Suara debur ombak yang menghantam karang terdengar samar dari kejauhan, berpadu dengan desau angin malam yang menderu pelan di luar jendela kaca kapal feri yang melaju membelah Selat Sunda. Udara di dalam kabin terasa dingin, dipompa oleh pendingin ruangan yang berdengung konstan. Di sudut ruangan yang agak remang-remang, Arkan duduk sendiri di atas kursi busa berbalut kain imitasi yang sudah mulai mengelupas di bagian tepinya.
Ia mengenakan jaket parasut hitam berkerah tinggi yang resletingnya ditarik hingga menutupi leher, melindungi tubuhnya dari sisa-sisa hawa laut yang menusuk tulang. Di tangannya, sebuah termos kecil berisi kopi hitam hangat mengepulkan uap tipis yang perlahan buyar di udara. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak mampu menembus dingin yang merayap di dalam dadanya.
Mata Arkan menatap kosong ke luar jendela. Gelapnya malam membuat kaca kapal bertindak seperti cermin, memantulkan wajahnya sendiri: seorang pria paruh baya dengan garis-garis kelelahan yang nyata di sekitar mata, rambut acak-acakan, dan rahang yang mengeras karena menahan beban pikiran yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
"Sudah minum kopi ketiganya, Arkan? Kalau lambungmu bobol di tengah laut ini, urusannya bakal makin panjang," suara bariton yang berat menyapa telinganya.
Bram, rekan kerjanya sesama penyelidik swasta, muncul dari arah pintu palka sambil membawa dua botol air mineral dingin. Ia melangkah hati-hati mengikuti ayunan gelombang kapal, lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah Arkan.
Arkan menoleh sekilas, menarik napas dalam-dalam sebelum meletakkan termos kecilnya di atas meja kecil berlapis melamin di hadapan mereka. "Lambungku masih kuat, Bram. Yang bobol itu justru akal sehatku kalau kita terus-terusan dikejar waktu seperti ini. Target kita bergerak lebih cepat dari perkiraan."
"Namanya juga buronan kelas kakap, Ark. Mereka punya jaringan, uang, dan orang-orang bayaran di setiap sudut pelabuhan," balas Bram sambil membuka tutup botol air mineralnya dan meneguknya perlahan. Ia melirik sahabatnya dengan pandangan menyelidik. "Tapi jujur saja, bukan cuma soal target yang bikin kamu kelihatan seperti mau meledak sejak kemarin. Ada yang lain, kan?"
Arkan terdiam. Pertanyaan Bram tepat sasaran, menohok bagian paling rapuh di dalam dirinya. Ia tidak langsung menjawab. Pikirannya justru melayang jauh meninggalkan bisingnya mesin kapal feri yang bergetar di bawah lantai. Bayangan masa lalu mendadak berkelebat di benaknya—sebuah memori hangat yang selama ini ia simpan rapat-rapat di laci paling dalam ingatannya.
"Kamu ingat Samaira, Bram?" tanya Arkan tiba-tiba, suaranya parau nyaris berbisik, tenggelam di antara deru angin laut.
Bram menghentikan gerakan tangannya yang hendak menutup botol air. Ia menoleh, menatap Arkan dengan alis bertaut. "Samaira? Istri almarhum sahabatmu itu, kan? Kenapa tiba-tiba kamu bawa-bawa namanya di tengah misi berbahaya seperti ini?"
"Karena cuma dia satu-satunya hal yang bisa bikin aku waras di situasi kayak gini," jawab Arkan pelan. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap titik-titik cahaya lampu kapal nelayan di kejauhan yang tampak seperti kunang-kunang di atas permadani hitam pekat.
Bram menghela napas panjang, merespons dengan nada yang lebih melunak. "Aku tahu masa lalu kalian tidak mudah, Ark. Tapi menggantungkan kewarasanmu pada bayangan seseorang yang sudah punya jalannya sendiri... itu bentuk penyiksaan diri yang paling konyol."
"Kamu enggak mengerti, Bram," sangkal Arkan, kepalanya menggeleng pelan. "Samaira bukan cuma sekadar masa lalu. Senyumnya, cara dia bicara waktu dunia di sekeliling kami runtuh... itu benteng pertahananku. Kalau aku enggak mengingat itu, aku mungkin sudah menyerah pada rasa takut sejak kita masuk ke sarang mereka di pelabuhan kemarin."
