Semua sudah terjawab, sosok Tarjo yang selalu memberikan masukan, ternyata ayah mertua Sastra. Lelaki itu meminta Tarjo yang sedang berbaring untuk segera beristirahat. Besok adalah hari terakhir mengajar. Sastra harus tetap semangat karena besok setelah selesai mengajar, akan pulang dulu ke Wonosobo. Dia ingin menceritakan tentang sosok ayah kuat pada istrinya. Agar Widuri menghilangkan kesalahpahaman yang sudah terjadi. Bahwa apa yang selama ini sudah dilakukan Tarjo untuk kebahagiaan keluarganya. Meskipun harus ada pengorbanan meninggalkan keluarganya.
“Kamu jaga baik-baik pakde, ya, Bapak mau ke kamar untuk beristirahat.”
“Baik, Pak.”
Sastra beranjak dari kursi dan berpamitan pada Tarjo.
“Jangan sampai lupa minum obatnya, Pak. Sastra pamit dulu.” Lelaki itu mencium punggung tangan ayah mertuanya dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, Mas. Terima kasih atas perhatiannya.” Tarjo melihat aura kesedihan di wajah Sastra. Siapa sebenarnya pemuda ini?
Sastra menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Kemudian menarik kenop pintu, agar pintu bisa terbuka. Mendekati tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya. Dia mulai memejamkan mata dan berdoa agar hati istrinya bisa dilembutkan. Agar bisa menerima sosok yang dikagumi. Mata Sastra pun mulai tertutup.
Keesokan harinya. Pagi ini sangat cerah sekali. Sastra sudah mempersiapkan soal untuk mengetes anak-anak, sudah sejauh mana mereka paham. Sebelum ke luar, dia ingin melihat keadaan Tarjo. Semoga kondisinya semakin membaik. Sebelum dia izin pulang untuk menemui istrinya. Sastra pun segera keluar dari kamar.
Langkah kakinya berhenti di depan kamar Tarjo yang sudah terbuka. Tampak Joko sedang menyuapi ayah mertuanya dengan penuh perhatian. Sastra memulas senyum. Anak lelaki seperti Joko terbiasa berbuat baik karena dia melihat orang yang dicontohnya. Sastra merasa bersyukur karena Gusti Allah sudah menentukan jalan pada anak itu. Pilihan yang sangat sulit karena harus menjauh dari sosok ayah yang berwatak keras.
Sastra melangkah masuk, dia menanyakan apakah ada perkembangan baik?
“Apa ada perubahan, Pak?”
“Alhamdulillah rasa nyerinya mulai berkurang.”
Sastra berucap syukur juga dalam hati. Ada perkembangan baik. Jadi, tidak khawatir untuk meninggalkan Tarjo. Selama dia pulang dulu ke Wonosobo.