Bus itu melaju perlahan, meninggalkan Surabaya tanpa menoleh lagi. Jalanan panjang di Jawa Timur menjadi saksi bisu atas luka yang tak kasatmata—luka yang dipendam rapat di dalam dada Shaliha. Tidak ada darah, tidak ada suara jeritan, tetapi rasa sakit itu nyata, menyesakkan, dan nyaris melumpuhkan.
Barangkali, siapa pun akan runtuh jika melihat anak-anaknya—yang bahkan belum mengerti arti kehidupan—harus bertahan dalam pelukan lapar. Dunia terasa begitu kejam, seolah merenggut masa kecil mereka tanpa izin.
Rino, bocah laki-laki berusia lima tahun itu, menatap ibunya dengan mata yang terlalu mengerti untuk seusianya. Ia tidak banyak bertanya, tidak merengek seperti anak-anak lain. Seolah ia tahu, bundanya sedang berperang—bukan dengan siapa-siapa, melainkan dengan pikirannya sendiri. Perang yang sunyi, tetapi menguras seluruh harapan.
Putus asa sempat menyelinap, menggerogoti setiap sudut hati Shaliha. Namun di antara retakan itu, masih ada sisa keyakinan yang ia genggam erat. Ia boleh lelah, ia boleh rapuh, tetapi dua anaknya harus tetap hidup. Jika harus memberi nama pada perasaannya saat ini, mungkin itu bukan lagi harapan—melainkan kepasrahan yang dipaksakan untuk tetap berdiri.
Anehnya, di tengah kehancuran itu, Shaliha tidak pernah benar-benar menyesali keputusannya. Luka ini memang dalam, tetapi tinggal dalam luka yang lebih lama adalah kematian yang perlahan. Ia memilih pergi, meski harus berjalan di atas perih yang tak bertepi.
Entah kapan, entah bagaimana, Shaliha hanya ingin percaya—suatu hari nanti ia akan melihat senyum tulus di wajah anak-anaknya. Senyum yang lahir bukan dari penderitaan, tetapi dari kehidupan yang akhirnya berpihak.
Namun, satu pertanyaan terus menggema di relung terdalam hatinya…
Apakah ia sendiri masih mampu tersenyum setelah semua ini?
Perjalanan menuju Denpasar terasa begitu panjang, begitu sunyi, dan begitu menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan daripada saat ia memutuskan untuk pergi. Karena kali ini, ia tidak hanya meninggalkan masa lalu—ia juga sedang menghadapi kenyataan yang jauh lebih kejam daripada bayangannya sendiri.