Sudah hampir sore kondisi Tarjo belum ada perubahan. Rasa nyeri menjalar ke bagian tangan dan kaki. Sastra mau membawanya berobat ke Puskesmas. Khawatir ada otot yang cidera karena melakukan gerakan senam tadi pagi.
“Kita pergi berobat sekarang ya, Pak?”
“Bapak ndak bisa menggerakkan tubuh.”
Sastra harus membawa Tarjo memakai kendaraan beroda empat karena tidak bisa menggunakan motor.
“Bapak ada kenalan nggak? Tetangga atau siapa pun yang punya mobil untuk mengantar ke Puskesmas.”
“Di kecamatan ada mobil inventaris, tolong bantu Bapak hubungi Solihin.” Tarjo menyuruh Joko untuk memberikan handphonenya pada Sastra.
Lelaki yang sudah berpakaian rapi itu mengulurkan tangannya untuk mengambil handphone dari Joko. Tarjo meminta Sastra agar menghubungi Solihin karena yang bisa menyetir mobil hanya dia.
Kemudian Sastra menscroll mencari nama Solihin di buku telepon. Ketemu juga dan segera menghubunginya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…”
“Dengan Pak Solihin, ini Sastra, Pak Tarjo mau meminta tolong menggunakan mobil untuk mengantar berobat ke Puskesmas.”
“Pak Tarjo sakit apa?”
“Tubuhnya nggak bisa digerakkan. Bapak bisa secepatnya datang ke rumah?”
“Iya, baik. Tunggu sebentar.”
Percakapan pun berakhir. Sastra menyimpan handphone itu di atas nakas. Kemudian menyuruh Joko untuk bersiap ikut ke Puskesmas.
15 menit menunggu kedatangan Solihin, akhirnya terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Sastra bergegas menuju ke luar. Solihin berjabat tangan sambil mengucapkan salam. Sastra menjawabnya, kemudian meminta Solihin masuk ke rumah. Lelaki yang masih memakai pakaian dinas kecamatan itu, mengekor di belakang Sastra.
Sementara di kamar, Tarjo masih berbaring. Joko duduk di tepian tempat tidur. Anak lelaki itu menanyakan apa yang dirasakan Pakdenya sampai tidak bisa menggerakkan tubuh.