Menepi untuk pulih

sudiani
Chapter #2

Chapter 02


Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena rumah itu sepi. Justru karena terlalu penuh—penuh kenangan, penuh luka, penuh hal-hal yang tidak lagi bisa Shaliha pertahankan.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menanam sabar di rumah itu. Sepuluh tahun ia mencoba percaya bahwa semuanya akan membaik. Tapi pagi ini, ia sadar… ada hal yang memang tidak ditakdirkan untuk diperbaiki. Hanya ditinggalkan.

Shaliha berdiri di depan pintu, menggenggam koper kecil yang bahkan tak cukup untuk memuat seluruh hidupnya. Di belakangnya, dua anaknya berdiri diam, memandang ibunya dengan mata yang belum sepenuhnya mengerti, tapi cukup untuk merasa.

“Bunda… kita beneran pergi?” tanya si kecil lirih.

Shaliha menelan ludah. Tersenyum.

“Iya, Sayang. Kita pergi… cari rumah yang lebih tenang.”

Ia tidak bilang “lebih bahagia”.

Karena bahkan ia sendiri belum tahu bagaimana bentuk bahagia itu sekarang.

Di ruang tengah, Brama Hadi duduk santai, seolah tak ada yang sedang runtuh. Tatapannya datar, dingin, seperti keputusan Shaliha bukan sesuatu yang penting untuk ditahan.

“Silakan pergi kalau itu maumu,” ucapnya tanpa melihat.

Tak ada amarah. Tak ada penyesalan.

Lebih menyakitkan dari itu—tak ada peduli.

Shaliha menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Barangkali… ada satu kalimat yang bisa menghentikannya.

“Jangan pergi.”

Atau setidaknya…

“Maaf.”

Tapi tidak ada.

Yang ada hanya suara televisi yang menyala pelan, seolah hidup mereka hanya jeda iklan yang bisa dilewati begitu saja.

Shaliha mengangguk kecil, lebih pada dirinya sendiri.

“Baik.”

Suaranya pelan, tapi cukup untuk menutup semua harapan yang tersisa.

Ia melangkah keluar.

Tidak ada yang menahan.

Tidak ada yang mengejar.

Dan mungkin… itu jawaban paling jujur dari semuanya.

Lihat selengkapnya