Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #13

Tidak Sesuai Rencana

Pada suatu pagi yang cerah dan embusan angin pun masih sangat sejuk.  Sastra dan Tarjo sedang menunggu kedatangan anak-anak yang kemarin diundang datang bersama orang tuanya, bahwa hari ini mereka akan mulai belajar. 



Hari kedua, mau belajar di alam terbuka. Tarjo yang mengusulkan tempatnya. Sastra menyetujuinya karena tidak hafal tempat. Doanya hari ini, anak-anak bisa belajar dengan ceria karena sudah dimotivasi sama kedua orang tua mereka sebelum berangkat untuk menuntut ilmu. 



Sastra menggunakan kemeja berlengan pendek dan celana berbahan katun. Tarjo memakai setelan jaket dan celana berbahan katun juga. Sudah hampir 15 menit berlalu, kedua lelaki yang berbeda usia itu dengan sabar menunggu kedatangan anak-anak.



Dari kejauhan tampak para orangtua berbondong-bondong mendatangi halaman rumah Tarjo. Senyuman lebar tampak di kedua sudut bibir Sastra. Hal yang sama dilakukan juga oleh Tarjo. Anak-anak menyalami kedua lelaki yang sudah berdiri sejak tadi. Sedangkan orangtua mereka mengatakan pada Sastra agar bisa membimbing anak-anak supaya mau belajar di hari pertama. Sastra menjawabnya akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan para orangtua. Setelah mengobrol sebentar para orangtua pun berpamitan. 



Satu per satu Sastra memanggil nama anak-anak. Baru menyadari kalau mereka laki-laki semua tidak ada anak perempuan. Selesai mengisi absen, Sastra menyapa mereka terlebih dahulu sambil mempersilakan anak-anak duduk di atas kursi lipat. 



“Selamat pagi! Anak-anak semuanya… Bapak senang hari ini kalian bisa datang karena ingin belajar. Bapak harap kalian bisa mengerti dengan apa yang akan diajarkan nanti. Kalian sudah siap! Sebelumnya kita berdoa dulu ya. Bapak ingin apa yang sudah dipelajari nanti bisa kalian mengeþþrti. Berdoa kita mulai.”



Anak-anak mulai menundukkan kepalanya sambil berdoa dalam hati. Selesai berdoa, kemudian Sastra menyuruh mereka untuk ikut ke suatu tempat sesuai arahan dari Tarjo. 



Perjalanan kesana memakan waktu yang lumayan lama. Apalagi mereka berjalan sambil menyusuri tanah persawahan dan juga jembatan kecil. Jalan itu alternatif kedua. Kalau menuju jalan beraspal akan lebih lama lagi sampainya. 



Seperti berada di padang rumput yang sangat luas. Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Anak-anak disuruh duduk melingkar. Sastra menurunkan tas ranselnya kemudian membuka resleting. Media belajar yang sudah dipersiapkan dikeluarkan dalam tas. Ada tumpukan buku tulis dan peralatan menulis juga sesuai dengan jumlah anak, yang sudah dipersiapkan. Kembali nama anak dipanggil satu per satu untuk mengambil peralatan tulis mereka. 



Salah satu anak ada yang bertanya.



“Buat apa buku ini, Pak?”



Sastra mengatakan pada anak yang bernama Danang.



“Banyak sekali kegunaan buku itu. Terutama untuk berlatih menulis.”



Lihat selengkapnya