Selesai salat berjamaah di masjid. Mereka langsung makan siang bersama. Menu makanan sudah tersaji di meja makan. Tarjo menyuruh Joko untuk memimpin doa. Setelah itu, mereka langsung mengambil lauk pauk masing-masing. Seperti biasa, di meja makan jarang sekali terjadi percakapan. Karena itu bagian dari adab ketika sedang makan. Jangan ada yang berbicara. Mereka menikmati makan sampai selesai.
Tarjo menyuruh Joko untuk tetap tinggal di sini. Apa pun yang akan terjadi nanti, tidak perlu di khawatirkan. Karena orang yang bertemu di masjid tadi, pasti memberitahukan keberadaan Joko pada Sukarman.
“Le, kamu kenal orang yang tadi mengaku tetangga ayahmu?”
“Sepertinya iya, sih, Pakde. Kan orangnya kenal juga sama Joko.”
“Seandainya, ayahmu ke sini, bagaimana, Le?”
“Joko nggak mau pulang. Joko ngumpet aja, kalau ayah datang kemari.”
Sastra melihat perubahan dari raut wajah Joko. Anak itu tampak gusar. Apakah sosok ayahnya sangat menakutkan?
“Ndak usah ngumpet. Nanti Pakde yang menghadapi ayahmu.”
“Joko ndak mau, kalau Pakde dan ayah sampai bertengkar.”
“Tenang aja, Pakde ndak bakalan emosi. Paling ayahmu yang suka naik pitam. Wataknya memang keras.”
Mendengar penuturan dari Tarjo, sedikit mengurangi rasa khawatir Joko. Dulu, ayahnya sempat menampar dia. Karena tidak mau patuh untuk melakukan kebiasaan ruwatan bagi anak-anak yang berambut gimbal. Hanya Joko sendiri. Anak-anak warga lain tidak ada yang rambutnya seperti Joko. Tradisi ruwatan rambut gimbal adalah anak yang berambut gimbal harus memotong rambutnya. Karena menurut kepercayaan masyarakat setempat. Mereka adalah titipan dari Kyai Kolodete dan Nyi Roro Ronce, tokoh mitologi Dieng yang dipercaya sebagai leluhur mereka. Berdasarkan banyaknya jumlah anak yang berambut gimbal juga dipercaya berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Semakin banyak anak berambut gimbal, semakin makmur Desa Dieng.
Sastra mendengarkan apa yang diceritakan oleh Joko. Ternyata tradisi di sini masih kuat. Meskipun mayoritas masyarakatnya sudah muslim, tapi mereka tetap mempertahankan kebudayaan di tengah masyarakat.
Tarjo malah menimpali kalau tradisi itu harus segera dihapuskan. Yang mengatur rezeki itu Gusti Allah. Tidak ada hubungannya dengan anak berambut gimbal.
Joko menanggapi pernyataan Tarjo. Memang benar, sebagian masyarakat ada yang masih percaya dengan tradisi. Termasuk tradisi ruwatan. Untung anaknya cuma satu, Joko saja yang berambut gimbal dan dia sempat menolak untuk memotong rambutnya. Karena Joko menerima kondisi fisik yang seperti itu. Allah sudah menciptakan manusia dengan perbedaan. Tidak ada yang sama, meskipun ada wajah yang serupa.
“Sudah Le, jangan khawatir lagi masalah tradisi itu. Pakde tidak akan membiarkan ayahmu melakukannya.”
“Terima kasih atas kebaikan Pakde. Kalau Joko tidak bertemu Pakde. Mungkin Joko masih berada di luaran sana.”
“Usia kamu itu masih muda, Le. Jangan sampai masa depanmu hancur. Pakde ingin kamu menjadi orang sukses. Contohnya seperti Mas Sastra ini. Seorang guru yang pengabdiannya sangat mulia.”