Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #6

Waktu yang Berharga

Motor yang dikendarai Sastra sudah berada di parkiran. Widuri menenteng tas belanjaan sambil mengeratkan jemarinya dalam genggaman tangan Sastra. Mereka menyusuri pasar. Kondisi pasar masih belum terlalu ramai. Biasanya kalau sudah ramai mulai berdesakan. Widuri sengaja pergi di waktu orang-orang belum banyak yang berbelanja. Karena kondisinya yang sedang hamil juga. Khawatir terjadi sesuatu, meskipun selalu ditemani oleh suami. Kadang ada saja orang yang nggak lihat-lihat kalau lewat. Senggol sana senggol sini. Yang bisa mengakibatkan orang tersenggol jatuh. Itulah kekhawatiran Widuri kalau belanja dalam kondisi berdesakan. Bukan mengkhawatirkan ada pencopet. Di pasar Wonosobo masih termasuk kawasan aman. 



Mereka berhenti di depan pedagang ikan. Widuri ingin sekali memakan ikan goreng. Akhirnya, mereka membeli satu kilo ikan dan dua ikat kangkung ditambah bahan untuk membuat sambal. Kemudian menuju pedagang buah. Dari sekian banyak jenis buah, Widuri hanya membeli buah pisang ambon satu sikat. Sastra tidak berbicara sedikitpun. Saat istrinya berbelanja. Apa yang dipilih, itu yang akan menjadi menu untuk makan mereka. 



Selesai belanja mereka kembali ke rumah kontrakan untuk mengolah makanan. Sastra membantu membersihkan ikan. Sedangkan Widuri memasak tumis kangkung dan membuat bumbu sambal. Pekerjaan kalau dilakukan bersama itu terasa ringan. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Sastra untuk membantu istrinya setiap hari, sebelum berangkat mengajar ke sekolah. 



Makanan pun sudah siap. Widuri menyodorkan satu piring yang berisi ikan goreng, tumis kangkung, dan sambal kecap dengan irisan cabe rawit dan sedikit jahe geprek. Sastra mengucapkan terima kasih pada istrinya sebelum dia makan. Mereka menikmati sarapan pagi bersama. Selesai makan, Widuri menyodorkan satu gelas air untuk suami. Kembali Sastra mengulurkan tangan, lalu meneguk air itu sampai tandas. 



Saatnya untuk berangkat. Sastra mengganti pakaian dengan seragam dinas. Menyisir rambut dengan rapi dan memakai kaus kaki. Tas ransel sudah berada di atas kedua pundak. Kemudian bergegas menemui Widuri. 



Perempuan cantik itu sedang duduk di kursi ruang depan. Sambil meletakkan 6 pasang sepatu bayi yang belum dikemas. Sastra datang menghampiri istri. Hampir saja lupa. Saat ngobrol di perjalanan menuju pasar, dia akan membantu Widuri mengemas barang orderan yang mau dikirim hari ini. Masih ada waktu 30 menit menuju sekolah. Sastra memasukkan barang itu ke dalam paper bag. 



“Dek, nanti Mas kerjakan di sekolah, saat jam istirahat.”



“Iya, Mas. Ndak apa-apa.” 



Widuri memulas senyum. Sastra pun membalasnya. Kemudian mencium punggung tangan suami sebelum berangkat. Sastra mengecup kening Widuri yang sedikit tertutup hijab karena sejak pulang dari pasar belum dilepas. 



Setelah berpamitan dan mengucapkan salam. Sastra melajukan motor meninggalkan rumah kontrakan. Widuri kembali ke rutinitas seperti biasa. Membersihkan rumah dan promosi jualan di medsos. Dia jarang sekali ke luar rumah. Apalagi ikut bergosip dengan tetangga. Hal yang setidaknya kurang disukai lebih baik dihindari. Begitulah sang istri memanfaatkan waktu dengan baik ketika berada di rumah. Apalagi setelah berhijrah memakai hijab. Dia tidak pernah melepas hijab ketika berada di luar. Widuri selalu memakai kain panjang dan lebar sebagai penutup rambut. Seorang istri harus menjaga marwah. Jika dia sedang berada jauh dari suami. 



Sementara motor matic yang dikendarai Sastra sudah sampai di halaman sekolah. Seperti biasa, para guru menyambut setiap ada guru yang datang dengan tersenyum ramah. Mereka saling berjabat tangan, setelah berucap salam. Sastra berjalan menuju meja kerja. Kemudian menyimpan tas ransel dan paper bag. Hari ini ada jam pelajaran Matematika. Anak-anak di kelas ada yang sudah mengerti dengan penjumlahan dan pengurangan. Ada juga yang perlu mengulang lagi karena masih keliru dalam menjawab. Semua butuh kesabaran saat membersamai anak-anak sampai mereka mengerti. 



Bel masuk kelas sudah berbunyi. Sastra menenteng buku paket Matematika menuju kelas 1. Terdengar riuh anak-anak dalam ruang kelas. Saat pintu terbuka lebar. Mereka berhamburan mendekati Sastra untuk mencium tangan. Sudah menjadi pembiasaan, kalau guru masuk kelas harus menyalami. 



Setelah satu per satu anak selesai bersalaman. Sastra menyuruh ketua kelas untuk membaca doa bersama sebelum belajar dimulai. Anak-anak berdoa dengan suara lantang. Meskipun terdengar suara yang tidak seragam. Akan tetapi, mereka tetap bersemangat menyelesaikan doa. 



Sastra menyempatkan menyapa anak-anak terlebih dahulu.



Lihat selengkapnya