Menembus Tembok Adaptasi

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Aroma Masakan Ibu

Udara sore di pekarangan belakang rumah keluarga Arkan di Palembang selalu membawa kehangatan yang khas, bercampur dengan aroma basah tanah liat yang tersiram gerimis tipis dan wangi rempah dapur yang membakar selera. Samaira berdiri di dekat sumur tua berkeramik pualam putih, memperhatikan kepulan asap tipis dari tungku kayu bakar tradisional tempat Bibi Rahma memasak. Di atas tungku itu, sebuah kuali besar berisi gulai nangka muda mendidih perlahan, mengeluarkan aroma santan, lengkuas, dan serai yang langsung menggelitik indra penciumannya.

Samaira menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi ketenangan sesaat yang tercipta di antara riuhnya kebun belakang rumah bergaya tradisional limas tersebut. Di tangannya, sehelai syal wol berwarna biru tua milik Arkan melilit longgar di lehernya. Syal itu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kepergian Arkan, sebuah pelindung dari dinginnya malam sekaligus pengingat hampa bahwa pria yang dicintainya tidak akan pernah lagi pulang ke pelukannya.

"Kau melamun lagi, Nak," suara lembut Bibi Rahma menginterupsi keheningan. Wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipis itu membalikkan ikan di atas panggangan sabut kelapa menggunakan sepasang bilah bambu. Wajahnya yang keriput menyimpan guratan kelelahan, tetapi sorot matanya memancarkan kehangatan seorang ibu yang tulus.

Samaira tersenyum tipis, lalu mendekati tungku perapian dan mengambil bangku kecil dari kayu nangka untuk duduk di samping Bibi Rahma. "Tidak, Bibi. Aku hanya... teringat sesuatu. Aroma gulai ini mengingatkan Samaira pada masakan ibu di rumah, meskipun bumbunya sedikit berbeda."

"Palembang punya cara sendiri untuk merawat kenangan lewat rasa, Samaira," ujar Bibi Rahma sambil tersenyum ramah, tangannya tetap lincah mengipasi bara api agar tetap menyala stabil. "Arkan dulu sangat menyukai gulai nangka buatan bibi ini. Setiap kali ia pulang liburan kuliah dari Bandung, hal pertama yang ia cari bukanlah kamar tidurnya, melainkan mangkuk sup di meja makan dapur ini."

Mendengar nama Arkan disebut, dada Samaira mendadak terasa sesak. Ada ruang kosong yang begitu besar setiap kali bayangan pria itu melintas di benaknya. Selama ini, Arkan selalu menceritakan banyak hal tentang mimpinya, tentang masa depannya bersama Samaira, tetapi ia sangat tertutup mengenai keluarganya di Palembang. Baru setelah kepergiannya, Samaira memutuskan untuk datang ke kota ini, menelusuri jejak-jejak masa lalu Arkan, dan tanpa sengaja menemukan tempat di mana pria itu dibesarkan.

"Arkan tidak pernah banyak bercerita tentang masa kecilnya di sini, Bi," ucap Samaira pelan, menatap bara api yang berpendar merah di dalam tungku. "Ia selalu bilang masa lalunya adalah sebuah lembaran buku yang sudah lama tertutup rapat."

Bibi Rahma berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia melepaskan kipas bambu dari tangannya, lalu menatap Samaira lekat-lekat dengan pandangan yang menyiratkan beban emosional yang mendalam. "Arkan anak yang keras kepala, Samaira. Sama seperti ayahnya. Ia meninggalkan rumah ini karena sebuah prinsip besar yang tidak sejalan dengan tradisi keluarga kami. Ia memilih jalan hidupnya sendiri di Bandung, jauh dari bayang-bayang kekayaan dan kekuasaan keluarganya yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak selalu bersih."

Samaira mengerutkan keningnya, rasa penasaran yang selama ini tersimpan kembali bergolak di dalam dadanya. "Apakah karena masalah tanah dan bisnis keluarga itu, Bi? Dokumen-dokumen yang Arkan simpan di kotak kayu..."

Sebelum Samaira sempat menyelesaikan kalimatnya, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah pintu belakang rumah utama. Suasana hangat di pekarangan itu mendadak membeku dalam hitungan detik.

