Kepulangan Tarjo membawa bahagia di hati Sastra dan juga Joko. Sosok lelaki yang selalu memberikan saran dan semangat untuk terus berusaha. Sastra merasakan hal yang berbeda sejak bertemu dengan Tarjo. Lebih matang lagi dalam berpikir dan merencanakan sesuatu. Lelaki tua yang sudah seperti ayahnya itu, telah mengajarkan banyak cara untuk memahami sesuatu, sebelum bertindak. Selama mengajarkan anak-anak, Tarjo yang berperan di belakang layar untuk memberikan masukan. Sastra merasa terbantu sekali. Sehingga apa pun rencana yang dibuat selalu dipikirkan dulu, apakah baik atau tidak untuk dilakukan? Besok harus lebih semangat lagi untuk mengajar anak-anak.
“Ayo dinikmati dulu ubi rebusnya. Kalau dibiarkan lama nanti bisa dingin.” Permintaan Tarjo membuat mereka segera mencicipi ubi rebus tersebut.
“Kayaknya enak,” ucap Joko sambil memasukkan ubi yang sudah dikupas ke dalam mulut.
“Gimana, enakkan rasanya, Le?”
“Iya, Pakde. Ini enak sekali.”
“Makan yang banyak biar cepat kenyang. Asal jangan buang gas sembarangan aja.”
Sastra tertawa mendengar candaan Tarjo. Sedangkan Joko ingin menanyakan sesuatu, apa hubungan ubi dengan buang gas sembarangan?
“Emang ada ya hubungannya, Pakde? Antara ubi dan buang gas?”
Tarjo dan Sastra saling mengulum senyum. Joko ini anaknya sangat polos. Ternyata tidak tahu apa-apa.
“Begini, Le. Pakde coba jelaskan. Dalam ubi ini ada kandungan gasnya. Sehingga kalau kita makan banyak ubi tersebut, otomatis kita akan selalu buang gas alias kentut.”
Sekarang giliran Joko yang tertawa sambil memegang perutnya. Karena baru mengetahui alasannya seperti itu.
“Sudah Le, sudah. Hati-hati keselek ubi.”
“Ndak kok, Pakde. Joko sudah mengunyah semuanya sampai habis.”
Sastra mengacungkan dua jempol memberikan apresiasi pada Joko. Sedangkan Tarjo menyeruput teh hangat dalam cangkir. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Seandainya istri dan anak perempuannya ikut bercengkrama dengan mereka di sini. Rumah ini akan ramai setiap hari. Dengan kehadiran Sastra dan Joko juga sudah membuat Tarjo tidak merasa kesepian lagi.
Keesokan harinya, selesai sarapan nasi goreng buatan Mbok Darmi. Mereka bertiga sudah bersiap untuk menyambut kedatangan anak-anak jam 9 nanti. Rencananya akan dibagi 3 kelompok untuk mengajari anak-anak. Tarjo dan Joko ikut membantu menjadi guru sementara. Akan ada 3 tempat untuk belajar. Karena kalau berdesakan pasti tidak akan fokus. Sastra kebagian di ruang tamu, Tarjo di halaman rumah, dan Joko izin sama DKM menggunakan masjid sebentar. Semua sudah diatur dengan perencanaan yang matang.
Para orang tua sudah berdatangan untuk mengantarkan anak mereka belajar. Sastra, Tarjo, dan Joko menyambut kedatangan mereka. Anak-anak berbaris sambil bersalaman dengan mereka. Kemudian Sastra memberitahukan pada para orang tua, bahwa hari ini akan dimulai belajar membaca. Mohon untuk dibantu saat di rumah nanti, kembali mengulang bacaan yang sudah dipelajari. Beberapa orang tua menjawab bersedia. Satra akan memberikan formulir untuk ditandatangani, setelah anak-anak mengulang pelajaran di rumah. Selesai mendapatkan arahan dari Sastra. Para orang tua berpamitan dan meninggalkan halaman rumah Tarjo.
Sastra menyebutkan nama anak yang akan dibagi menjadi 3 kelompok. Mereka yang sudah mendapatkan kelompoknya, lalu diberikan arahan agar bisa fokus membaca dibantu oleh Tarjo dan Joko.