Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #12

Tekad yang Kuat

Anak-anak satu per satu maju ke depan sambil memperkenalkan diri. Sastra yang memberikan pertanyaan pada anak-anak. Ada yang berani, ada juga yang masih malu-malu, lalu berlari bersembunyi di belakang orangtuanya. Sastra hanya memulas senyum melihat sikap mereka. Kesepuluh anak yang sudah berkenalan, bermacam-macam karakternya. Ini akan menjadi tugas Sastra, dengan mengenal, bisa mempermudah proses pemahaman karakter. Sehingga media belajar pun bisa dibuat berdasarkan usia. Malam ini sepertinya harus begadang untuk mempersiapkan pelajaran besok. 



Sastra mengakhiri pertemuan hari ini dengan orangtua dari anak didiknya. Besok bisa diantar ke tempat ini lagi tanpa harus ditunggu. Biarkan anak belajar mandiri. Karena mereka sudah bukan usia TK lagi. Ke sekolah harus diantar dan orangtua harus menunggu sampai pulang. Itulah kesepakatan yang dibuat bersama. Sastra menjelaskan juga agar orangtua membimbing anak mereka ketika sedang di rumah. Awasi dan dampingi mereka saat ada tugas dari pak guru untuk bisa menyelesaikannya di rumah. 



Satu lembar formulir diberikan pada orangtua sebelum pulang. Mereka mengucapkan terima kasih pada Sastra karena program ini memang sangat membantu buat mereka yang tidak bisa menyekolahkan anak-anak. Meskipun biaya masuk SD Negeri gratis. Tetap saja mereka merasa tidak mampu untuk memasukan anak-anaknya karena tidak ada uang untuk membeli seragam dan peralatan menulis. Sastra juga mengatakan tidak usah khawatir untuk pakaian saat belajar nanti. Anak-anak bisa memakai pakaian bebas dan sopan. Alat tulis juga sudah disediakan. Anak-anak datang dengan niat ingin belajar dengan benar. Itu saja sudah cukup. Para orangtua tersenyum mendengarkan penjelasan dari Sastra. Baru pertama bertemu dengan orang sebaik seperti dirinya. Mereka pun satu per satu berpamitan. Tidak lupa anak-anak mencium punggung tangan pak guru. Besok mereka akan berjumpa lagi untuk mulai belajar. 



Sastra mematikan mikrofon dan menyimpannya di atas meja. Besok anak-anak akan belajar di alam terbuka sambil bermain. Karena Sastra ingin mengetahui juga mereka lebih suka belajar dengan serius atau biasa saja disertai dengan candaan. 



Setelah merapikan semuanya, Sastra menuju rumah. Perjalanan masih panjang. Dia harus mempersiapkan kekuatan agar tidak drop. Apalagi harus ekstra memberikan perhatian pada mereka yang usianya variatif. Tidak seperti di sekolah, mengajar kelas 1 SD, usianya 7 tahun semua. Sastra juga harus belajar tentang berkomunikasi dengan baik, saat mengajar besok. Hanya dengan tekad yang kuat, semua pasti bisa teratasi. Meminta pertolongan pada Allah agar anak-anak bisa memperhatikan dengan baik, dilembutkan hatinya, dan diberikan kepahaman dalam menerima ilmu yang diajarkan.



Dalam rumah sangat sepi, meskipun hari masih siang. Sebentar lagi adzan Dzuhur. Sastra menuju kamar yang ditempatinya. Ingin membaringkan tubuh sebentar. Tas ransel di letakkan di atas meja. Tubuhnya pun dibaringkan ke atas tempat tidur. Dua hari tinggal di sini, teringat sama istrinya. Sedang apa dia di sana bersama ibu mertua? Apakah masih mengerjakan pesanan rajutan?



Sementara, di rumah kontrakan. Widuri sedang mengerjakan pesanan untuk satu pekan ke depan. Alhamdulillah mendapat orderan sepatu bayi satu lusin. Sehari bisa dikerjakan 2 pasang sepatu. Rasminah hanya bisa membantu mengemasnya saja. Karena tidak mengerti tentang rajutan. Putrinya sangat pandai menguasai keterampilan merajut. Meskipun hanya belajar melalui video tutorial di sosmed. 



“Nduk, jangan terlalu capek ya. Ingat! Kamu sedang hamil,” ucap perempuan yang kulit wajahnya mulai berkeriput.



“Nggih, Bu. Widuri hanya mengerjakan sesuai pesanan saja. Insyaallah nggak akan kecapean,” jawab perempuan yang sedang memegang benang dan hakpen.



Rasminah sangat menyayangi putri semata wayang. Dia satu-satunya keturunan dari lelaki yang dulu pernah meninggalkan mereka saat kondisi perekonomian semakin sulit. Rasminah yakin bahwa suaminya masih mengingat mereka. Semoga Gusti Allah bisa mempertemukan lagi untuk berkumpul kembali. Doa yang selalu dipanjatkan setiap malam pada Gusti Allah dan tidak pernah terputus mengerjakan salat malam.



30 menit berlalu, Widuri sudah menyelesaikan satu pasang sepatu. Tangannya sudah mulai pegal. Dia pun menghentikan pekerjaannya. Kemudian beranjak dari lantai yang beralas karpet menuju kamar mandi untuk berwudhu. 



Rasminah sedang menghangatkan sayur asem untuk makan siang. Selain itu, ada juga tempe goreng dan pepes tahu. Tidak lupa ikan asin, lalapan, dan juga sambal terasi. Rasanya nikmat sekali. 



Selesai salat Dzuhur, Widuri menemui ibunya di meja makan. Aroma sayur asem menguar ke rongga hidung sehingga membuat perempuan hamil itu, perutnya keroncongan. Mereka pun menikmati makan siang berdua tanpa Sastra. Widuri merasakan rindu pada suaminya. Semoga Sastra tidak terlalu sibuk dan bisa menghubunginya di telepon. 



Dering ponsel terus berbunyi dalam kamar. Widuri yang baru selesai makan, segera mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Dalam layar tertera nama suami. Dia pun segera menekan tombol penerima dan menempelkan handphone di telinga kanannya. 




“Assalamualaikum, Dek.”



“Waalaikumsalam. Mas Sastra sehat?”



“Alhamdulillah, Mas masih diberikan kesehatan sama Allah. Kamu dan ibu bagaimana keadaannya?”

Lihat selengkapnya