Waktu perlahan bergulir setelah kepulanganku. Di rumah, di tengah rutinitas yang perlahan kembali berjalan, aku mengira masih memiliki kelonggaran waktu yang cukup lapang.
Aku berpikir, di antara bentangan hari yang tersisa sebelum komitmen besar itu benar-benar tiba, aku bisa duduk tenang, menyendiri di kamar, dan mengurai teka-teki ganjil yang sempat kubawa pulang. Aku merasa garis akhir itu masih jauh di depan sana.
Namun, takdir rupanya gemar menyimpan kejutan di balik lipatan skenarionya yang tak tertebak. Suatu sore yang biasa, di tengah tenangnya suasana rumah, telepon genggamku berdering.
Di seberang sana, suara ayah tiriku terdengar tenang namun membawa sebuah ketetapan yang seketika memotong seluruh estimasi waktu yang telah kupetakan: pernikahan itu harus dilangsungkan sekitar dua hari kemudian.
Dua hari. Sebuah kalimat singkat yang memangkas jarak bergulirnya waktu yang kukira masih panjang menjadi hitungan jam.
Di titik itu, aku menyadari beliau murni hadir sebagai seorang pembawa pesan takdir—sebuah perantara yang diutus-Nya untuk mengetuk pintu duniaku, mengabarkan bahwa saatnya jangkar diturunkan telah tiba. Tanpa negosiasi. Tanpa penundaan.