Nadia (22) melipat sedikit sudut halaman novel di pangkuannya—sebuah cerita misteri berlatar Bergen, kota di pesisir Norwegia yang langitnya hampir selalu berwarna abu-abu baja. Di dalam buku itu, aspal jalanan digambarkan jarang sekali benar-benar mengering.
Di sekelilingnya, kepengapan malam seolah sengaja mengepung dan mengurung ruang geraknya. Suara backsound game online dari ponsel sepupunya bertabrakan bising dengan ramai tetangga sebelah rumah, yang sama-sama sedang merayakan malam pergantian tahun. Semua orang di luar sana bersiap merayakan masa depan yang baru, sementara Nadia justru terperangkap di ruangan penat.
Di sebelahnya, Tante sedang sibuk mengunyah keripik dengan ritme konstan. Matanya menatap Nadia dari kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sama sekali tidak disembunyikan.
"Pantesan, kamu terlalu idealis ya," celetuk Tante di sela kunyahannya. "Coba dari dulu kamu buka usaha atau ikut magang gitu dibanding ngurusin novel terjemahan mulu. Kalau gini gimana kamu mau berkembang? Toh, tanggung jawab kamu setelah ini akan lebih kompleks, jadi ya saran Tante disiapin aja sesuai kebutuhan kamu."
Pernyataan itu menggantung dingin di udara, bersaing dengan suara petasan pertama yang mulai meledak di luar jendela.
Dada Nadia berdenyut nyeri. Kata "berkembang" itu terasa seperti sebuah vonis. Namun, ia menarik napas dalam-dalam, merapalkan mantra positif di kepalanya seperti biasa: Tante cuma nggak tahu industri ini. Senyum, Na. Jangan merusak suasana.
Nadia menarik napas pendek sekali lagi, memaksa sudut bibirnya terangkat demi membentuk senyuman tipis yang kaku.
"Iya, Tante... Ini Nana lagi nyelesaiin proyek kontrak kok. Nanti kalau ini selesai, Nana rencana mau coba pasang portofolio lagi," jawab Nadia, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar riang.
Tante mendengus pelan, lalu kembali memasukkan selembar keripik ke dalam mulutnya. "Hmm, portofolio terus. Zaman sekarang ini cari cuan yang pasti-pasti ajalah. Kenapa nggak target kerja kantoran aja yang pasti, Na. Jangan cuma melamunin cerita kehidupan milik orang asing, sementara hidupmu sendiri malah... gimana ya, mandek."
BOOM!
Suara kembang api raksasa meledak di langit luar, disusul sorak-sorai terompet yang saling bersahutan dari rumah tetangga. Namun bagi Nadia, ledakan riuh itu mendadak senyap.