Sastra menghentikan motornya di depan kantor kecamatan Kejajar. Tarjo segera turun dari motor dan mengajak Sastra untuk masuk. Lelaki yang berwajah kharismatik itu, selalu mengedepankan adab, mempersilakan Tarjo yang berjalan duluan. Sedangkan dirinya mengekor di belakang.
Semua orang yang ada dalam ruangan menyambut kedatangan dua orang tersebut sambil berjabat tangan. Sastra juga melakukan hal yang sama seperti apa yang kelapa desa itu lakukan. Meskipun dia baru pertama kalinya datang ke kantor kecamatan Kejajar.
Orang-orang yang belum sama sekali dikenal oleh Sastra, bersikap ramah padanya. Tarjo meminta salah satu staf yang menyimpan data kependudukan, membantu Sastra untuk mendata anak yang masih belum sekolah. Kemudian Irwan mulai menggerakkan jarinya mengetik di keyboard laptop yang ada di depannya. Dalam layar laptop muncul dokumen yang isinya Kartu Keluarga penduduk Desa Dieng Wetan. Lelaki itu menjelaskan pada Sastra yang sedang duduk di kursi bersebelahan dengannya.
“Untuk Kartu Keluarga ada sekitar seribu orang dan diantaranya sudah ada anak yang terdaftar masuk sekolah Negeri Dieng. Sisanya belum sekolah karena faktor ekonomi.”
“Coba dibuatkan format baru saja yang isinya tentang data anak yang belum sekolah.”
Irwan menganggukkan kepalanya menerima perintah dari Sastra. Sementara Tarjo sedang mengobrol dengan staf yang lain sambil duduk di kursi kayu.
Lima menit Sastra menunggu Irwan yang sedang mengerjakan dan akhirnya selesai juga di menit kesepuluh. Lelaki berkumis tipis itu memasukkan dua lembar kertas yang sudah di print ke dalam map berwarna biru. Kemudian Sastra menerima map itu dan mengucapkan terima kasih karena telah memudahkan pekerjaannya. Sehingga cepat selesai.
Terdengar suara azan dari kejauhan. Bergegas Sastra menghampiri Tarjo yang masih asyik mengobrol. Lelaki itu menatap ke arah Sastra yang sedang berjalan menuju tempat duduknya.
“Sudah selesai, Pak Sastra?”
“Alhamdulillah, sudah.”
Tarjo izin dulu pada orang-orang yang ada di kantor kecamatan untuk mengantar Sastra keluar. Tidak lupa, kembali saling berjabat tangan. Sastra juga mengucapkan terima kasih karena telah berhasil mendapatkan data anak yang belum sekolah. Dia pun berpamitan untuk pulang ke rumah karena ada istri yang sedang menunggu.