Plakkk…
Suara tamparan itu memecah keheningan ruang tamu.
Keras. Menggema sampai ke dinding-dinding rumah yang selama ini disebut sebagai rumah tangga.
Kepala Shaliha sedikit terhuyung ke samping. Pipi kirinya langsung memerah, panas menjalar sampai ke telinga. Rasanya seperti terbakar.
Namun ia tidak jatuh.
Ia tetap berdiri.
Matanya tidak menangis. Tidak seperti dulu.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang selama bertahun-tahun ia panggil suami. Wajah pria itu merah padam, napasnya naik turun seperti orang yang kehilangan kendali.
“Berani sekali kamu bicara seperti itu!” bentaknya.
Shaliha mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditampar.
“Aku sudah memikirkannya,” ucapnya pelan.
“Baik-baik.”
Kalimat itu justru membuat pria itu semakin murka.
“Memikirkan apa?!” suaranya meninggi.
“Perceraian? Kamu pikir semudah itu meninggalkan rumah ini?!”
Shaliha menatap sekeliling ruang tamu itu. Sofa coklat yang dulu ia pilih dengan penuh harapan. Rak buku kecil yang pernah ia tata sambil tertawa bersama anak-anak.
Semuanya terlihat sama.
Tapi rasanya sudah lama tidak lagi seperti rumah.
“Aku berangkat besok,” katanya akhirnya.
“Sama anak-anak.”
Plakkk!
Tamparan kedua mendarat lebih keras.
Kali ini tubuh Shaliha benar-benar terdorong setengah langkah ke belakang. Bibirnya pecah sedikit. Ia bisa merasakan rasa asin darah di lidahnya.
Sunyi.
Detik itu terasa panjang.
Pria di depannya menatap dengan napas memburu, seolah berharap Shaliha akan menangis. Memohon. Atau menarik kembali kata-katanya seperti biasanya.
Tapi tidak.
Shaliha justru tersenyum kecil.
Senyum yang membuat pria itu mengernyit.
“Kenapa kamu tersenyum?!” bentaknya.
Shaliha mengangkat tangan dan menyentuh pipinya yang panas.
“Mau seratus tamparan pun…” katanya pelan,
“…keputusan aku tetap sama.”
Tatapan mereka saling beradu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada rasa takut di mata Shaliha.
Pria itu mendengus marah.
“Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?”
Shaliha tidak langsung menjawab.
Dalam kepalanya, potongan-potongan kenangan berkelebat.
Hari pernikahan mereka.
Janji-janji manis.