Mengarungi Sunyi

mahmudah romadhona
Chapter #4

Frekuensi Yang Sunyi

Jauh sebelum aku menginjakkan kaki di tempat ini, sebenarnya ada sebuah bayangan yang diam-diam telah hidup di dalam kepalaku. Sebuah gambaran ideal tentang ketenangan dan kedamaian yang entah mengapa sudah menetap di sana.

Aku tidak pernah mengungkapkannya kepada siapa pun. Kebisingan di balik tempurung kepalaku sebelum berangkat, rupanya menyimpan sebentuk kerinduan yang teramat dalam dan tak pernah sudi kuutarakan lewat lisan.

Lalu, ketika aku tiba, bayangan itu seolah mengambil wujudnya yang nyata. Perasaan déjà vu yang hadir begitu kuat hingga membuatku hampir pusing.

Bangunan utamanya adalah sebuah rumah tua yang luas, dan saat aku melangkah masuk, aromanya langsung menyapaku—aroma yang kaya dan agak manis dari kertas tua, tinta, dan kulit. Barisan buku berderet rapi di dinding, membentang dari lantai hingga ke langit-langit. Suasananya bukan seperti perpustakaan biasa, melainkan seperti tempat perlindungan yang telah lama ditinggalkan dan baru saja kutemukan kembali.

Dan di luar jendela, berdiri tegak dan gelap menantang langit, ada pohon-pohon yang kukenal lebih baik daripada bayanganku sendiri: pohon cemara. Bagi putra-putri Abahku, pohon-pohonan itu lebih dari sekadar kayu dan jarum; mereka adalah penjaga cerita keluarga kami. Melihat mereka di sini, begitu jauh dari rumah, rasanya seperti menemukan sebuah tanda rahasia bahwa akar yang kupikir kutinggalkan di belakang, ternyata sudah lebih dulu mengklaim tanah ini untuk menjagaku.

Namun, di tempat yang asing ini, duniaku seolah bergeser dalam satu detik yang tak terduga.

Ketika sebuah nama diperkenalkan, aku merasakan sebuah kejutan yang nyata. Aku tidak berani mengangkat pandanganku, menetapkan netraku dalam ketundukan yang dalam. Akan tetapi, dalam satu ketukan waktu yang teramat singkat, kami sempat saling bertatap. Aku freeze, membeku di tempat bersama kejadian-kejadian yang mendadak terkunci di udara.

Sisi imajinasiku seolah langsung mengenali frekuensi itu—sebuah frekuensi sunyi yang puitis, yang kelak kusadari menjadi awal bagaimana duniaku akan perlahan terasingkan oleh kenyataan yang kuhadapi.

Lihat selengkapnya