Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #3

Menemui Kepala Desa

Motor matic yang dikendarai Sastra sudah sudah memasuki kawasan Desa Dieng. Meskipun jalur yang dilalui ada yang curam. Sastra mengambil jalur alternatif yang tidak membahayakan untuk sampai ke Desa Dieng Wetan. Desa itu berada di dataran tinggi Dieng. Sehingga mayoritas penduduknya sebagai petani dan menanam sayuran. Pekerjanya ada yang petani sendiri dan buruh tani. Pendapatan yang dihasilkan pun sangat jauh berbeda. Kebanyakan para buruh tani tidak bisa memfasilitasi anak-anak mereka untuk bersekolah. Itulah yang menjadi tujuan Sastra membuat program ini. Agar anak-anak bisa mendapatkan fasilitas belajar dengan baik. Dengan mendapatkan pelayanan belajar gratis. Semoga masyarakat Dieng Wetan bisa diajak kerjasama. Dan program ini bisa terealisasi dengan lancar tanpa ada hambatan. Sastra menyemangati dirinya yang sedang mengendarai motor. 



Kurang lebih 1 jam 30 menit, Sastra melakukan perjalanan. Hingga akhirnya, motor matic itu berhenti didepan sebuah warung angkringan di pinggir jalan. Sastra mematikan mesin motornya untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala desa. 



Lelaki itu berjalan menuju warung dengan menenteng helm. Dalam warung ada laki-laki tua yang melayani pembeli. Sastra mendaratkan bokongnya di kursi kayu panjang sambil menyimpan helm di sebelahnya. Kemudian memesan kopi pada penjaga warung.



“Pesan kopinya satu, Pak?” 



Lelaki yang masih melayani pembeli menjawabnya: “Oh iya, tunggu sebentar!”



Sastra duduk dengan santai sambil menikmati aneka gorengan yang tersaji dalam piring. Dia mengulurkan tangan mengambil pisang goreng yang masih hangat. Rasanya nikmat sekali. Awalnya satu gigitan, kini pisang goreng pun habis tak bersisa.



Kopi yang dipesan akhirnya datang juga. Lelaki tua yang memakai kopiah itu menyodorkan tangannya. Asap masih mengepul keluar dari cangkir yang isinya kopi hitam. Kemudian Sastra menyeruput sedikit. Karena masih sangat panas, disimpan kembali. 



Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih 45 menit. Sebentar lagi waktu Ashar akan tiba. Sastra kembali menyeruput kopi yang ada dalam cangkir yang tidak terlalu panas. Dia harus secepatnya sampai di rumah kepala desa dan menyampaikan maksud kedatangannya. 



Usai beristirahat, Sastra melanjutkan perjalanan lagi. Uang kopi dan gorengan sudah dibayar. Dia pun bergegas pergi dengan menyalakan mesin motornya. Kuda besi itu melaju dengan pelan. Jalanan menuju desa mulai berbelok-belok. Sastra harus berhati-hati, khawatir terjadi sesuatu. Dia harus pulang sebelum Magrib. Kalau malam hari melewati rute yang tadi pasti akan tertutup kabut tebal. 



Karena baru pertama menuju Desa Dieng Wetan, mengendarai motor pun terasa lama. Setelah bertanya pada beberapa orang yang ketemu di jalan, mereka pun memberikan alamat jelas dimana rumah kepala desa.



Motor matic yang di kendarai telah tiba di depan rumah kepala desa. Sastra memarkirkan motornya. Lalu, melangkah menuju rumah bercat hijau itu. Beberapa kali Sastra  mengetuk pintu dan belum ada sahutan dari dalam. Saat tubuhnya hendak berbalik membelakangi pintu. Tiba-tiba,  terdengar suara sambil bertanya ada keperluan apa datang kemari. Sastra memulas senyum sebelum menjawab pertanyaan kepala desa. 



Lihat selengkapnya