Sastra Darmawan yang dibelakang namanya bertitel S.Pd, merupakan guru tetap di salah satu sekolah Negeri Wonosobo. Dedikasinya sangatlah bagus. Guru yang lain selalu memberikan apresiasi pada Sastra–sebagai guru teladan, yang mengemban tugas sangatlah mulia. Selain penuh tanggung jawab, juga kreatif dalam membuat metode pengembangan media belajar untuk siswa kelas 1 SD. Sastra juga selalu mengajarkan kedisiplinan pada anak, seperti tepat waktu datang ke sekolah. Walaupun ada sebagian anak yang masih terlambat dan perlu bantuan orang tua untuk mengkondisikan. Harapannya, anak-anak bisa berprestasi meskipun dalam kurikulum merdeka tidak memberlakukan anak yang belum lancar membaca dan menulis harus mengulang lagi di kelas. Sehingga pada realitanya masih banyak anak yang belum memenuhi standar nilai akademik, bahwa anak itu telah berhasil di kelas 1 dan bisa melanjutkan ke kelas berikutnya.
Sastra membuat berkas laporan tentang data statistik dari berbagai sumber informasi yang didapatkan. Bahwa masih ada anak-anak di sekitar kita yang belum mendapatkan pendidikan layak. Seperti kasus yang terjadi di Desa Dieng Wetan. Daerah tersebut terkenal dengan keindahan wisata alamnya. Akan tetapi, masyarakatnya masih minim tentang keinginan mengenalkan anak untuk belajar. Bahkan banyak orang tua yang terbatas dalam hal pendidikan sekolah. Ada yang tidak pernah merasakan sekolah. Pun terputus di tengah jalan. Itulah dampak dari keterbatasan kurang memahami, bahwa pendidikan sangatlah penting. Apalagi mempersiapkan program belajar agar mereka mempunyai masa depan cerah.
Pak Slamet–sebagai kepala sekolah mendukung program yang dibuat oleh Sastra. Meskipun ada program dari pemerintah untuk guru. Sastra lebih memilih daerah terdekat untuk membuat program pelayanan mengajar dengan rasa syukur. Karena dia punya kewajiban juga terhadap istrinya yang sedang mengandung. Khawatir terjadi sesuatu kalau Sastra harus mengemban tugas jauh dari sang istri. Bukannya fokus terhadap tugas. Nanti, yang ada… akan teringat terus pada Widuri–bidadari cantik pujaan hati.
Niat baik yang ingin menjadi pengajar anak-anak di Desa Dieng Wetan, begitu banyak membawa manfaat untuk orang sekitar. Allah Swt sudah memberikan nikmat atas segalanya. Sastra akan mengorbankan waktu dan tenaga juga pikirannya untuk mencerdaskan anak bangsa. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Setelah sidang skripsi berakhir, doa yang dipanjatkan adalah ingin mengabdi menjadi tenaga pendidik untuk mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, membentuk karakter berakhlak mulia. Karena ilmu tanpa akhlak yang baik, tidak akan bisa menjadikan manusia menjadi benar dalam berucap, bertindak, dan bersikap. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW; berucap dengan berkata jujur, bertindak dengan amanah, dan bersikap dengan adab disertai sopan santun terhadap sesama.
Usai mengajar di sekolah, Sastra mengendarai motor matic keluaran lima tahun yang lalu. Hidupnya penuh dengan kesederhanaan. Gaji yang didapat setiap satu bulan, selalu disisihkan untuk menabung dan juga bersedekah. Dalam memenej risiko dapur juga sudah diperhitungkan dengan kebutuhan seperlunya saja, biar tidak boros dalam membelanjakan harta. Dia tidak ingin menjadi manusia kikir dengan harta yang dimiliki. Karena semua adalah titipin dari Allah. Manusia harus bisa menggunakan dengan baik. Begitu juga dengan amanah sebagai guru. Sastra tidak boleh menyalahgunakan titelnya untuk kepentingan diri demi kepuasaan sesaat. Dia selalu berdoa agar apa yang dikerjakan, hanya ingin mendapatkan pahala kebaikan dan tanpa pamrih.
Widuri selalu menyambut kedatangan Sastra dengan senyuman. Perempuan berparas cantik itu, menyandang status istri sejak satu tahun lalu. Alhamdulillah menuju tahun kedua pernikahan mereka–Allah telah meniupkan ruh dalam janin Widuri yang beranjak empat bulan.
“Assalamualaikum, Dek–istri Mas yang cantiknya seperti bidadari,” ucap Sastra sambil mengecup kening istrinya.
Widuri selalu mendapatkan sanjungan dari suami. Sastra itu tipikal lelaki romantis dalam ucapan dan tindakan.
“Waalaikumsalam, Mas,” balas sang istri sambil mencium punggung tangan lelaki yang ada dihadapan.