Arkan. Berkas dan jawabanmu sudah saya catat. Kami akan memberikan pengumuman hasil seleksi tahap akhir ini melalui pesan singkat atau telepon dalam waktu tiga hari ke depan. Silakan tunggu di rumah," ucap Pak Hartono sambil menutup map biru milik Arkan.

"Baik, Pak Hartono. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan," balas Arkan sopan, lalu berdiri, membungkuk sedikit, dan berjalan keluar ruangan dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas menanti kepastian.

❖ ❖ ❖

Sore hari menjelang magrib, Arkan memutuskan untuk mampir sejenak di sebuah warung kopi sederhana berukuran tiga kali tiga meter di dekat halte busway. Warung itu dipenuhi oleh para pekerja pabrik yang baru saja pulang lembur, menikmati secangkir kopi tubruk dan gorengan hangat sambil melepas penat. Arkan memilih duduk di bangku kayu panjang di sudut ruangan yang agak sepi, memesan segelas teh manis hangat dan satu buah tempe goreng tepung untuk mengganjal perutnya yang sejak siang tadi belum diisi makanan berat.

Ia mengeluarkan dompet kulit sintetisnya yang sudah mengelupas di bagian pinggir, lalu menghitung sisa uang kertas di dalamnya.

"Tinggal delapan puluh ribu rupiah... Kalau tiga hari lagi belum ada panggilan kerja, aku harus bagaimana makan minggu depan?" bisik Arkan pelan, menatap sendu lembaran uang kusut di tangannya.

"Kalau pusing mikirin uang sisa, jangan dihitungin terus, Mas. Nanti malah bikin mi instan jadi terasa makin hambar," tiba-tiba sebuah suara ramah terdengar dari samping bangku tempatnya duduk.

Arkan terperanjat, lalu menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda seusianya, mengenakan jaket denim belel dengan tas ransel tersampir di satu bahu, duduk sambil meletakkan segelas kopi hitam di atas meja kayu. Pemuda itu memiliki potongan rambut pendek berantakan, kulit sawo matang, dan senyum lebar yang memperlihatkan keramahan khas orang perantauan.

"Eh, maaf, Mas," kata Arkan sedikit canggung, buru-buru menutup dompetnya.

"Santai saja, bro. Kenalin, nama gua Galih. Gua perhatiin dari tadi muka lu kusut banget kayak cucian belum disetrika. Lagi ada masalah besar ya?" tanya Galih blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, namun nada bicaranya sama sekali tidak menyebalkan—malah terasa begitu akrab.

Arkan tersenyum tipis, merasa sedikit lega karena ada orang yang sudi memerhatikan kondisinya di tengah kota yang acuh tak acuh ini. "Gua Arkan. Baru pindah ke kosan daerah Setiabudi minggu lalu. Lagi pusing cari kerjaan tetap, tapi dari belasan lamaran baru satu dua yang manggil, itu pun belum ada kejelasan."

Galih mengangguk-angguk paham, lalu menyeruput kopi hitamnya perlahan. "Wah, senasib dong kita. Gua malah udah sebulan lebih nganggur waktu pertama kali injak kaki di kota ini. Tidur di mushola stasiun, makan cuman sekali sehari, sampai hampir mau nyerah dan pulang kampung naik truk sayur."

"Serius lu, Galih?" tanya Arkan penasaran, sedikit tertegun mendengar cerita pemuda di depannya itu.

"Iya, beneran! Hidup di perantauan emang nggak seindah FTV sore, Arkan. Mental kita diuji setiap hari sama dompet tipis, tuan rumah kos yang hobi nagih uang sewa tepat waktu, dan rindu rumah yang kadang datang pas malam-malam buta," jawab Galih sambil tertawa kecil, menepuk pundak Arkan pelan. "Tapi ya mau gimana lagi? Kalau kita nyerah sekarang, impian yang kita bawa dari kampung bakal jadi ketawaan orang-orang yang dulu meremehkan kita."

Perkataan Galih itu menghunjam tepat ke dalam hati Arkan. Ada rasa hangat yang mendadak merayap di dadanya, mencairkan sedikit demi sedikit kebekuan dan rasa kesepian yang selama ini menghimpitnya di kamar kos yang sempit.

"Lu benar, Galih. Kadang rasanya pengen balik kanan aja, tapi inget muka ibu di rumah bikin kaki ini rasanya berat banget buat nyerah," aku Arkan jujur, suaranya sedikit bergetar menahan haru.

"Nah, gitu dong! Jangan pesimis duluan. Oh ya, lu tadi dari daerah industri mana? Siapa tahu gua bisa bantu kasih info lowongan di tempat temen gua kerja," tanya Galih antusias sambil mengeluarkan ponsel android layarnya yang sudah retak di bagian sudut dari saku jaketnya.

❖ ❖ ❖

Pertemuan tidak sengaja di warung kopi itu menjadi titik balik pertemanan antara Arkan dan Galih. Sejak malam itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama selepas jam pencarian kerja—entah sekadar makan mie instan di warung kelontong langganan atau duduk-duduk di emperan toko membicarakan rencana masa depan. Galih terbukti menjadi sosok teman senasib yang sangat diandalkan untuk mendongkrak mental Arkan yang kerap jatuh.

Lihat selengkapnya