Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #7

Berkata Jujur

Tepat jam 1 siang, Sastra sudah pulang ke rumah kontrakannya. Widuri menyambut kepulangan suami dengan semringah. Sastra mengecup kening yang terhalang oleh sedikit anak rambut di dahi Widuri. Rambut panjang sebahu membuat penampilan sang istri begitu memesona. Sejak hamil, ada yang berbeda dengan istrinya. Setiap hari, semakin cantik dan tidak bosan untuk dipandang. Apakah ada hubungannya dengan bawaan dari bayi? Orangtua bilang nanti anaknya perempuan, kalau istri semenjak hamil suka berdandan. Entahlah, apakah semua pendapat itu, benar atau tidak? Sastra hanya percaya sama Gusti Allah. Bagaimanapun, semua yang hidup, sudah Allah tentukan takdirnya masing-masing.



Widuri membantu melepaskan tas ransel yang menempel di kedua pundak Sastra. Lalu menaruhnya di lantai. Kemudian menggamit lengan suami menuju ke meja makan. Sang istri sudah menyiapkan sesuatu untuk Sastra. 



Di atas meja makan ada tudung saji. Tidak biasanya makanan yang dihidangkan dalam kondisi tertutup. Widuri menyuruh suami untuk duduk. Sastra tidak menanyakan apa yang ada dalam tudung saji tersebut. Kali ini dia menurut pada istrinya.



Kemudian Widuri membuka tudung saji. Tampak didalam ada bolu yang sudah dipotong dan disusun rapi.



“Mas cobain ya? Ini bolu buatan aku. Tadi pagi kan, aku beli pisang ambon. Jadi, aku buat camilan bolu pisang.”



Widuri menyodorkan satu piring bolu pisang yang sudah dipotong tipis dan tidak terlalu tebal. Sastra mengulurkan tangannya untuk mengambil satu potongan bolu pisang. Sebelum dimakan, aroma pisang menguar kuat ke dalam rongga hidung. Kemudian bolu itu digigit sambil mengunyah.



Widuri menunggu pendapat dari Sastra. Tentang rasa bolu pisang, yang sudah dibuat dengan melihat video tutorial di medsos. 



“Seriusan ini buatan kamu, Dek?”



“Mas Sastra, ndak percaya aku yang buat?”



Sastra tertawa mendengar Widuri kembali bertanya dengan nada suara agak naik. Kemudian dia mengambil potongan bolu satu lagi dan memakannya sampai habis. 



“Kuenya enak, Mas suka banget,” ucap lelaki itu sambil mengacungkan dua jempol. Kebiasaan yang selalu dilakukan saat memberikan apresiasi untuk anak didiknya di sekolah, saat mereka bisa menjawab pertanyaan dari gurunya. 



Mendengar pujian dari suami. Wajah Widuri kembali semringah. Perkataan Sastra selalu jujur karena dia tidak pernah berbohong. 



Selesai mencicipi bolu yang dibuat oleh Widuri, Sastra beranjak dari kursi menuju kamar untuk berganti pakaian sambil menenteng tas ransel. Perempuan yang hatinya masih berbunga-bunga itu, sedang merapikan meja makan, menutup kembali piring, yang masih ada sisa potongan bolu dengan tudung saji. Kemudian bergegas menemui suami dalam kamar.



Lelaki yang sudah berganti pakaian kaus berlengan pendek dan celana panjang berbahan katun, sedang duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur. Ingin sekali beristirahat sebentar sambil menunggu waktu Ashar tiba. Saat mau memejamkan mata, terdengar derap langkah kaki yang mendekat. 



Widuri melangkah dengan pelan mendekati suami yang sudah memejamkan mata. Sebenarnya ingin sekali mengobrol. Mumpung lagi ada kesempatan hari ini, Sastra tidak sedang mengerjakan tugas ditemani laptopnya. Begitu juga dengan Widuri belum ada orderan lagi, setelah tadi pagi promosi jualan di medsos. 



Hal seperti ini sering kali dilakukan. Berbaring di sebelah Sastra yang rupanya sudah tertidur pulas. Kesempatan untuk ngobrol pun terpaksa ditunda. Menunggu suami terbangun. Mungkin nanti malam waktu yang tepat untuk membicarakan satu hal penting tentang… Bapak.


Lihat selengkapnya