Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #9

Waktu yang Terus Berputar

Episode perjalanan Sastra untuk merealisasikan program belajar gratis di Desa Dieng Wetan, sudah sesuai rencana. Tak terasa waktu berputar sangat cepat. Ujian tengah semester sudah selesai. Kini, Sastra fokus mempersiapkan data yang akan disampaikan saat sosialisasi besok. 



Semua perbekalan sudah dimasukan ke dalam tas ransel. Termasuk syal yang Widuri buat untuk Sastra. Kemungkinan, Sastra akan menginap di desa itu selama satu pekan. Sebelum berangkat, lelaki itu menunggu kedatangan ibu mertuanya yang sudah dihubungi oleh Widuri, beberapa hari ke belakang. 



Sementara Rasminah sangat senang bisa bertemu lagi dengan putrinya. Apalagi Widuri sedang mengandung lima bulan. Dia akan menjaga putri dan cucu yang masih dalam kandungan. Rasminah diantar sama adiknya pergi ke rumah kontrakan. 



Dengan dibonceng motor butut yang dikendarai oleh Leman. Rasminah merasa bersyukur, menantunya adalah lelaki yang tidak pernah menyakiti perasaan putrinya. Sudah dua tahun pernikahan, mereka masih langgeng. Berbeda dengan kehidupan yang dulu, saat Widuri masa remaja. Gadis itu, harus merasakan pahitnya perjalanan hidup. Namun, Rasminah tetap berserah diri pada Allah. 



Hampir satu jam perjalanan menuju rumah kontrakan. Akhirnya, sampai juga di depan pagar besi berwarna hitam. Leman mematikan mesin motornya. Rasminah pun turun dari boncengan, kemudian menenteng tas jinjing yang berisi sayuran dan buah-buahan. Perempuan tua itu membuka pagar karena Leman mau menyimpan motornya di teras depan. Mereka pun mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.



Dari dalam terdengar seseorang menjawab salam. Pintu pun terbuka lebar. Sastra dan Widuri menyambut kedatangan mereka sambil mencium punggung Rasminah dan Leman secara bergantian. Widuri menggamit lengan ibunya. Ada rasa rindu yang bergejolak dalam hati, sejak berpisah dengan perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan. 



Sementara Sastra mengobrol dengan Leman di ruang depan sambil duduk di atas lantai yang beralaskan karpet. Kelihatannya lelaki tua itu merasa kecapean, sudah mengendarai motor yang jaraknya jauh dari desa, tempat tinggal mereka. 



Rasminah menyimpan tas jinjingnya di atas meja makan. Mengeluarkan isi dalam tas satu per satu. Sayuran hasil panen para petani di desa. Ada daun singkong, kangkung, bayam, singkong, ubi jalar, dan buah pisang. Cukup untuk stok makan selama satu minggu. 



“Kenapa harus bawa banyak toh, Bu?”



“Ndak apa-apa, Nduk. Kamu kan lagi hamil. Jadi, ibu bawakan sayuran dan buah.”



“Terima kasih, ya, Bu.”



Widuri merangkul ibunya. Bulir bening pun tidak bisa lolos lagi. Membasahi kedua pipi. Rasminah segera menghapus air mata putrinya dengan punggung tangan. Dia tidak mau melihat Widuri bersedih lagi. Karena sedang hamil harus selalu bahagia. Agar anak dalam kandungan sehat sampai melahirkan nanti. 



Sementara Sastra yang masih duduk menemani Leman, mulai mengawali percakapan.



“Diminum airnya, Pakde.”



“Oh, iya. Pakde sampai kelupaan. Maklum sudah tua.”


Lihat selengkapnya