Sastra bergegas menemui Tarjo. Lelaki tua itu meminta bantuan Joko menggunakan kain untuk menghapus air matanya di pipi. Dia tidak mau terlihat bersedih, karena selama ini sudah berusaha menjadi lelaki yang tegar.
“Maaf Pak, tadi… Sastra dengar menyebutkan dua nama perempuan. Kalau tidak keberatan, bisakah Bapak menceritakan siapa mereka?”
Tarjo bergeming mendengar Sastra menanyakan dua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia tidak mau orang lain tahu permasalahan apa, yang sudah terjadi di masa lalu. Sehingga harus meninggalkan keluarga. Ingin rasanya bisa berkumpul lagi. Akan tetapi, apakah Widuri masih bisa menerimanya sebagai ayah? Sedangkan Rasminah, selalu mendukung apa yang sudah Tarjo upayakan dalam memenuhi nafkah keluarga.
Bisnis tempat wisata peninggalan ayahnya, sudah berpindah hak pengelola atas nama Sutarjo. Kenapa ayahnya tidak memilih Sukarman? Karena Tarjo orang yang bisa dipercaya untuk meneruskan bisnis dibantu oleh suaminya Mbok Darmi yang sudah seperti saudara sendiri.
“Mas Sastra yakin mau mendengarkan cerita Bapak?”
“Iya, Pak. Sastra ingin mendengarkannya.”
Tarjo tidak bisa menolak permintaan Sastra yang sudah seperti anaknya sendiri. Dia menyuruh pemuda itu duduk di sebelah Joko. Karena akan bercerita tentang keluarganya semasa hidup di desa.
Putrinya sudah beranjak remaja, gadis berambut panjang yang selalu di kepang dua itu, tidak pernah mau jauh dari sosok sang ayah. Dia ingin selalu bersama ayahnya, kemana pun lelaki itu pergi. Sang istri merasa bahagia melihat pertumbuhan putri semata wayang mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun. Karena kedua orang tuanya selalu memberikan pendidikan terbaik untuk masa depan Widuri.
“Bapak Sayang sama kamu, Nduk. Bapak ingin melihat kamu menjadi orang sukses di masa depan. Sekolah yang rajin, ya,” pinta P
Tarjo pada putrinya yang sudah memakai seragam putih abu. Sang ayah selalu mengantarnya ke depan pintu gerbang sekolah karena tidak mau terjadi sesuatu pada putri mereka. Tarjo selalu mengawasinya dari jauh.
Setelah Widuri lulus dari SMA, perekonomian mereka sedang di uji. Widuri ingin melanjutkan kuliah, tapi Tarjo tidak bisa membiayainya. Dia pun meminta izin pada Rasminah untuk pergi ke kota mencari pekerjaan agar bisa menafkahi istri dan anaknya. Awalnya sang istri menolak untuk ditinggal pergi, karena belum terbiasa mereka hidup tanpa lelaki yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Akan tetapi, Tarjo bersikeras akan pergi ke kota.
Tanpa sengaja obrolan mereka terdengar oleh Widuri. Gadis itu tidak mau ayahnya pergi meninggalkan desa.
“Maafkan Bapak, Nduk. Selama ini Bapak kerja serabutan. Jadi, hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari saja. Alhamdulillah waktu kamu bersekolah, bebas biaya apa pun. Sekarang, Bapak harus mencari jalan keluar agar hidup kita tidak serba kekurangan.”
“Tapi, Pak… disini juga banyak pekerjaan yang bisa Bapak lakukan. Tanpa harus pergi ke kota dan meninggalkan desa. Nanti di sana Bapak tinggal bersama siapa?”
Pertanyaan dari putrinya membuat Tarjo serba salah mau menjawab apa? Karena dia pun tidak mempunyai sanak saudara. Keluarga besarnya menetap di Desa Dieng Wetan.
“Bapak juga belum tahu, Nduk. Karena keluarga Bapak ada di Desa Dieng Wetan. Kalau mencari kerja di sana mungkin akan direkomendasikan sama kakekmu.”