Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #3

Bab 2

Cahaya sore mengalir dari jendela-jendela kayu surau yang dibiarkan terbuka. Angin membawa bau tikar pandan yang telah lama menyerap keringat para santri. Di ruangan itu mereka duduk bersila, dipisahkan sekat kayu yang sederhana, membentuk dua barisan yang khusyuk menyimak kitab Safinatun Najah di hadapan Gus Afif, putra pemilik pondok, lelaki yang belum genap tiga puluh tahun namun telah terbiasa menjadi pusat perhatian setiap kali membuka kitab.

"Sudah paham?" tanyanya.

Serempak mereka mengangguk.

"Sudah, Gus," jawab salah satu santri.

Pandangan Gus Afif beralih kepada seorang santri di barisan depan.

"Yazid."

"Iya, Gus."

"Sebutkan najis mughallazah."

"Anjing, babi, dan segala keturunannya."

"Bagus."

Belum sempat pelajaran diteruskan, seorang santri lain mengangkat tangan dengan ragu-ragu. Aji namanya, bocah yang belakangan lebih gemar bertanya daripada menghafal. "Gus, kenapa babi diharamkan?"

Pertanyaan itu membuat udara di dalam surau seperti berhenti bergerak. Beberapa santri saling menoleh, sebagian lain menunduk, seakan-akan pertanyaan semacam itu lebih layak disimpan di dalam kepala daripada diucapkan di depan banyak orang. Gus Afif memandang Aji cukup lama, lalu menutup kitabnya perlahan.

"Sudah dijelaskan," katanya datar. "Karena ia termasuk najis mughallazah."

Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kalimat itu benar-benar jatuh ke telinga para santri.

"Islam mengajarkan kebersihan lahir dan batin. Bukan sekadar adat, melainkan syariat."

Dari barisan belakang terdengar suara Yazid yang nyaris berbisik. "Makanya didengarkan."

Aji tampaknya belum menyerah. "Tapi di luar negeri banyak yang makan, Gus. Katanya juga sehat."

Gus Afif menarik napas pendek. Wajahnya tetap tenang, hanya sorot matanya mengeras sedikit, cukup untuk membuat beberapa santri menegakkan punggung. "Jangan mengukur halal dan haram dari kebiasaan orang lain. Kita punya Al-Qur'an, hadis, dan para ulama." Ia memandang seluruh ruangan, bukan hanya Aji. "Yang haram tidak selalu menunggu penjelasan akal. Ada yang haram semata-mata karena Tuhan memerintahkannya. Tugas kita menaati, bukan memperdebatkan."

Tak ada lagi suara sesudahnya. Yang terdengar hanya desir angin yang menyelinap melalui sela-sela dinding kayu.

Dari pintu surau muncul Adam, santri ndalem yang sehari-hari membantu keluarga kiai. Ia berjalan jongkok melewati barisan santri sebelum berhenti di sisi Gus Afif. "Bapak Kyai memanggil, Gus."

Gus Afif mengangguk. Kitab di hadapannya ditutup, lalu kedua telapak tangannya menangkup.

"Ngaji cukup sampai di sini. Semoga ilmu hari ini menjadi ilmu yang manfaat."

"Amin."

Salam ditutup, para santri mulai bangkit, sementara Gus Afif melangkah keluar menuju halaman pondok yang telah diselimuti cahaya senja.

Lihat selengkapnya