Setelah kejadian kemarin, Joko tampak murung. Sastra yang baru keluar dari kamar, menghampiri anak lelaki berusia 12 tahun itu.
“Sudah, jangan dipikirkan masalah yang kemarin,” ucap Sastra sambil menepuk pundak Joko.
“Joko takut dosa, karena tidak menuruti perintah ayah untuk ikut pulang.” Perkataan Joko membuat Sastra harus meluruskan masalah ini.
“Begini Joko, kalau ada sangkut paut dengan dosa, jelas tidak. Menurut Bapak, kamu menolak ayahmu untuk ikut pulang karena khawatir nanti bisa bertindak semena-mena pada anak sendiri. Justru, lebih baik kamu jangan tinggal bersama dulu. Karena setiap apa yang dilakukan, harus menjadi contoh terbaik buat anak mereka. Seandainya… kamu tinggal bersama ayahmu, mungkin, watak keras itu akan kamu ikuti. Apakah kamu mau seperti itu?”
“Tentu saja, Joko ndak mau. Joko ingin jadi anak saleh.”
Mendengar jawaban dari anak itu, Sastra memulas senyum karena Joko sudah mengambil sikap yang benar. Kemudian menyuruh Joko untuk tetap semangat melakukan hal kebaikan yang bisa mendatangkan pahala dari Gusti Allah. Biarlah apa yang sudah terjadi, jangan dipikirkan kembali. Hidup itu terus berjalan menatap ke depan, bukan terus menoleh ke belakang. Apalagi selalu mengeluh. Itu tandanya orang tidak bersyukur atas ketetapan dari Allah.
Apa yang dikatakan oleh lelaki yang bergelar Guru itu, dapat Joko pahami. Laki-laki itu harus kuat karena dia akan dikenakan banyak tanggung jawab di pundaknya. Apalagi kalau sudah beranjak dewasa dan dihadapkan dengan urusan menikah. Pasti harus mempersiapkan segalanya. Tanggung Jawab untuk keluarga, terutama kalau sudah mempunyai anak, harus mempersiapkan nafkah untuk keluarga.
Selama tinggal di rumah Pakdenya. Joko merasakan ketenangan. Apalagi Pakde suka mengajak Joko salat berjamaah di masjid. Dia tidak pernah meninggalkan kewajiban 5 waktu. Seperti kata Pakdenya kemarin. Jangan sampai watak keras ayahnya diwariskan pada anaknya. Joko juga merasa khawatir, karena ada peribahasa kalau buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Itu artinya mulai dari sifat, tingkah laku, dan kebiasaan orang tua akan diikuti oleh anaknya. Joko akan membentenginya dengan belajar agama yang benar untuk membentuk akhlak yang baik dan dijauhkan dari berbuat maksiat.
Sastra menanggapi apa yang Joko khawatirkan. Memang peribahasa itu benar, kalau gen ayah itu berpengaruh besar terhadap anaknya. Apa yang dimiliki pasti akan diwariskan pada anaknya. Hanya saja sebagai anak bisa juga tidak mencontohnya. Kalau mendatangkan kebaikan pada keluarga, kita kerjakan. Sebaliknya, jika tidak mengerjakan kebaikan, tentu harus ditinggalkan. Sastra menyarankan agar Joko bisa memilah untuk kebaikan dirinya sendiri.
“Ini hari keenam Bapak mengajar. Kamu ikut Bapak mencari tempat untuk berolahraga bersama anak-anak.”
“Pakde ndak ikut?”