Tidak ada yang lebih melelahkan daripada mengabaikan suara yang berteriak di dalam kepalamu sendiri, sementara dunia di sekitarmu menuntutmu untuk tetap tenang.
Semuanya dimulai ketika kebisingan itu datang tanpa diundang. Bagi orang lain, kamarku mungkin sunyi, jalanan di depan rumah mungkin sepi. Namun, di dalam sini, di balik tempurung kepalaku, ada riuh yang tidak pernah selesai berdebat. Sesuatu yang asing, yang membuatku terjaga di malam-malam panjang.
Aku masih mengingat sore itu. Sore saat pertahananku runtuh sepenuhnya.
Aku pulang ke rumah membawa seluruh kelelahan karena harus berpura-pura kuat seharian, lalu langsung menjatuhkan diri di kasur. Aku bahkan tidak memiliki sisa energi sekadar untuk melepas sepasang sepatu putih yang membungkus kakiku, atau mengganti rok midi yang kini tampak kusut.
Kain kerudung yang kupakai masih melilit rapat, membungkus daun telingaku. Secara logika, ia seharusnya menjadi pelindung dari bisingnya dunia. Namun, kain itu tak sanggup menjadi benteng atas gemuruh pikiranku yang sudah sangat menggebu.
Aku mencoba menghibur diri dengan premis realistis: bukankah ini normal? Bukankah semua orang di luar sana memikul masalah yang sama? Menjadi dewasa memang berarti harus berdampingan dengan pilihan-pilihan sulit, dan aku tahu persis bahwa risiko selalu ada bersama setiap langkah yang kuambil. Aku hanya perlu menghadapinya. Tenang, Na. Tenang.
Aku menarik napas perlahan, mencoba menenangkan debaran cemas yang mulai liar di dada. Aku hanya memilih untuk bersandar, memahami kebutuhan hati yang terasa mendesak oleh harapan yang tak berkesudahan.
Orang tuaku menyetujui langkah ini, sejalan dengan kompas yang sudah mereka siapkan dengan rasa kehati-hatian. Bukankah melangkah di jalur yang sudah dirasakan aman oleh mereka rasanya jauh lebih menenangkan? Ini adalah keputusan paling logis untuk meredam semua riuh yang sudah berlangsung cukup lama.
Kuyakinkan hatiku sekali lagi bahwa pilihan ini sudah tepat. Ini bukanlah tanda bahwa aku menyerah pada keadaan, melainkan sebuah bentuk kepasrahan yang damaiāsebuah ketetapan yang memang kubutuhkan saat ini untuk berhenti terombang-ambing. Keperluanku hari ini mungkin sekadar menurunkan sedikit ego, berhenti mengejar bayang-bayang idealis di dalam kepala, dan mulai belajar berjalan di atas realitas yang stabil.
Semuanya akan baik-baik saja.