❖ ❖ ❖

"Bibi Rahma, apa yang sedang ibu lakukan di sini bersama gadis asing ini?" suara dingin dan penuh otoritas memecah keheningan sore.

Seorang wanita paruh baya berbusana elegan dengan selendang songket mewah melilit di bahunya muncul dari balik pintu dapur. Wajahnya keras, dihiasi riasan tipis yang tidak mampu menyembunyikan garis-garis ketegangan di sekitar bibirnya. Wanita itu adalah ibu kandung Arkan—nyonya besar di rumah keluarga besar tersebut, seseorang yang selama ini paling menentang jalan hidup Arkan.

Bibi Rahma berdiri dengan cepat, menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat kepada nyonya rumah. "Saya hanya sedang memasak makan malam, Nyonya Besar. Dan Samaira hanya menemani saya di sini."

Samaira turut bangkit dari bangku kecilnya, menegakkan tubuhnya dan menatap wanita paruh baya itu tanpa rasa gentar, meskipun jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pertemuan mereka sebelumnya di tepi Sungai Musi menyisakan ketegangan yang belum usai, dan kini ketegangan itu berlanjut di halaman belakang rumah tempat Arkan dibesarkan.

"Menemani?" wanita itu mencibir, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. Matanya menatap Samaira dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Atau kalian sedang merencanakan sesuatu di belakangku? Mencari-cari dokumen lama milik Arkan yang sengaja ia sembunyikan untuk menghancurkan nama baik keluarga kita?"

"Saya tidak sedang merencanakan apa pun, Nyonya," jawab Samaira tegas, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Saya hanya ingin mengenal Arkan lebih jauh melalui orang-orang yang merawatnya, bukan melalui kemarahan dan ambisi yang kalian miliki."

Wanita itu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar dingin tanpa ada rasa humor sama sekali. "Kau pikir kau mengenal Arkan sepenuhnya, gadis Bandung? Arkan adalah seorang pemberontak yang membawa lari rahasia terbesar keluarga ini. Dan kau... kau hanyalah pion kecil yang terseret dalam permainan berbahaya yang tidak kau mengerti."

"Arkan bukan pion!" seru Samaira, emosinya mulai tersulut oleh penghinaan wanita tersebut terhadap mendiang kekasihnya. "Ia adalah manusia yang memiliki hati yang tulus, jauh lebih jujur daripada semua kekayaan dan kehormatan palsu yang kalian banggakan di rumah ini!"

Udara di pekarangan belakang terasa semakin panas, bukan lagi karena bara api dari tungku tradisional, melainkan karena percikan konflik verbal yang siap meledak kapan saja. Bibi Rahma tampak cemas, tangannya saling meremas ujung kain kebaya yang dikenakannya.

"Sudahlah, Nyonya," lerai Bibi Rahma dengan suara gemetar. "Jangan memperkeruh suasana di pekarangan belakang ini. Hari sudah hampir malam, tidak baik bertengkar di dekat dapur."

Ibu Arkan melirik tajam ke arah Bibi Rahma, lalu kembali mengalihkan pandangannya yang penuh kebencian kepada Samaira. "Dengarkan baik-baik, Samaira. Aku memberi waktu sampai malam ini untuk menyerahkan semua barang dan catatan yang ditinggalkan Arkan di kamar tamu. Jika kau keras kepala dan menolak, maka jangan salahkan aku jika kau harus menghadapi akibat dari tindakanmu sendiri."

Setelah melontarkan ancaman terselubung itu, wanita berbusana mewah tersebut berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan pekarangan belakang, meninggalkan jejak sepatu berhak tinggi di atas tanah basah.

Samaira menarik napas panjang, meredakan gejolak amarah di dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, sementara syal biru di lehernya seolah memberikan kekuatan tambahan baginya untuk tetap bertahan.

❖ ❖ ❖

Malam merayap turun dengan cepat, membawa serta kelembapan khas malam hari di Palembang. Setelah kejadian menegangkan di pekarangan belakang tadi, Samaira memilih untuk tidak kembali ke kamar utamanya di rumah besar itu. Ia membantu Bibi Rahma membereskan sisa-sisa alat masak di dapur tradisional, mencari sedikit ketenangan di tengah riuhnya pikiran yang berkecamuk.

Lihat selengkapnya