Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #17

Anak Bisa Menghapal

Apa yang kita upayakan dengan bersungguh-sungguh, Allah pasti akan memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Dengan tekad dan niat baiknya, Sastra berhasil melalui segala keresahan dalam hati. Memang berbeda sekali, ketika mengajar di sekolah. Anak-anak sudah terkondisikan oleh para orangtua di rumah. Berbeda dengan kondisi di Desa Dieng Wetan. Kebanyakan mereka tidak mau belajar… dan lebih memilih untuk bermain di luar. Sehingga karakter pun terbentuk di sana. Akan tetapi, dengan kesabaran yang Sastra lakukan selama tiga hari membersamai anak-anak, telah membuahkan hasil. Mereka kini semangat untuk nonton video lagi. Sastra dan Tarjo memulas senyum. 



30 menit yang kedua telah berlalu. Layar infocus sudah dimatikan. Sastra menyuruh anak-anak untuk menulis ulang huruf dari video yang sudah mereka tonton. Meskipun belum hafal semuanya, anak-anak berusaha mengingat kembali. Satu per satu buku tulis mereka dibagikan. 



Sastra masih memperhatikan mereka yang mulai menuliskan sesuatu dalam lembaran kertas kosong. Ada beberapa anak yang sudah benar penulisannya ada juga yang bergeming dulu baru mulai menulis. Kemudian Sastra mengatakan agar menulis huruf yang diingat saja. Nanti besok kita mengulang lagi nonton videonya. Mereka pun tampak bersorak karena ingin menonton lagi.



Lelaki yang masih duduk di kursi kembali memulas senyum. Dia merasa bangga terhadap usaha Sastra selama tiga hari untuk menunjukkan bahwa akan berhasil membimbing anak-anak. Selama ada keinginan dan upaya yang dilakukan, pasti membuahkan hasil. Begitulah Tarjo menilai Sastra. 



Semua buku yang sudah dikumpulkan, Sastra cek kembali. Anak-anak masih duduk dengan rapi dengan posisi melingkar. Wajah Sastra tampak semringah. Hurup-hurup yang mereka tulis, benar semuanya. Tidak ada kesalahan. Sungguh keajaiban yang luar biasa. Mereka mampu menyerap ilmu dengan cara menonton video. Metode untuk mengajar memang banyak jenisnya. Dilihat dari mengerti atau tidak mereka mempelajarinya. 



“Alhamdulillah, Bapak ucapkan selamat buat kalian. Sudah mempraktekan ilmu yang dipelajari. Semoga besok kalian bisa mempelajari semuanya. Agar bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya. Belajar membaca. Bapak akan memberikan buku pada kalian. Agar bisa dibaca di rumah. Nanti dibantu dulu sama orang tua masing-masing.”



“Baik Pak Guru…” Anak-anak serentak menjawab.



Sastra memulas senyum mendengar teriakan mereka. Tarjo juga melakukan hal yang sama. 



Anak-anak mendapatkan satu paper bag yang isinya: buku tulis, peralatan menulis, dan satu buku bacaan. Mereka menyalami Sastra dan Tarjo sambil berbaris. Para orang tua sudah menunggu di depan rumah. Saat pintu terbuka, mereka berhamburan keluar menemui orang tuanya. 



Sastra keluar dan menitipkan pesan buat para orang tua, agar membantu anak mereka belajar membaca di rumah dan mengulang huruf yang sudah dihafalkan. Para orang tua mengucapkan terima kasih untuk hari ini, karena Sastra sudah membimbing anak mereka sampai sejauh ini. Kemudian mereka pun berpamitan. 




Tarjo melangkah ke arah lelaki yang masih berdiri di ambang pintu. 



“Besok mau pakai infocus lagi, Mas Sastra?”



“Iya, Pak. Sehari lagi.”



“Baiklah, Bapak akan memberi kabar pada Solihin untuk memperpanjang waktu peminjaman barang.”



“Terima kasih, Pak. Sudah banyak membantu Sastra.”



“Jangan pernah sungkan. Kamu sudah Bapak anggap seperti anak sendiri.”



Sastra melihat mata Tarjo mulai berkaca-kaca. Sebenarnya… sosok lelaki yang ada dihadapan, mengingatkan dia pada wajah sang istri. Sudah tiga hari tidak menanyakan kabar padanya. Nanti malam Sastra berencana untuk menelpon Widuri. 


Lihat selengkapnya