Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #18

Keinginan Orang tua

Terdengar adzan Subuh berkumandang. Sastra menyempatkan untuk salat berjamaah di masjid lagi. Tarjo dan Joko sudah ada di shaf pertama. Karena datang terlambat, Sastra berada di shaf paling belakang. Salat berjamaah pun dimulai dengan khusyuk. Lantunan ayat suci Al-Quran begitu terdengar indah di telinga. Salat pun selesai. Orang-orang ada yang bersalaman sebelum meninggalkan masjid. Tarjo mengajak Sastra dan Joko untuk pulang bersama. 



Jarak dari masjid ke rumah Tarjo sangat berdekatan. Pantas saja lelaki yang berstatus kepala desa itu selalu menyempatkan salat Subuh berjamaah di masjid. Perangainya terkenal baik di masyarakat. Begitu juga saat memposisikan sebagai paman dari Joko, Tarjo memberikan motivasi pada anak itu, meskipun ayahnya tidak mengizinkan dia untuk bersekolah. 



Akhirnya mereka bertiga sampai juga di rumah. Kemudian duduk di ruang tamu. Di atas meja sudah tersaji 3 cangkir teh manis hangat dan juga camilan hangat juga, yaitu pisang goreng dan tempe mendoan. Mereka pun mulai mencicipi camilan tersebut. Joko begitu lahap sudah makan pisang goreng 3 dan tempe mendoan 2. Sepertinya anak itu memang jarang makan karena tidak pernah pulang ke rumah. Tarjo ingin sekali bertanya pada Joko, apa saja yang sudah dilakukan sama anak itu? Selama berada di luar rumah. 



“Le, boleh Pakde bertanya sesuatu?”



“Tentu saja boleh, Pakde mau menanyakan apa?”



“Kamu ini di luar sana ngapain aja?”



Joko bergeming ketika ditanya hal itu. Selama ini memang tidak pernah pulang ke rumah. Dia sering tidur di tempat wisata.



“Joko kerja cari uang buat makan.”



“Harusnya kamu itu tinggal bersama Pakde. Jangan berkeliaran terus!”



“Joko malu kalau tinggal bersama Pakde. Wong punya rumah sendiri.”



“Kamu meninggalkan rumah, kan karena sering dimarahi sama ayahmu. Biar Pakde nanti yang menasihati. Jadi, Bapak jangan berlaku semena-mena pada anak.”



“Ga usah Pakde. Joko takut nanti malah terjadi keributan. Pakde tahu sendiri, kan kalau Bapak sudah marah besar. Joko sering kena pukul.”



“Astagfirullah…” Sastra yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka menjadi terkejut dan beristighfar.


Lihat selengkapnya