Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #14

Tetap Semangat

30 menit anak-anak asyik bermain air sambil berenang di Telaga Pengilon. Tarjo dan Sastra dengan sabar menunggu mereka berhenti bermain air. Bagaimanapun menghadapi anak-anak tidak seperti kita berbicara dengan orang dewasa. Melainkan dengan cara pelan, tapi perlahan bisa mengerti apa yang dimaksud oleh mereka. 



Sastra mulai merenung, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Perkataan dari Tarjo akan menjadi pegangan. Kalau mereka itu butuh untuk diperhatikan. 



Baju mereka sudah basah kuyup. Tidak ada pakaian untuk menggantinya. Terpaksa mereka harus memakainya sampai orang tuanya kembali datang menjemput. Tarjo meminta Sastra untuk memberitahukan pada orangtua mereka, bahwa hari ini tidak belajar karena anak-anak inginnya bermain. Semoga mereka mendapatkan perhatian dari orangtuanya dengan cara menasehati. Agar belajar bersungguh-sungguh untuk bisa membaca dan menulis.



Sastra setuju dengan perkataan lelaki yang sejak tadi selalu menemaninya. Bayangkan saja, seandainya Tarjo tidak ikut, entah apa yang akan dihadapi Sastra saat sendiri dan membutuhkan bantuan untuk mengkondisikan anak-anak.



Akhirnya, anak-anak selesai juga. Mereka satu per satu berlarian menuju Sastra dan  Tarjo. Tampaknya sudah merasa kedinginan. Salah satu dari mereka mengeluh. 



“Dingin banget, ya. Ndak bawa baju ganti lagi,” ucap Dodo.



“Kamu benar. Kalau tahu kita mau main air, harusnya bawa baju untuk ganti. Pak guru, kan ndak bilang.” Didit ikut berbicara dengan tubuh gemetaran.



Mendengar anak-anak berkata seperti itu dan seakan Sastra yang disalahkan karena tidak memberitahu mereka untuk membawa baju ganti. Lelaki berkacamata itu mulai angkat bicara untuk menjelaskan permasalahan yang sudah terjadi pada anak-anak.



“Bapak hanya memberikan kesempatan pada kalian untuk bermain. Besok harus belajar dengan serius, ya. Bapak tidak ingin kalian terlambat mendapatkan hak untuk belajar. Kalian tahu, anak-anak lain ada yang ingin bisa membaca dan menulis karena mereka punya cita-cita, kalau besar nanti mau jadi apa? Kalian juga sama. Berhak menentukan pilihan. Kalau besar nanti mau jadi guru, dokter, pilot, arsitek, dan lain sebagainya. Bapak harap suatu saat kalian bisa mengerti. Karena Bapak peduli terhadap masa depan kalian.”



Sebagian anak terdiam setelah Sastra panjang kali lebar berbicara pada mereka. Tarjo semakin kagum terhadap sosok lelaki yang berdiri di sebelahnya. Dia yakin, anak-anak itu mengerti dan mau belajar dengan Sastra. Tunggu saja waktunya tiba.



Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Tarjo. Karena waktu sudah selesai. Orangtua mereka pasti sudah ada yang menunggu. Tarjo kembali memimpin perjalanan pulang. Anak-anak berbaris mengikuti langkah lelaki tua itu. Sastra berjalan di bagian paling belakang. Melihat keseriusan mereka mengikuti langkah Tarjo. Senyuman tipis itu diperlihatkan. Meskipun hati belum terbiasa menerima. Akan tetapi, kebahagian harus selalu diperlihatkan pada anak-anak. Agar mood mereka tetap baik untuk bisa menerima ilmu yang akan disampaikan oleh Sastra. 



Beberapa orang tua sedang menunggu kedatangan anak mereka. Anak-anak berlarian menghampiri ayah dan ibu. Ada yang terkejut dan bertanya. Kenapa pakaian anak-anak basah semua? Sastra menjelaskan bahwa mereka bermain air di telaga. Hari ini mungkin anak-anak sedang tidak mau belajar. Besok bisa dilanjut lagi. Penjelasan dari Sastra membuat para orang tua merasa tidak nyaman. Karena hari ini harusnya anak mereka bisa mengikuti pelajaran. Ini malah membuat gurunya merasa kecewa atas perilaku yang mereka lakukan. 


Lihat selengkapnya