Widuri sudah menyediakan menu sarapan pagi seperti biasa. Nasi goreng dengan toping telur ceplok ditambah kerupuk. Sastra melahap makanan yang sudah menjadi favorit setiap hari. Tidak pernah sekalipun berkata, bahwa dia bosan dengan makanan yang disajikan istrinya. Sastra selalu menerima apa yang Widuri berikan. Istrinya sudah berupaya terbaik dalam mempersiapkan menu makan sehat, meskipun hanya karbohidrat dan kandungan protein hewani saja. Semua tetap harus disyukuri. Toh dengan makan itu-itu saja. Tubuh Sastra masih sehat dan kuat. Alhamdulillah… karena mereka selalu bersyukur atas segala pemberian dari Allah.
Sastra menggendong tas ransel yang berisi laptop. Widuri mencium punggung tangan suaminya sebelum pergi ke sekolah.
“Hati-hati ya, Mas. Semoga Allah melindungi, selamat sampai di tempat tujuan.” Kata itu yang tak pernah lupa dilontarkan setiap suaminya mau berangkat kerja.
Sastra mengecup kening istrinya dan mengucapkan terima kasih untuk untaian doa dari hati terdalam. Akhirnya, lelaki yang memakai jaket kulit itu, berpamitan setelah mengucapkan salam. Kemudian melajukan motor matic meninggalkan rumah kontrakan, dimana Widuri masih berdiri sambil melambaikan tangan, melihat punggung suaminya sudah menjauh. Dia pun kembali menjalani rutinitas setiap hari yaitu membuat rajutan. Mulai dari topi, tempat handphone, sepatu bayi, dan barang lainnya. Dia ingin sekali membuka toko jualan online untuk menambah biaya hidup dan mempersiapkan biaya kelahiran anaknya yang terhitung 6 bulan lagi.
Motor matic yang dikendarai Sastra sudah terparkir di halaman sekolah. Para guru selalu menyambut kedatangan Sastra dengan senyuman ramah. Kebiasaan itu sudah sejak lama mereka terapkan di lingkungan sekolah. Datang tepat waktu adalah bentuk disiplin untuk mengajarkan anak-anak. 30 menit sudah berada di sekolah, sebelum jam pelajaran dimulai.
Sastra menuju meja tempat menyimpan perlengkapan mengajar. Kemudian menurunkan tas ransel dari pundak dan menyimpannya di atas meja. Dia mencari Pak Iwan bagian operator sekolah. Mau minta tolong untuk mengeprint dokumen dalam flashdisk yang sudah dipersiapkan untuk kunjungan ke Desa Dieng Wetan nanti siang, setelah usai mengajar.
Lelaki yang kepalanya selalu ditutup topi itu, mulai mengerjakan apa yang perintahkan Sastra. Pak Iwan sudah lama menjadi staf operator karena kinerjanya bagus dalam hal memberikan pelayanan terbaik untuk para guru, setiap yang membutuhkan tenaganya. Sastra mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Pak Iwan hanya menjawab dengan senyuman lebar.
Tepat pukul 7 pagi, bel pun berbunyi. Pertanda anak-anak masuk ke kelas masing-masing dan siap untuk belajar. Hari ini Sastra akan mengajar pelajaran PAI. Materi yang akan disampaikan tentang fungsi anggota badan. Dan bagaimana menggunakannya dengan baik. Karena Allah menitipkan jasad kita ini untuk senantiasa dijaga. Sehat jiwa dan raga.
Sastra masuk ke ruang kelas 1. Jumlah anak perempuan ada 10 orang dan anak laki-laki ada 11 orang. Ke 21 anak itu, ketika di sekolah adalah tanggung jawab Sastra untuk membimbing mereka.
Pembiasaan berdoa sebelum mulai belajar sudah diterapkan sejak anak-anak diterima menjadi siswa kelas 1. Raka yang ditunjuk sebagai ketua kelas selalu memberikan contoh yang baik untuk teman-temannya. Perilaku mereka itu random, ada kebiasaan dari TK masih dibawa ke SD, ada anak yang selalu diam saja karena belum terbiasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk teman barunya di kelas. Bagi Sastra, semua terasa indah. Allah telah memberikannya kesempatan untuk menjadi ayah dari anak-anak di sekolah, yang mempunyai karakter berbeda-beda. Itu ujian buat Sastra, sebelum anaknya terlahir ke dunia. Allah telah memberikan amanah sebagai orang tua anak-anak saat di sekolah. Membimbing dan mengarahkan mereka dengan baik.
“Anak-anak, hari ini kita belajar PAI. Ada yang tahu tidak kepanjangannya apa?”
Salah satu anak mengacungkan tangannya.