Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #28

Sebuah Keinginan

Para orang tua sudah datang untuk menjemput. Mereka bersalaman dengan Sastra dan mengucapkan kembali terima kasih karena sudah mengajar anak-anak sampai selesai. Sastra mengatakan bahwa anak-anak sudah ada perkembangan baik, alhamdulillah mereka bisa menulis lancar dari hasil menghapal di rumah. Untuk hasil tes nanti akan di infokan kalau Sastra selesai memeriksa soalnya. Setelah itu, mereka berpamitan dan anak-anak berbaris mencium punggung tangan Pak Guru untuk yang terakhir. Sastra berpesan agar tidak boleh malas karena sekolahnya sudah selesai. Tetap saja harus rajin belajar di rumah. Tunggu kabar dari Pak Guru selanjutnya. Semoga suatu saat bisa kembali mengajar anak-anak.



Sastra melangkahkan kaki ke rumah sambil menenteng lembaran soal yang sudah diisi sama anak-anak. Dia akan mengerjakan nanti, setelah pulang ke kontrakan. Sebelum masuk ke kamar, Sastra ingin melihat kondisi mertuanya. Dia pun melangkah menuju kamar Tarjo. 



Pintu kamar terbuka lebar. Tarjo sudah bisa menggerakkan kakinya. Joko masih menemani. Sastra memasuki kamar dan mengatakan sangat bersyukur kondisi ayahnya mulai membaik. Jadi, tidak akan terlalu khawatir kalau ditinggal pulang ke Wonosobo. Dia akan mempersiapkan sesuatu untuk Tarjo. Ingin melihat wajah yang sudah tampak keriput itu tersenyum bahagia. 



“Pak, sepertinya Sastra mau pulang dulu ke Wonosobo. Bapak tidak apa-apa, kan ditinggal beberapa hari?”



“Ndak apa-apa, Mas Sastra. Silakan pulang dulu karena harus menemui istri yang sedang hamil. Bapak, kan masih ditemani Joko. Jadi, ndak akan kesepian.”



“Sastra pasti kembali lagi kalau urusan di sekolah Wonosobo sudah selesai. Satu pekan lagi mau ada pembagian raport di sekolah.”



“Mas Sastra pulang saja, jangan terlalu khawatir sama Bapak. Insyaallah, Bapak sehat lagi.”



“Sastra doakan semoga kondisi Bapak segera pulih lagi. Amin.”



Sebelum berpamitan pulang, Sastra melangkah mendekati Tarjo yang masih berbaring di atas tempat tidur. Lelaki itu mendaratkan bokongnya di tepian, kemudian mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Tarjo. 



“Boleh Sastra memeluk Bapak?”



Tarjo mengizinkannya. Mereka saling merangkul. Ada perasaan bahagia bagi Sastra bisa sedekat ini dengan ayah mertuanya. Bulir bening pun membasahi kedua pipi dari kedua lelaki yang masih belum merelai pelukan. 



“Bapak seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Entah, apa itu?”



Belum saatnya Sastra mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Kemudian dia pun melerai pelukan. Mengusap air mata yang mengalir di pipi Tarjo dengan punggung tangan. 



“Bapak, sehat-sehat, ya. Sastra izin pamit sekarang.”



“Iya, Mas. Hati-hati diperjalanan.”


Lihat selengkapnya