Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #8

Ujian Dalam Keluarga

Widuri mulai bercerita tentang sosok ayahnya pada Sastra. Lelaki berperawakan tidak terlalu tinggi dan berwibawa itu, menjadi sosok yang dikagumi oleh anak perempuan semata wayang. Ibunya pun sangat penyabar dan baik hati. Widuri bahagia memiliki kedua orangtua seperti itu. Mereka tidak pernah mengecewakan dan selalu memberikan kasih sayang penuh pada putrinya. 



Sejak ayahnya di PHK, kondisi perekonomian keluarga tidak seperti saat ayah masih bekerja. Meskipun mendapatkan pekerjaan lain sebagai serabutan. Semua bisa dijalani dengan rasa syukur. Ibunya juga ikut membantu sang ayah untuk memenuhi kebutuhan dapur. Bekerja sebagai buruh tani, mendapat upah setiap hari, hanya cukup untuk makan saja. Keadaan seperti itu terus berlanjut sampai Widuri beranjak dewasa. 



Ayah ingin pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi dan bisa mendapatkan gaji besar. Namun, ibu sempat tidak mengizinkan karena tidak mau tinggal berjauhan dengan lelaki yang dicintainya. Berbeda dengan ayah–tetap pada pendiriannya. Harus pergi ke kota untuk mencari kerja. Akhirnya, ibu bisa mengikhlaskan suaminya pergi. Begitu juga Widuri yang harus berpisah dengan cinta pertamanya. 



Sastra mendengarkan cerita yang membuatnya terharu–sampai terlihat ada bulir bening berjatuhan di pipi istrinya. Lelaki itu dengan sigap mendekap tubuh istrinya sambil meletakkan kepala di dada. Widuri menangis sesenggukan hingga kaus yang digunakan Sastra sedikit basah. Tangan Sastra mengelus rambut istrinya dengan lembut agar dia mendapatkan ketenangan, saat masih bersandar. Doa Sastra, suatu saat mereka pasti bertemu lagi dan bisa kembali bersama hidup dengan bahagia. Tidak ada kesedihan lagi.



“Mas pengen tahu, nama Bapak itu, siapa?”



Widuri mendongakkan wajahnya. Kini mata yang sembab tampak begitu kentara. Sastra menyuruh istrinya untuk tidak larut dalam kesedihan. 



“Nama Bapak… Sutarjo, Mas.”



Mendengar nama yang disebut Widuri, hampir sama dengan Pak Tarjo–kepala Desa Dieng Wetan. Sastra, hanya mengira-ngira. Tidak mungkin mereka orang yang sama.



Sastra mengatakan bahwa apa yang sudah menimpa keluarga istrinya adalah ujian dari Allah. Hingga ayah mertua memutuskan untuk pergi ke kota agar mendapatkan pekerjaan lebih baik agar tercukupi kebutuhan di keluarga. Semua adalah kewajiban sang ayah untuk menafkahi keluarganya. 



Widuri sudah agak tenang, setelah mendengar penjelasan dari Sastra. Dia tidak mau menyimpan rasa benci terhadap ayahnya. Bahkan yang sedang dirasakan saat ini, perasaan bahagia dan ingin mencari tahu kabar tentang Sutarjo.



Dering handphone memecah keheningan malam. Sastra melihat di layar handphone, tertera nama Tarjo. Entah, ini hanya kebetulan? Atau apa? Kemudian lelaki itu, izin pada Widuri untuk mengangkat telepon.



Sastra melepaskan dekapannya dari tubuh Widuri. Kemudian bergegas ke luar kamar. Handphone di tangan masih berdering. Dia pun menerima telepon panggilan dari seberang sana.



“Assalamualaikum, Mas Sastra.”



“Waalaikumsalam, Pak Tarjo.”



Lihat selengkapnya