Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti

Puspa Artheria
Chapter #30

Kebahagiaan Didepan Mata

Satu pekan untuk mengisi liburan, Sastra ingin memberikan surprise pada istri dan ibu mertuanya. Sempat mengobrol dengan Rasminah–perempuan itu mengatakan ingin sekali menemukan suaminya dan meminta tolong pada Sastra. Tentu saja sang menantu akan membantu mempertemukan mereka kembali. Sastra ingin melihat mereka hidup bahagia, melupakan permasalahan masa lalu. Karena takdir memang begitu adanya. Manusia hanya bisa menerima, skenario yang Allah buat untuk hidup di dunia. Peran tokoh dimainkan, ada yang merasa bahagia dan sedih datang silih berganti. Semoga dengan memilih untuk menetap di Desa Dieng Wetan, Rasminah dan Tarjo bisa membuka lembaran baru. Melanjutkan kisah mereka yang sempat terjeda. 



Saat makan malam, Sastra meminta kedua perempuan yang sedang makan untuk ikut berlibur. Awalnya Rasminah mau izin pulang saja. Biarkan menantu dan putrinya berlibur karena mereka baru bertemu kembali, setelah Sastra selesai mengemban tugas. 



“Ibu ikut kami, ya? Kapan lagi kita bisa berlibur bersama sambil menikmati pemandangan indah ciptaan Allah Swt.”



“Memangnya kita mau berlibur kemana, Mas?”



“Bukankah kamu ingin bertemu dengan tuan rumah yang sudah berbuat baik pada Mas.” Kita akan berlibur ke Desa Dieng Wetan. Nanti kamu dan ibu naik mobil. Biar Mas berangkat pakai motor.”



“Mas punya uang buat sewa mobil?”



“Bukan sewa, Dek, tapi meminjam buat satu hari besok saja.”



“Syukurlah kalau ada kendaraannya. Ibu ndak bisa menolak keinginan menantu baik seperti, Nak Sastra ini.”



“Terima kasih, Bu. Malam ini kita mengemas barang yang akan dibawa.”



Widuri dan Rasminah menuruti apa perkataan Sastra. Selesai makan, Sastra dan Widuri menuju kamar. Sedangkan Rasminah melangkah ke ruang tamu. Sejak ada Sastra, perempuan itu tidur di depan dengan beralaskan kasur lipat. Sebelum suami dari putrinya kembali, Rasminah selalu menemani Widuri tidur di kamar. Dia mulai melipat pakaian dan memasukkan ke dalam tas. Selesai dari merapikan pakaian dan barang, perempuan itu mulai merasa lelah. Sudah waktunya untuk membaringkan tubuh dan memejamkan mata. 



Sementara di kamar, Sastra masih membantu Widuri melipat pakaian yang akan dibawa. Serta perlengkapan untuk merajut. Kemarin waktu suaminya tidak ada, Widuri berhasil menyelesaikan orderan sepatu bayi. Sambil menunggu orderan datang lagi, dia masih tetap semangat di usia kandungan yang sebentar lagi mau 7 bulan. 



“Mas, kok, dadaku terus berdetak, ya. Pertanda apakah ini, Mas?”



Sastra memulas senyum.



“Itu tandanya kamu akan mendapatkan kebahagiaan di depan mata, waktunya sebentar lagi. Kalau sudah selesai, kita tidur, ya.”



Widuri masih mencerna apa yang dikatakan oleh Sastra. Kebahagiaan di depan mata? Apa maksud dari perkataan suaminya?



Sastra dan Widuri sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Widuri menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Sastra mengelus rambut istrinya sambil mengecup kening. Kemudian mereka tidur sambil saling mendekap. 



Esok pagi setelah sarapan, mobil yang dikendarai Solihin sudah terparkir di depan rumah kontrakan. Sastra meminta bantuan lelaki itu untuk memasukkan tas yang berisi pakaian dan perlengkapan lain ke bagasi mobil. 



Widuri dan Rasminah sudah bersiap. Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di kursi kedua. Solihin menyalakan mesin mobil untuk segera berangkat. Sastra masih memanaskan mesin motornya. Mobil yang dikendarai Solihin melaju pelan meninggalkan rumah kontrakan. Selesai memanaskan motor, Sastra langsung pergi mengikuti mobil dari belakang.

Lihat selengkapnya