Bismillahirrahmanirrahim… semoga Allah melapangkan dada dan dimudahkan setiap urusan hamba-Nya, batin Sastra, sebelum menemui anak-anak yang sudah datang bersama kedua orang tua mereka. Besar harapan Sastra, apa yang sudah direncanakan semalam, bisa membuat anak-anak ingin belajar dan tidak ada drama lagi.
Tarjo sudah berada di luar sedang memperhatikan anak-anak yang sedang menunggu Sastra. Tidak berapa lama lelaki yang sosoknya dikagumi telah keluar dari persembunyian. Wajahnya tampak segar dan berseri. Sepertinya, kejadian kemarin tidak membuat menyerah begitu saja. Sastra memulas senyum pada Tarjo sambil mengucapkan salam.
Lelaki tua itu menjawab salam dari Sastra. Kemudian menemani untuk bertemu para orang tua dari anak-anak didiknya. Dengan wajah tenang dan langkah pelan. Sastra menyapa anak-anak. Mereka saling berebut untuk bersalaman dengan gurunya. Sastra mengembangkan senyuman, melihat antusias mereka untuk menghormati dirinya sebagai guru.
Sebelum para orang tua pergi, Sastra menyampaikan sebuah pesan, agar anak-anak selalu diberikan motivasi untuk belajar ketika datang kemari. Para orang tua menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang telah diucapkan Sastra. Meskipun pada realitanya masih ada sebagian yang susah untuk memberikan nasihat pada anak mereka.
Setelah orang tua berpamitan, anak-anak disuruh untuk berbaris dari ukuran badan pendek ke yang tinggi berdiri di belakang. Kemudian, Sastra memberikan arahan untuk belajar hari ini. Agar anak-anak sedikit serius untuk belajar dan tidak bermain saat pelajaran dimulai. Sastra akan memberikan kesempatan waktu untuk bermain, setelah belajar selesai. Anak-anak hanya menganggukkan kepala mereka.
Tarjo yang akan menunjukkan tempat untuk belajar anak-anak di hari ketiga. Lelaki itu memandu perjalanan dan mereka mengikuti langkahnya menyusuri area persawahan warga. Di sana ada sebuah tempat seperti rumah panggung, yang cukup besar untuk menampung anak-anak.
Setelah sampai, mereka melepaskan alas kaki dan Sastra meminta untuk duduk melingkar. Anak-anak melakukan apa yang diperintahkan. Mereka duduk dengan posisi bersila. Sastra meletakkan tas ranselnya, mengambil sesuatu dalam tas. Ada lembaran kertas yang berisi nama anak-anak. Kemudian menyuruh mereka menghafal nama dan menuliskan huruf ke buku tulis yang sudah Sastra persiapkan.
Anak-anak membuka buku tulis. Melihat huruf yang tertulis di satu lembar kertas. Sastra memperhatikan tingkah mereka. Ada yang melihat lama kertas tersebut, ada yang langsung menyalin huruf pada buku sambil melihat terus pada kertas. Mereka mulai menuliskan huruf itu satu per satu hingga selesai dalam lembaran kertas kosong yang kini sudah dipenuhi coretan.
20 menit mereka masih berkutat dengan lembaran kertas yang ada di tangan. Belum ada satu anak pun yang bilang sudah selesai mengerjakan. Tarjo yang sejak tadi memperhatikan anak-anak begitu serius, mengembangkan senyuman karena tidak ada perilaku anak yang membuat Sastra kecewa lagi.
“Damar sudah selesai, Pak,” celetuk salah satu anak yang usianya lebih tua diantara yang lain.
Sastra mengulurkan tangan untuk mengambil buku. Kemudian melihat hasil coretan tangan anak yang bernama Damar. Matanya membulat seketika. Apa yang ditulis anak itu tidak sesuai dengan bentuk huruf dalam kertas. Damar malah menggambar bentuk lain. Sastra tersenyum tipis. Tulisan Damar tidak ada yang benar satu pun. Sehingga Sastra mengambil kesimpulan, bahwa orangtua mereka tidak pernah mengajarkan anaknya di rumah mengenalkan huruf.
Tarjo yang berdiri di depan saung mulai melihat perubahan di wajah Sastra. Yang tadinya tenang, kini ada sedikit amarah. Lelaki tua itu masih bergeming belum mengeluarkan sepatah kata pun.
30 menit sudah berlalu, anak-anak belum ada lagi yang menyelesaikan. Sastra menyuruh mereka untuk menutup buku dan menyimpan pensil di sebelahnya. Kemudian mulai bertanya pada mereka.