Perjalanan panjang dari Tangerang menuju Surabaya dimulai tanpa gemuruh, tanpa perpisahan yang layak, tanpa pelukan yang menahan langkah. Hanya ada satu bungkus nasi Padang yang mereka bagi bertiga—hangatnya sederhana, namun menjadi saksi awal dari kehidupan yang sama sekali baru.
Di dalam bus yang melaju perlahan menembus malam, Shaliha memilih kursi dekat jendela. Ia memandangi luar tanpa benar-benar melihat. Lampu-lampu jalan berlarian seperti kenangan yang tak sempat ia genggam, sementara bayangan pepohonan dan perbukitan Jawa Barat melintas seperti potongan hidup yang perlahan ia tinggalkan.
Pemandangan itu indah—terlalu indah untuk hati yang sedang kosong.
Bukan penyesalan karena pergi yang memenuhi dadanya. Tidak. Ia tidak menyesal meninggalkan semua itu. Yang menghantui justru satu pertanyaan yang terus berulang, seperti bisikan yang tak mau diam: kenapa baru sekarang?
Kenapa ia baru berani melangkah setelah luka itu terlalu dalam? Kenapa ia baru memilih pergi setelah anak-anaknya terlalu lama menyaksikan penderitaan?
Shaliha menghela napas panjang, menahan sesuatu yang terasa sesak di tenggorokan. Ia sadar, mungkin keputusannya terlihat bodoh—pergi tanpa rencana matang, tanpa bekal yang cukup, bahkan tanpa kepastian. Tapi di dalam dirinya, ada satu keyakinan yang tak bisa ia sangkal:
Lebih baik berjalan dalam ketidakpastian, daripada tinggal dan memeluk luka yang sama setiap hari.
Ia menoleh pelan ke samping.