Surabaya hanyalah persinggahan. Kota besar dengan hiruk-pikuk yang tidak pernah benar-benar tidur itu, menjadi saksi diam atas perjalanan panjang yang belum usai. Bagi orang lain, Surabaya mungkin penuh cahaya, penuh harapan, penuh peluang. Tapi bagi Shaliha, kota ini hanyalah tempat singgah yang terasa dingin, asing, dan kejam.
Langit pagi tampak pucat, seolah ikut menahan lelah yang menggantung di udara. Shaliha duduk di kursi ruang tunggu terminal, menggenggam tas lusuh yang sejak kemarin tak pernah lepas dari tangannya. Di sampingnya, kedua anaknya bersandar dengan tubuh lemah. Mata mereka sayu, wajah mereka pucat. Tidak ada lagi tawa seperti biasanya.
Tidak ada lagi sebungkus nasi Padang seperti kemarin.
Yang kemarin… ternyata adalah yang terakhir.
Perut mereka kosong. Bukan sekadar lapar biasa, tetapi lapar yang perlahan menggerogoti kesadaran. Lapar yang membuat kepala terasa ringan, pandangan berkunang-kunang, dan hati menjadi rapuh.
Shaliha menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali minum dengan cukup. Uang yang tersisa… sudah habis. Tidak ada lagi yang bisa ia tukarkan dengan makanan, bahkan sekadar sepotong roti.
Ia menunduk.
Hatinya menjerit.
Perih.
Sangat perih.
“Bun…” suara kecil itu memanggil pelan. Anak bungsunya menatap dengan mata penuh harap, meskipun harapan itu sendiri tampak mulai pudar. “Kita makan apa hari ini?”
Pertanyaan sederhana itu menghantam dada Shaliha seperti palu.
Ia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Kata-kata terasa tersangkut di tenggorokan. Ia ingin berkata “sebentar lagi,” ingin berkata “tunggu ya,” ingin memberikan janji yang menenangkan seperti biasanya.
Tapi kali ini… ia tahu ia tidak punya apa-apa untuk dijanjikan.
Tangannya gemetar ketika mengusap kepala anaknya. Senyum tipis ia paksakan, meskipun terasa begitu berat.
“Sabar ya, Nak…” suaranya hampir tak terdengar. “Kita… nanti makan.”
Kata “nanti” terasa begitu kosong.
Anaknya hanya mengangguk pelan. Tidak menangis, tidak merengek. Justru itulah yang membuat hati Shaliha semakin hancur. Anak sekecil itu sudah belajar menahan diri, seolah mengerti bahwa ibunya sedang berjuang di batas terakhir.
Shaliha memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ini adalah titik terendahnya.
Ia, yang selama ini berusaha menjadi ibu yang kuat, kini bahkan tidak mampu memberi makan anak-anaknya.
Ia merasa gagal.
Gagal sebagai seorang ibu.
Gagal sebagai pelindung.
Gagal sebagai tempat pulang.
Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti kesalahan. Keputusan untuk pergi… yang dulu terasa seperti satu-satunya jalan, kini berubah menjadi beban yang menghimpit dadanya.