Suara riuh para murid pada jam istirahat mengambang dari halaman sekolah, datang bersama angin yang sesekali menerobos jendela ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, Wage duduk di hadapan meja kayu yang dipenuhi map-map kusam, sementara kepala sekolah memandangi beberapa lembar berkas yang sejak tadi tak juga ditutupnya.
"Anak Bapak sudah dua minggu tidak masuk sekolah," katanya, tanpa mengangkat kepala. "Kami sudah beberapa kali memberi peringatan kepada walinya. Barangkali Bapak juga sudah mengetahuinya."
Wage mengangguk pelan. Jemarinya saling bertaut di atas lutut, seolah tak tahu harus diletakkan di mana.
Kepala sekolah menarik napas, lalu meletakkan berkas itu di atas meja. "Sesuai peraturan sekolah, kami tidak bisa mempertahankan anak Bapak lagi."
Tak banyak yang berubah di wajah Wage. Ia hanya memandang sesaat ke arah jendela, melihat beberapa anak berlarian di lapangan sambil saling melempar bola plastik. Barangkali di usia yang sama Samsul juga pernah berlari seperti mereka, pikirnya. Atau mungkin tidak pernah.
"Saya minta maaf," katanya akhirnya. "Kalau anak saya sudah merepotkan."
Kepala sekolah mengangguk pelan. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Wage berdiri, menjabat tangan lelaki itu, lalu meninggalkan ruangan dengan langkah yang terasa lebih berat daripada ketika ia datang.
Di luar, matahari hampir tepat di atas kepala. Jalan depan sekolah dipenuhi pedagang yang menawarkan cilok, es sirup, dan gorengan kepada murid-murid yang baru keluar kelas. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, bercampur tawa anak-anak yang belum tahu bahwa hidup dapat berubah hanya karena beberapa kalimat yang diucapkan di balik pintu kantor sekolah.
Wage berjalan cepat. Semakin jauh dari sekolah, langkahnya semakin panjang. Anak itu benar-benar hendak menghancurkan hidupnya sendiri, pikirnya. Padahal untuk membayar uang sekolah saja orang tuanya harus menghitung lembar demi lembar uang yang tersisa di akhir bulan.
Warnet itu tak sulit ditemukan. Dari luar saja suara teriakan para pemain sudah terdengar, bercampur bunyi keyboard yang dipukul bertubi-tubi. Bau rokok, keringat, dan pendingin ruangan yang mulai tak dingin menyambut siapa pun yang masuk.
Di sudut ruangan, Samsul duduk membungkuk menghadap layar komputer.
"Anjing... hampir kena," gerutunya, matanya tak beralih sedikit pun dari permainan.
Hero di layar berlari dikejar lawan. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kegesitan yang barangkali tak pernah ia tunjukkan ketika diminta membuka buku pelajaran.
Wage menemukannya seketika.