Bram terdiam mendengar kejujuran itu. Ia tahu persis rekam jejak Arkan. Di balik reputasinya sebagai salah satu agen investigasi independen paling tangguh di ibu kota, Arkan menyimpan luka batin yang dalam akibat kegagalan masa lalunya menyelamatkan orang-orang terdekatnya. Dan di saat-saat genting seperti sekarang, ketika nyawa mereka berada di ujung tanduk, Arkan tidak memiliki perisai mental lain selain kenangan tentang wanita itu.
❖ ❖ ❖
Suasana kabin kapal mendadak terasa semakin sesak ketika ponsel di saku jaket Arkan bergetar pelan. Getaran itu terasa begitu intimidatif di tengah keheningan percakapan mereka berdua. Arkan merogoh saku jaketnya dengan gerakan sigap namun tenang, lalu menarik keluar layar ponsel pintar yang menampilkan sebuah nomor tak dikenal dengan awalan kode area luar negeri.
Ia menatap layar itu selama beberapa detik. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Di dunia hitam tempat mereka bekerja, panggilan dengan nomor anonim di tengah malam buta jarang sekali membawa kabar baik.
"Angkat?" tanya Bram dengan suara berbisik, tubuhnya langsung siaga, matanya mengawasi sekitar kabin yang mulai sepi karena sebagian besar penumpang sudah tertidur lelap.
Arkan menggeleng pelan. "Belum waktunya. Bisa jadi ini pancingan atau pelacak sinyal dari orang-orang suruhan si Bos Besar."
Namun, alih-alih mematikan sambungan, Arkan menekan tombol senyap, membiarkan ponsel itu bergetar hingga berhenti dengan sendirinya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa tegang yang mulai merayap naik ke tenggorokannya. Tekanan psikologis ini dirancang khusus untuk memecah konsentrasi mereka sebelum misi utama dimulai besok pagi.
Melihat ekspresi tegang di wajah sahabatnya, Bram menepuk pundak Arkan pelan. "Kau butuh istirahat, Ark. Tutup matamu barang satu-dua jam. Biar aku yang berjaga di sini."
"Aku tidak bisa tidur, Bram," jawab Arkan jujur, suaranya terdengar berat. Setiap kali ia memejamkan mata di tempat asing seperti ini, bayangan ancaman musuh dan kegagalan masa lalu selalu berkelebat silih berganti, menciptakan kepanikan internal yang menguras energi mentalnya.
"Kalau begitu, gunakan 'cara' itu lagi," ujar Bram bijak, seolah mengerti apa yang sedang bergolak di kepala Arkan. "Ingat apa yang selalu kamu ceritakan tentang bagaimana wanita itu menghadapi badainya sendiri."
Arkan menoleh, menatap Bram dengan sorot mata yang melunak. Kata-kata sahabatnya itu menjadi kunci pembuka bagi ingatannya untuk kembali menyusuri lorong waktu ke beberapa tahun silam, saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya dan tak sengaja bersinggungan dengan kehidupan Samaira.
Saat itu, di sebuah kafe kecil di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan sore, Samaira duduk di hadapannya dengan cangkir teh chamomile yang mengepulkan uap hangat. Wanita itu baru saja melewati hari-hari paling melelahkan dalam hidupnya, menghadapi tekanan korporasi sekaligus badai rumah tangga yang hampir menghancurkan keluarganya.
“Kamu tahu, Arkan?” suara Samaira kala itu terngiang jelas di telinga Arkan. “Ketakutan itu cuma ilusi pikiran kita sendiri. Selama kita tahu di mana posisi kebenaran berada, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang punya kuasa untuk meremukkan jiwa kita, kecuali kalau kita sendiri yang menyerah.”
Senyum yang tersungging di bibir Samaira saat mengucapkan kalimat itu bukanlah senyum kepalsuan. Itu adalah senyum ketulusan yang memancarkan ketenangan luar biasa—sebuah kontras yang sempurna dengan situasi genting yang sedang dihadapi Arkan saat ini di atas kapal yang terombang-ambing di tengah selat.