Mengarungi Sunyi

mahmudah romadhona
Chapter #5

Teka-teki Yang Tertinggal

Hari-hari terakhirku di tempat belajar itu sebenarnya ditutup dengan segudang harapan yang cerah.

Berada di sana terasa sangat menyenangkan. Proses berinteraksi dengan teman-teman, saling bertukar ilmu, dan terlibat dalam aktivitas harian yang produktif perlahan membuat jiwaku merasa kembali berdaya. Ada bagian dari hatiku yang perlahan merasa sembuh, dan kebisingan di balik tempurung kepalaku yang dulunya terasa seperti badai tanpa henti, pun sedikit demi sedikit mereda dari rasa kalut yang menyiksa.

Di dalam benak, sebuah gambaran yang segar tentang masa depan dan harapan-harapan baru setelah pulang sudah mulai terlukis dengan indah. Aku tidak lagi melihat masa depan sebagai labirin gelap yang menakutkan, melainkan sebagai selembar kertas bersih yang siap kutulisi dengan kedewasaan yang lebih tenang. Aku merasa siap untuk melangkah kembali ke dunia nyata, menghadapi komitmen yang menanti, dan menjalani peran yang telah digariskan untukku.

Namun, di tengah rasa damai yang mulai bertunas itu, pikiranku diam-diam masih menyisakan beberapa baris pertanyaan yang menggantung.

Labirin kepalaku di masa itu kerap memutar ulang kilasan perhatian dari orang-orang di sana yang terasa begitu ganjil. Perhatian yang terlalu jeli, yang adakalanya membuatku merinding sendiri.

Aku ingat bagaimana dalam beberapa kesempatan, ada seseorang yang menatapku dengan tatapan interpersonal yang dalam, lalu menyuruhku untuk tetap tinggal. Di sela waktu istirahat kelas, bertanya dengan nada yang tulus apakah aku benar-benar sudah siap untuk pulang ke rumah. Bahkan, ada yang begitu memedulikan kenyamanan hatiku dan memintaku untuk mempertimbangkan kembali keputusan untuk pergi.

Lihat selengkapnya