Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #11

Sebuah Nasehat

Di meja makan sudah tersaji lauk pauknya. Tarjo sudah duduk sambil memakan lauk pauk dalam piring. Sastra baru saja datang dan menarik kursi, lalu mendaratkan bokongnya. Kemudian mengambil piring kosong dan mengisi nasi beserta lauknya. Biasanya Widuri yang menyajikan semua ini. Selama sepekan Sastra akan merindukan istrinya dan juga masakan buatannya.



Suasana menjadi hening saat kedua lelaki itu sedang makan. Tarjo sudah selesai duluan dan menyuruh Sastra untuk ngobrol sebentar di ruang tamu. Lelaki itu segera menghabiskan makanannya. Alhamdulillah rasanya nikmat sekali bisa makan malam. Kalau bersama istrinya paling telat makan, sore hari. Malam harinya mereka selalu menyempatkan ngobrol sambil berbagi camilan bersama. 



Mereka berjalan menuju ruang tamu. Suasana pedesaan di malam hari terasa berbeda dengan di kota. Semakin larut semakin sunyi. Hanya bunyi jangkrik dan katak yang menemani. Karena dekat dengan area persawahan. 



Tarjo mempesilahkan Sastra untuk duduk. Mereka mulai berbicara. Lelaki tua itu bertanya tentang keluarga Sastra. 



“Mas Sastra ini asli mana, toh?” tanya Tarjo.



“Aslinya dari Sunda Pak, Bandung. Karena pernah KKN di salah satu desa di Wonosobo. Jadi kepikiran untuk melanjutkan mengajar di salah satu SD Negeri juga. Akhirnya harus menerima takdir Allah. Ditugaskan menjadi guru di Wonosobo,” jawab Sastra sambil memulas senyum.



“Menjadi guru itu tidak mudah. Bapak tahu perjuangan mereka seperti apa. Akan tetapi, orang yang punya semangat luar biasa, seperti Mas Sastra ini, belum pernah Bapak lihat. Baru Mas Sastra seorang yang membuktikannya.”



“Alhamdulillah, Pak. Allah sudah menggerakkan hati. Sebenarnya sudah lama rencana itu dibuat. Akhirnya bisa terlaksana juga dengan bantuan dari Bapak. Terima kasih banyak, semoga Gusti Allah membalas kebaikan Bapak berkali lipat.”



Tarjo mengaminkan doa lelaki soleh yang ada di sebelahnya. Kemudian memberikan nasihat agar bisa memiliki sikap sabar ketika menghadapi anak-anak. Mereka itu masih dalam proses pencarian jati diri. Semoga Sastra bisa membimbing juga dari segi akhlak mereka. Bukan hanya sekadar harus bisa membaca dan menulis saja. Tapi, menjadikan mereka lebih baik agar bisa menghormati orangtua dan berbuat baik pada sesama. 



Sebuah anggukan yang Sastra perlihatkan pada Tarjo. Lelaki itu pun menjawabnya:  “Selama ini alhamdulillah sudah merefleksikan sikap sabar, syukur, dan ikhlas dalam mengajar pada anak-anak di sekolah.” Meskipun harus menghadapi tingkah mereka yang selalu mencari perhatian, Sastra menikmati semua itu karena mereka adalah anak didik yang harus selalu dibimbing.



Mendengar penjelasan dari Sastra, Tarjo semakin mengagumi sosok lelaki itu. Jadi teringat sama anak perempuannya, yang dulu pernah ditinggalkan. Mungkin usianya sudah dewasa. 



“Mas Sastra sudah menikah?”

Lihat selengkapnya